”Pembenahan’’ setelah Asian Games Cabang Olahraga Berkuda

Jakarta, Semarak.news –Asian Games 2018 dari cabang olahraga berkuda nomor Dressage kategori tunggang serasi di Jakarta International Equestrian Park Pulomas (JIEPP), Pulogadung, Jakarta Timur dapat mengumpulkan skor 66.606% atau berada di peringkat ke-4 dari lima negara yang ikut bertanding, senin (20/8/2018).

 

 

 

Berikut hasil yang telah dikumpulkan oleh atlet berkuda Indonesia;

  1. Njoto Dewi Kunti Setiowati dengan kuda bernama Diamon Boy 8 mendapat nilai 64.940%
  2. Dara Ninggar Praweswari dengan kuda bernama Commodore mendapat nilai 65.734%
  3. Allegra Zax dengan kuda bernama Bique-Bique Cedros mendapat nilai 63.175%
  4. Gading dengan kuda bernama Calaiza T mendapat nilai 69.146%

 

Penilaian dilihat dari gerak kuda dengan irama lagu yang diputar. Selain itu dilihat juga cara kuda berhenti, membuat lingkaran kecil, berputar ditempat dan gerakan menyamping.

 

Ketua Umum Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI), Eddy Saddak, mengaku tidak resah dengan prestasi para atletnya di Asian Games 2018. Menurut Eddy, tim berkuda Indonesia sudah mengalami banyak peningkatkan.

“Memang, kalau saya lihat, sudah banyak kemajuan di tim. Jepang yang turun dengan tim Olimpiade saja cuma unggul dua persen dari kami. Artinya, kami sudah sampai di level itu. Tinggal diteruskan apa yang sudah dilakukan sejauh ini. Seperti Ibu Laras (Larasati Gading) yang harus ganti kuda, karena kuda yang biasa dipakai waktu Asian Games 2014 sudah meninggal,” kata Eddy, kepada wartawan.

Ia menambahkan, dengan adanya tiga junior sekarang yang masuk tim elite, dipadukan dengan Ibu Laras, skornya jadi cukup baik. “Ke depannya tinggal dilanjutkan saja,” ucapnya.

Selanjutnya, Eddy membeberkan tentang target-target besar PORDASI ke depannya. Selain akan mencoba meraih medali emas di ajang SEA Games 2019 dan di ajang Asian Games 2022, PORDASI juga akan bekerja sama dengan pemerintah agar Jakarta International Equestrian Park (JIEP) menjadi tempat penyelenggaraan turnamen berkuda dengan skala internasional.

“Equestrian Park ini memang pemiliknya PT Pulomas Jaya. Nah, tinggal nanti kerja sama dengan PORDASI untuk bisa bikin ini jadi tempat event internasional. Tidak perlu sering, mungkin cukup tiga tahun sekali. Sebab, kalau sudah seperti ini, jangan sampai seperti di tempat lain yang selesai games, terus terbengkalai, kan jadi sayang,” ungkapnya.

“Kami juga sudah koordinasi (dengan Federasi Berkuda Asia) karena kebetulan saya wakil presiden di Asia, sehingga nanti bisa ada program-program dari Equestrian Federation yang lewat sini. Kalau sudah begitu, tempat ini akan selalu dipakai untuk pertandingan internasional,” ucap dia.

Selain itu, dirinya menolak jika disebut Indonesia kesulitan untuk membeli kuda. Memang Pordasi saat ini belum punya kuda sendiri. Akan tetapi, Eddy menegaskan bahwa status Indonesia yang sudah masuk anggota G20 sekarang, tidak bakal kesulitan untuk mencari kuda dari luar negeri, meski dalam status sewa.

 

“Indonesia masuk G20, ya tentunya cukuplah untuk beli kuda. Kalau pas tahun 80-an, mungkin sulit. Tapi, kami kan sudah masuk G20. Masa iya, ga bisa beli kuda? Tapi, memang untuk sementara sewa. Habis ini, kami mau beli atau bagaimana tergantung ke depannya. Nanti tinggal deal sama yang punyanya saja,” ujar Eddy. (MT) 

TINGGALKAN BALASAN