PCNU : Jangan Gegabah dan Tabayyun Menyikapi Polemik Puisi Sukmawati

SEMARAKNEWS, Blitar – Ketua PCNU Kota Blitar, Dr. Habib Bawafi MH menyarankan seluruh pihak agar jangan gegabah dan tabayyun sebelum berkomentar atau bertindak menyikapi pemberitaan tentang puisi “Ibu Indonesia” yang dibacakan oleh Sukmawati Soekarnoputri, Selasa (3/4).

Untuk saat ini PCNU belum akan bertindak menyikapi polemik isu puisi Bu Sukmawati. Sebagai suatu organisasi yang struktrural NU memiliki prinsip satu komando, dimana sikap yang disampaikan oleh PWNU Jatim juga merupakan sikap Pengurus Cabang di Kab/Kota. Jika semua bergerak sendiri-sendiri polemik tersebut tidak akan selesai sebaliknya justru menimbulkan masalah baru, Jelas Habib.

Menyikapi polemik tersebut Ketua PWNU Jatim, KH Mutawakkil telah melayangkan surat kepada Polda Jatim. Surat bernomor 1951/PW/A.II/IV/L/2018 tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua PWNU Jatim KH. Hasan Mutawakkil Alallah, Sekretaris, Rais Suriah, dan Khatib PWNU Jatim.

Melalui surat tersebut, PWNU meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kebenaran dan/atau pembacaan puisi oleh Sukmawati tersebut agar tidak menimbulkan keresahan berkepanjangan di tengah masyarakat.
Selain itu, PWNU Jatim telah mengeluarkan pernyataan sikap yang isinya:

1. Menyatakan bahwa substansi puisi yang dibacakan oleh Sukmawati berpotensi mengancam kebersamaan warga dan bangsa Indonesia yang lama terbangun dalam kerukunan, kedamaian, dan ketenangan.

2. Mendorong aparat keamanan untuk mengusut tuntas kebenaran dan/atau pembacaan puisi oleh Sukmawati diatas agar tidak menimbulkan keresahan berkepanjangan di tengah masyarakat.

3. Menghimbau seluruh komponen warga masyarakat untuk tetap menjaga ketertiban, ketenangan dan keteduhan di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sebelumnya pada acara “29 Tahun Anne Avantie Berkarya Indonesia Fashion Week 2018”, anak Ke-4 Presiden Soekarno dari Ibu Fatmawati tersebut membacakan puisi yang akhirnya menimbulkan polemik di masyarakat, Kamis (29/3).

Puisi tersebut kemudian menuai respon dari beberapa tokoh yang menilainya sebagai bentuk pelecehan salah satunya disampaikan oleh seorang pengacara bernama Denny Adrian Kushidayat saat melaporkan Sukmawati ke Polda Metro Jaya bersama politisi Partai Hanura, Amron Asyhari . “Kalimat pembuka itu syariat Islam disandingkan dengan sari konde, itu enggak pantas. Kalau saya harus jujur dia lebih parah dari Ahok,” ujar Denny di Markas Polda Metro Jaya, Selasa (3/4). (HN)

TINGGALKAN BALASAN