Jakarta-Semarak.news, Setelah penampilan teater dari Jogja dan Bandung yang mementaskan penampilannya di Helateater Salihara 2019, akhir pekan kemarin giliran Padepokan Seni Madura yang mementaskan penampilan karya adaptasinya di Teater Salihara. Mengadaptasi naskah Pagi Bening terjemahan Sapardi Djoko Damono dari naskah A Sunny Morning karya Serafín dan Joaquin Álvarez Quintero, Padepokan Seni Madura membawa suasana panggung ke suasana Madura yang sangat khas.

Padepokan Seni Madura mengadaptasi naskah asal Spanyol tersebut ke sebuah desa di Sumenep, Madura. Melalui sastra lisan yang khas, kelompok ini mengangkat masalah budaya agraris dan budaya patriarki yang membelenggu perempuan.

Nyai Masbiah dan Kae Maskat yang dulunya pernah menjalin asmara, bertemu kembali tanpa sengaja di sebuah pertunjukan musik tong-tong di dusun Balowar, Madura. Dalam iringan musik itu, selain mengungkapkan kenangan asmara masing-masing, Nyai Masbian dan Kae Maskat juga saling berbalas pantun yang khas masyarakat madura.

Penampilan Nyai Masbiah dan Kae Maskat diperankan dengan sangat baik oleh Lailatus Siyamu dan Prasta Aditya. Sang sutradara, Anwari sengaja membuat penampilan teater ini terasa khas dengan menonjolkan kedua tokoh utama yang dominan melakukan dialog khas Madura tanpa terlalu diselingi oleh para tokoh pembantu. Konsep ini pun berhasil dijawab oleh penampilan dua tokoh utama yang kuat dalam membawakan peran dua kakek nenek yang kembali bertemu setelah berapa puluh tahun berpisah.

Selanjutnya, Teater Pintu (Jakarta) yang mendapat giliran untuk mementaskan teater adaptasi berjudul Penjaga Rumah. Pementasan akan dilakukan pada 9 dan 10 April 2019, pukul 20.00 WIB. Informasi selengkapnya hubungi: www.salihara.org. [DK]

LEAVE A REPLY