Pengusaha Sentuh Tanah Adat, SAMURAI Turun Tangan

0
54

Ternate, Semarak.news – Solidaritas Aksi Mahasiswa Untuk Rakyat Indonesia (SAMURAI) Kota Ternate melakukan aksi unjuk rasa dengan berjalan kaki yang dimulai dari depan Kantor RRI Ternate dan berakhir di Landmark Ternate. Aksi unjuk rasa ini merupakan bentuk protes terhadap pemerintah dan PT. IWIP (Indonesia Weda Bay Industrial Park) karena dinilai telah melanggar keputusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU/10/2019 tentang pengakuan dan perlindungan hak-hak masyarakat adat, bahwa tanah adat bukan lagi tanah negara. Melainkan tanah milik warga setempat yang seharusnya dijaga dan dilindungi dari campur tangan pengusaha asing.

Dalam aksinya, mereka menuntut pemerintah agar menghentikan segala bentuk aktivitas pertambangan yang dilakukan oleh PT. IWIP di wilayah Halmahera Tengah yang dinilai sudah melanggar aturan. “Kami mendesak pemerintah dan menginginkan PT. IWIP untuk angkat kaki dari Maluku Utara. Perusahaan ini telah melanggar 3 peraturan pemerintah pusat dan internasional. Kami akan terus memperjuangkan hak-hak masyarakat adat disini, kami tidak akan tinggal diam,” tutur Moge, selaku peserta aksi.

PT. IWIP dinilai telah melanggar 3 peraturan, diantaranya Konvensi ILO tahun 1989 (No. 169) mengenai hukum adat, Keputusan MK dan deklarasi PBB tentang hak-hak masyarakat adat. Selain melanggar aturan, PT. IWIP juga telah mekakukan kerusakan hutan di Desa Sawai untuk pembangunan bahu jalan tanpa seizin dari masyarakat setempat.

“Kami akan memperjuangkan hak-hak masyarakat adat yang salah satunya adalah tanah adat milik Tobelo Dalam Akejira. Mereka merupakan suku asli Maluku Utara. Apabila tanah adat mereka diganggu, hilang harga diri kami. Sudah jelas tanah itu tanah adat, bukan tanah negara,” ujar Moge dalam orasinya.

Diketahui, tanah adat yang tersisa di Halmahera Tengah hanya tersisa milik Tobelo Dalam Akejira yang merupakan penghuni asli. Mereka menginginkan PT. IWIP taat kepada hukum yang berlaku, tidak memutuskan secara sepihak karena tanah yang telah dibangun bahu jalan merupakan tanah adat. “Salam Demokrasi!” (laz)

LEAVE A REPLY