Kayuh Sepada dari Sumatera ke Papua, Edi Ismunir Berhasil Penuhi Cita-Citanya Bagikan...

Kayuh Sepada dari Sumatera ke Papua, Edi Ismunir Berhasil Penuhi Cita-Citanya Bagikan Buku Gratis

0
24
Foto: Akrom Hazami/detikcom

Sorong, Semarak.News – Edi Ismunir (54) pria asal Lahat, Sumatera Selatan berkeliling Indonesia mengunakan sepeda onthel. Edi sapaan akrabnya itu memiliki motivasi yang kuat untuk membuka ruang baca bagi anak-anak Indonesia bagian timur.

Menggunakan sepeda onthelnya ia berkeliling dari di Lahat Sumsel hingga ke Raja Ampat, Papua hingga kembali lagi ke kampung halamannya.

Perjalanannya kini telah sampai ke Kudus, Jawa Tengah. Edi juga sempat datang ke Yogyakarta pas acara Jogja Republik Onthel (JRO) 2019 yang berlangsung di Benteng Vrederburg pada tanggal 10 November kemarin.

Hari ini dia sampai di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Senin (25/11/2019). Dia menyempatkan diri singgah di Menara Kudus, serta ke Masjid Al Aqsha Menara. Lantaran penasaran dengan bangunan ikonik itu. Hal itu juga menjadi obat sejenak atas letihnya mengayuh sepeda berbulan-bulan dengan jarak ribuan kilometer.

“Saya sampai di Kudus tadi setelah mengayuh sepeda dari Sluke, Rembang. Dari Kudus terus mau ke Tanjung Mas Semarang. Untuk perjalanan laut ke Lampung,” kata Edi ditemui sedang beristirahat di depan kompleks pertokoan di depan Menara Kudus, Senin siang.

Pria asal Desa SP 4 Purwaraja, Kecamatan Kikim Timur, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan ini memang sengaja ke Menara Kudus. Sebab, dari informasi yang diterima sebelumnya, Menara Kudus selalu ramai dikunjungi. Ia membuktikan sendiri, ternyata benar.

Edi Ismunir
Edi Ismunir Foto: Akrom Hazami/detikcom

“Memang ramai ternyata Menara Kudus ini,” terang dia yang mengagumi bangunan Menara Kudus.

Dia sendiri memang tengah melakukan perjalanan panjang dengan menggunakan sepeda tuanya. Hanya satu keinginan mulianya, yakni membagikan buku bekas layak baca sebanyak 2.500 eksemplar. Buku tersebut dibagikan kepada warga di 22 desa di Sorong, Papua.

“Mereka yang menerima buku, asli orang dalam (warga asli sana). 2.500 buku bekas saya bagikan, gratis. Senang sekali mereka menerimanya,” ujarnya.

Dia memperkirakan berapapun jumlah buku yang didonasikan ke warga di Sorong, pasti akan diterima. Dia melihat, tidak sedikit warga terutama anak usia sekolah dasar yang belum bisa membaca aksara.

“Meski ABC tidak sampai Z mereka hapalnya, tapi mereka antusias sekali ingin bisa membaca buku,” terang dia.

Untuk bisa ke lokasi pembagian buku, dia dengan sepedanya harus rela menembus medan pegunungan. Dengan satu-satunya alat transportasi adalah perahu. Beruntung, dia mendapat sambutan hangat warga. Bahkan ada tiga orang warga yang rela membantunya membagikan buku. Dia mengaku puas tak ternilai usai bisa membantu warga kendati harus menempuh perjalanan yang jauh.

Disinggung kenapa dia melakukan perjalanan nekat dengan sepeda hanya demi bisa membagikan buku kepada warga di Raja Ampat?

“Cita-cita saya memang harus bisa membantu warga yang tidak bisa membaca, tidak bisa beli buku, agar bisa membaca,” ungkap pria lulusan SMA di Lahat ini.

Maka tidak heran jika selama mengayuh sepeda dia tak menyerah meski mendapat halangan. Dia membeberkan beberapa kejadian tak enak dialaminya. Seperti pernah dibegal saat mengayuh sepeda saat tiba di Lampung.

Edi Ismunir pesepeda keliling Indonesia
Edi Ismunir pesepeda keliling Indonesia Foto: Akrom Hazami/detikcom

“Jam 09.00 pagi saya mengayuh sepeda sampai di Mesuji Lampung. Dari belakang saya dipukul kayu, kemudian ditodong pisau. Ada empat orang warga menodong saya. Akhirnya uang bekal dari anggota komunitas ontel Rp 500 ribu untuk bekal saya dirampas mereka,” ujarnya.

Ada lagi saat dia tiba di perbatasan Gresik dan Surabaya Jawa Timur, dia juga sempat diusir oleh petugas salah satu SPBU. Petugas mengusirnya setelah dia kedapatan ingin istirahat sebentar.

“Diusir saat istirahat di SPBU di perbatasan Gresik dan Surabaya,” ungkap Edi.

Bahkan, di Lamongan, dia mendapat perlakukan persekusi dari sejumlah siswa sekolah.

“Saya diejek dan disebut ‘orang gila, orang gila, orang gila, sampai sepanjang jalan kira-kira 5 kilometer,” kenangnya.

Seingatnya, dia berangkat dari Lahat ke Raja Ampat pada Juli 2019. Sampai di Raja Ampat akhir September 2019. Baru pada awal November dia pulang dari Raja Ampat. Baru hari ini dia sampai di Kudus.

“Nanti saya lanjutkan ke Semarang untuk naik kapal di Tanjung Emas Semarang, menuju Lampung. Perjalanan laut tinggal sekali. Lainnya perjalanan darat pakai sepeda,” imbuh dia.

Disingung saat ini ada berapa uang yang jadi bekalnya untuk perjalanan? Dari saku kausnya, dikeluarkan uang total Rp 8.500.

“Hanya ini uang saya untuk bekal perjalanan. Saya sudah bawa mi instan 1 bungkus, air mineral 4 botol, cukuplah,” beber dia.

“Di jalan banyak orang baik, kadang saya diberi pakaian, makanan, sandal, dan lainnya. Ya pas saat istirahat salat misalnya. Saya pastikan begitu masuk waktu salat, saya berhenti, untuk salat dan istirahat sebentar. Salat 5 waktu insya Allah saya lakukan. Adem, kena wudu, hati tenang,” pungkas ayah tiga anak ini.

Sumber: https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4797527/demi-buka-ruang-baca-edi-bersepeda-dari-lahat-hingga-papua?single=1

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY