Sorong, Semarak.News – Tujuan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarin soal terapan metode kurikulum Kampus Merdeka menuju Merdeka belajar sejalan dan berbanding lurus dengan Visi Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah (UM) Sorong.

Hal ini disampaikan Rektor UM Sorong, Dr. H. Muhammad Ali, MM.,MH saat memberi sambutan dalam acara Workshop terapan kurikulum Kampus Merdeka, Merdeka Belajar melalui sambungan virtual, belum lama ini.

Rektor katakan Kampus Merdeka atau Merdeka belajar bertujuan untuk memproses mahasiswa menjadi generasi yang unggul, kreatif, mandiri, dan inovasi, maka bisa dikatakan searah dengan Visi UM Sorong untuk menjadi Universitas yang Unggul dalam IPTEK dan IMTAQ yang berkemajuan.

“Kalau kita lihat dari kampus medeka ini, adalah bagaimana memproses mahasiswa menjadi genarasi yang unggul dan kreatif, mandiri, inovasi. Maka kalau dijabarkan, sangat relevan dengan visi UM Sorong,” ujar Muhammad Ali.

Maka itu, kata dia, kebijakan Menteri Pendidikan RI ini,  perlu disambut baik dengan semaksimal mungkin, sebab  perguruan tinggi yang tidak mengikuti dinamika dan perkembangan jaman akan tergilas dengan sendirinya. “Merdeka disini maksudnya, perguruan tinggi bisa  membawa mahasiswa pada dunia yang terbuka, sehingga diharapkan mahasiswa bisa melihat diluar, dimana dia berada atau dia bekerja,”papar Muhammad Ali.

DR.-Muhammad-Ali-MM.-MH
DR. Muhammad Ali.,MM.,MH

Tentu kebijakan ini, sambung dia, harus dapat diupayakan semaksimal mungkin untuk diterapkan dan dapat diaplikasikan, sehingga bisa membuat tradisi belajar yang baru, atau kebijakan kampus merdeka ini, bisa mendekati substansial dari tujuan proses belajar itu sendiri. Rektor lalu menguraikan, dalam kebijakan kampus merdeka, mahasiswa akan belajar regular bertatap muka dalam ruangan seperti yang kita lakukan selama ini. Kemudian satu semester, mahasiswa itu, kuliah di luar program studi , tetapi masih dalam universitas yang sama. Lalu , sambung rektor lagi, dua semester , mahasiswa belajar diluar program studi dan berada di luar universitas. “Jadi bila  kita hitung-hitung berartikan 8 semester. Dengan angka itu, maka idealnya mahasiswa kita itu selesai studi 8 semester,” kata Muhammad Ali memaparkan.

Kemudian dalam kebijakan kampus merdeka ini, lanjut dia, ada satu hal yang sangat menarik, yakni mahasiswa dapat memilih program magang sesuai keinginan mahasiswa itu sendiri. “Jadi misalnya ada yang mau magang di dunia industry atau usaha atau di dunia social dan lingkungan masyarakat.  Seandainya seperti memang seperti itu, saya sangat setuju. Jadi mahasiswa bukan hanya mengenal dimana lingkungan dia berada, mahasiswa itu juga bisa mengenal dunia luar, sehingga begitu selesai mahasiswa itu, tidak lagi cangung ketika harus membaca dunia kerja yang akan digelutinya, karena mahasiswa itu sudah mengenalnya,” kata Muhammad Ali.

Rektor berharap UM Sorong dapat menjadi kampus pertama di Papua dan Papua Barat yang pertama kali mempopulerkan kampus merdeka. “Kita hanya bisa meraih tujuan kampus merdeka ini, kalau kita semua dosen, staf atau apa pun posisi di kampus saling mendukung satu dengan lainnya. Kita semua harus selalu mengedepankan rasionalitas dan kebersamaan , karena begitulah di Muhammadiyah. Kita harus berani mengatakan Kami lah yang siap bersatu padu melaksanakan program yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan Muhammadiyah yang telah ditetapkan dalam statuta UM Sorong”.

Rektor pun mengajak,”Mari kita besarkan UM Sorong dan kita juga ikut besar di dalamnya. UM Sorong jaya ,kita juga jaya, UM Sorong makmur kita juga makmur. Semua harus seiring sejalan, kalau Universitas Muhammadiyah lain bisa maju, kenapa kita tidak, kalau perguruan tinggi lain di Indonesia, bisa maju kenapa kita tidak bisa maju. Saya berharap semasa periode kepemimpinan saya ini, ada dosen UM Sorong yang bisa jadi guru besar”.

Sumber: https://papuabaratpos.com/kampus-yang-tidak-bisa-ikuti-perkembangan-akan-tergilas/

LEAVE A REPLY