Anggota DPD RI Asal Papua Barat Sosialisasikan Empat Pilar

Anggota DPD RI Asal Papua Barat Sosialisasikan Empat Pilar

0
34

Sorong, Semarak.News – M. Sanusi Rahaningmas, S.Sos., M.MSip, anggota DPD-RI asal Papua Bqrat, mendatangi Kota Sorong guna mensosialisasikan Empat Pilar, kepada ratusan siswa-siswi MAN Model Kota Sorong, Sabtu (23/11), di Aula MAN Model Kota Sorong.

Dalam sosialisasinya, Sanusi memaparkan tentang Pancasila sebagai dasar ideologi negara, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 sebagai konstitusi negara, serta ketetapan MPR RI, NKRI sebagai bentuk negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Dalam pemaparannya, legislator Papua Barat ini menjelaskan tentang dasar hukum sosialisasi Empat Pilar MPR-RI. Kata dia, Undang-undang nomor 17 tahun 2014 Jo Undang-undang nomor 42 tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD, pasal 5 huruf a dan b dan pasal 11 huruf c.

Selain itu, kata Sanusi, peraturan MPR-RI nomor 1 tahun 2014 tentang tata tertib MPR-RI, pasal 6 huruf a dan b, serta pasal 13 huruf c, serta INPRES nomor 6 tahun 2005 tentang dukungan kelancaran sosialisasi UUD tahun 1945 yang dilakukan oleh MPR, yang berujung pada tugas dan kewajiban anggota MPR-RI untuk memasyarakatkan Empat Pilar MPR-RI.

Sanusi menjelaskan, tentang tantangan kebangsaan menurut TAP MPR nomor VI tahun 2001, tentang etika kehidupan berbangsa. Masih lemahnya penghayatan dan pengalaman agama, serta munculnya pemahaman terhadap ajaran agama yang keliru dan sempit, ikut dijabarkan Sanusi.

“Pengabaian terhadap kepentingan daerah, timbulnya fanatisme kedaerahan, kurang berkembangnya pemahaman dan penghargaan atas kebhinekaan dan kejemukan, kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku sebagai pemimpin dan tokoh bangsa, serta tidak berjalannya penegakan hukum secara optimal, menjadi tqntangan internal di Indonesia saat ini,”jelas Sanusi.

Sementara tantangan kebangsaan atau ekspresi menurut TAP MPR nomor VI tahun 2001 tentang etika kehidupan berbangsa, lanjut Sanusi, adalah pengaruh globalisasi kehidupan yang semakin meluas dan persaingan antar bangsa yang semakin tajam, serta semakin kuatnya intervensi kekuatan global dalam perumusan kebijakan nasioan, masih merongrong sampai saat ini.

“Dasar dan ideologi negara ini adalah Pancasila, yang merupakan pandangan hidup dan Filosofische Grondslag, yaitu sebagai fondamen, filsafat, pikiran yang mendalam sebagai pemersatu bangsa,”terang Sanusi.

Sementara Undang-undang Dasar negara Republik Indonesia tahun 1945, lanjut Sanusi, mengatur tentang 4 hal penting. Pertama, kata Sanusi, prinsip kedaulatan rakyat dan negara hukum, kedua pembatasan kekuasaan organ-organ negara, ketiga mengatur hubungan antar lembaga-lembaga negara dan keempat mengatur hubungan kekuasaan antar lembaga-lembaga negara dengan warga negara.

“Sementara pilihan bentuk negara, terurai dalam sidang BPUPKI yang membahas rancangan Undang-undang dasar, mengenai pilihan bentuk negara. Ada anggota yang mengusulkan bentuk negara kesatuan dan ada yang mengusulkan negara bentuk serikat atau federalisme. Dari risalah sidang BPUPKI tercatat ada 17 orang yang mengusulkan negara kesatuan dan ada 4 orang yang mengusulkan negara federal,” terang Sanusi.

Mengenai Bhinneka Tunggal Ika, Sanusi melanjutkan, istilah ini ditulis oleh Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma yang terjemahan istilahnya berbunyi, bahwa agama Budha dan Siwa (Hindu), merupakan zat yang berbeda, tapi nilai-nilai kebenaran Jina (Budha) dan Siwa (Hindu) adalah tunggal.

“Terpecah belah tetapi satu jua, artinya tidak ada dharma yang mendua. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika, mulai menjadi pembicaraan terbatas pada sidang-sidang BPUPKI antara Muhammad Yamin, Ir. Soekarno, I Bagus Sugriwa, sekitar dua setengah bulan sebelum proklamasi,”jelasnya.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika, sambungnya, diusulkan oleh Muhammad Yamin kepada Ir. Soekarno, agar dijadikan semboyan negara.

“Pengertian Bhinneka Tunggal Ika, adalah berbeda-beda tetapi satu jua. Bhineka Tunggal Ika, oleh pendiri bangsa diberikan penafsiran baru, karena dinilai relevan dengan keperluan strategis bangsa Indonesia, yang memiliki makna, walaupun di Indonesia terdapat banyak suku, agama, ras, budaya, adat, bangsa, dan lain sebagainya, namun tetap satu kesatuan sebangsa dan setanah air,” tuntas Sanusi.

Pantauan media ini, dalam sosialisasi ini dibuka ruang tanya jawab. Tiga siswi MAN Model Sorong, maju menanyakan 3 pertanyaan yang sangat mengagumkan, dimana mereka dengan cekatan menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan kemajuan negara, yang bertentangan dengan empat pilar. Usai sosialisasi, para peserta mendapatkan serifikat sebagai peserta sosialisasi Empat Pilar.

Sumber: https://papuabaratpos.com/anggota-dpd-ri-asal-papua-barat-sosialisasikan-empat-pilar/

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY