Mahasiswa Suara USU Menggugat

0
39

Medan,Semarak.News – Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan kembali mengelar persidangan, Rabu (30/10) dengan Nomor 202/G/2019/PTUN-MDN tentang gugatan Pers Mahasiswa SUARA USU atas surat keputusan rektor Universitas Sumatera Utara (USU) nomor 1319/UN5.1.R/SK/KMS/2019. SK tersebut berisi tentang pemecatan seluruh anggota pers mahasiswa SUARA USU karena telah mengeluarkan cerpen berjudul Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya.
Sidang ke 10 ini memiliki agenda simpulan. Tiap-tiap kuasa hukum memberikan simpulan dari persidangan yang telah digelar sejak juli lalu. Kuasa Hukum SUARA USU, Badan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat Sumatera Utara (Bakumsu) memberikan simpulannya. Sedangkan pihak tergugat menunda penyerahan simpulannya hingga Senin nanti.
“di simpulan ini kita merangkum semua yang udah dibuktikan selama beberapa bulan, dari bukti surat dan para ahli,” ujar Roy Marsen Simarmata, Salah satu kuasa hukum SUARA USU.
Sebelumnya SUARA USU mengajukan 13 bukti surat dan Novelis Okky Puspa Madasari sebagai ahli sastra dan ahli Dewan Pers Wina Armada Sukardi sebagai ahli pers pada 10 Oktober. Sedangkan komisioner Komnas HAM Jhoni Nelson Simanjuntak sebagai ahli HAM pada 23 Oktober.
Sedangkaan USU telah mengajukan Wakil Ketua Unit Jurnalistik USU Muhammad Rusli Harahap sebagai saksi fakta pada 25 September. Selain saksi fakta USU juga mengajukan Dosen Sastra Indonesia USU Haris Sutan Lubis sebagai ahli di bidang sastra pada 16 Oktober. Namun saksi ini ditolak kesaksiannya oleh kuasa hukum SUARA USU karena terikat relasi kuasa dengan Rektor USU yang dapat mempengaruhi keindepenannya. Kuasa hukum SUARA USU, penggugat, dan semua pendukung SUARA USU walk out ketika dosen tersebut memberikan kesaksiannya.
Sebagai bentuk pengawalan sidang Solidaritas Mahasiswa Bersuara (Somber) melakukan aksi di depan PTUN Medan. Aksi berupa cat wajah dengan ekspresi sedih sebagai lambang matinya demokrasi di dunia pendidikan. Somber mengajukan tuntutan agar hakim Membatalkan SK rektor Nomor 1319 dan mewujudkan kebebasan berekspresi dalam dunia pendidikan. Somber juga menyerukan agar Otoritarian tidak boleh masuk kampus, Lawan kesewenang-wenangan di dalam kampus, Junjung tinggi kebebasan berekspresi, dan Tolak NKK/BKK.
Yael Stefaani Sinaga, Pemimpi Umum SUARA USU mengatakan optimis dapat memenangkan persidangan ini. Setelah melihat berlangsungnya proses persidangan dan mendengar pendapat para ahli. “Harapannya hakim dapat memberikan keputussan yang seadil-adilnya,” ujarnya.
Persidangan ditunda hingga Kamis, 14 November pukul 09.00 WIB dengan agenda pembacaan Putusan. (S)

LEAVE A REPLY