Tersangka Makar Papua Bertambah Jadi 34 Orang

Tersangka Makar Papua Bertambah Jadi 34 Orang

0
5
Warga melintasi penjagaan prajurit TNI dan Polri di Wamena, Papua, Sabtu (30/11). Personel TNI dan Polri meningkatkan patroli di beberapa lokasi yang dianggap rawan untuk menjaga stabilitas keamananan di Wamena.
Warga melintasi penjagaan prajurit TNI dan Polri di Wamena, Papua, Sabtu (30/11). Personel TNI dan Polri meningkatkan patroli di beberapa lokasi yang dianggap rawan untuk menjaga stabilitas keamananan di Wamena.

Sorong, Semarak.News – Polisi telah menetapkan 34 warga Papua sebagai tersangka pidana makar sejak aksi demonstrasi yang dipicu oleh ucapan rasial di Surabaya, Agustus silam, sampai peringatan kebangkitan hari lahir Papua pada 1 Desember lalu.

Tak terima ditangkap, kuasa hukum tersangka menilai langkah tersebut sebagai ‘obral pasal makar’ bagi warga Papua yang menyuarakan referendum, padahal kepolisian telah mengantongi bukti-bukti.

Di antara mereka yang dikenai pasal makar adalah 20 orang yang disebut simpatisan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang ditangkap sehubungan dengan peringatan 1 Desember pada hari Minggu lalu.

Dari 34 orang yang ditangkap, 20 ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Jayapura, sedangkan 14 orang lainnya dibebaskan karena tidak cukup bukti.

Polisi menangkap mereka di pertigaan lampu merah Bandara Sentani saat hendak menuju ke Lapangan Trikora untuk melaksanakan upacara peringatan kebangkitan hari lahir Papua.

“Jadi dari 34 itu, 14 dipulangkan karena tidak cukup bukti. Kemudian 20 orang membawa senjata tajam, menggunakan atribut-atribut yang digunakan untuk melakukan kegiatan makar dalam rangka 1 Desember. Jadi yang 20, kita proses dulu,” kata Kapolres Jayapura AKBP Victor Dean Mackbon saat dihubungi BBC Indonesia, Senin (02/12).

Victor menambahkan polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa senjata tajam seperti pisau, parang, lambang bintang kejora, dan kartu anggota TPNPB dari tangan para tersangka.

Saat ditanya alasan penggunaan pasal makar, Victor menegaskan polisi telah memiliki bukti yang cukup dan akan berkomunikasi dengan jaksa penuntut umum dalam pembuktian.

‘Dituding obral makar’

Langkah kepolisian tersebut, menurut kuasa hukum dari 20 tersangka yang ditangkap pada akhir pekan, Gustaf Kawer sebagai bentuk obral makar dan langkah represif aparat keamanan dalam merespons aksi-aksi prodemokrasi Papua.

“Saya pikir polisi terlalu mudah obral makar karena dalam penggunaan pasal makar di Papua terlalu cepat polisi menangkap masyarakat dan aktivitas yang hendak demo, ibadah. Sedangkan di daerah lain, seperti Aceh, Jakarta yang ada indikasi makar yang lebih kuat, bebas begitu saja dan tidak serius ditanggapi,” katanya saat dihubungi.

Padahal, lanjut Gustaf, belum ada tindakan penyerangan yang dilakukan oleh para tersangka makar di Jayapura, dan juga beberapa tersangka makar lainnya di lokasi berbeda.

“Penetapan tersangka terlalu prematur. Kelompok itu (Jayapura) hendak ibadah syukuran di lapangan Trikora yang sebenarnya tidak jadi, tidak jadi dilaksanakan. Sekarang pertanyaan makarnya di mana? Terus kemudian ada senjata tajam, mereka ini dari daerah jauh, orang biasa bawa alat untuk jaga diri,” katanya.

Sumber: BBC

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY