Semarak.News – Asap Tebal kembali menyelimuti wilayah Kalimantan Barat dan sekitarnya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin meluas. Bahkan, sejumlah penerbangan berangkat dan menuju Bandara Supadio, Kota Pontianak ditutup. Sebelumnya, aktivitas penerbangan di Bandara Supadio juga sempat ditunda bahkan dibatalkan pada 9 September 2019.

 

Hingga siang ini, masih belum ada kabar lanjutan dari pihak bandara terkait jadwal penerbangan yang tertunda.

 

Seluruh penerbangan dari dan menuju Bandara Supadio terlihat lumpuh sehingga penerbangan perlu dialihkan menuju Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (Balikpapan) dan sebagian menuju Hang Nadim (Batam).

 

Pontianakpost menyebutkan bahwa jarak pandang di Kalimantan Barat cukup pendek hingga dibawah batas operasional take off dan landing pesawat. Tak hanya di Bandara Supadio, hal yang sama juga terjadi di Bandara Rahadi Oesman Ketapang, Bandara Tebelian Sintang, dan Bandara Pangsuma Putussibau.

 

Diperkirakan kondisi seperti ini masih akan berlangsung hingga 6 hari kedepan. Ditinjau dari analisis parameter, cuaca hujan diperkirakan baru akan turun di sebagian wilayah Kalimantan Barat pada 20 September 2019 mulai siang hingga malam hari.

 

Selanjutnya, pantauan kualitas udara siang hari ini berdasarkan data PM10 di Stasiun Klimatologi Mempawah (di Jungkat, Kec. Siantan) menunjukkan kriteria SANGAT TIDAK SEHAT. Namun peringkat pertama disandang oleh Sampit dengan tingkat kualitas udara berbahaya, disusul wilayah Pontianak, Pekanbaru, Jambi, Cibeureum, dan Palembang.

 

Kapolresta Pontianak Kota bersama anggota langsung terjun melaksanakan peninjauan lokasi lahan yang terbakar di daerah Rasau Jaya, sekaligus memberikan himbauan kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran.

 

Hingga muncul Surat Untuk Presiden yang berisi:

Assalamualaikum Wr. Wb. Yang terhormat, Bapak Presiden Negara Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo ditempat. Dengan terciptanya surat ini, saya ingin memberitahukan bahwa kondisi Kalimantan Barat kurang membaik pak. Dimana kebakaran hutan semakin meluas sehingga mengakibatkan kabut asap yang begitu kental. Semoga ada langkah – langkah baik dari bapak. Karena hal ini sangat membahayakan bagi masyarakat yang melakukan aktivitas pak. Kami disini memaksakan diri untuk menghirup udara yang sedang tidak baik ini. Kepada siapa kami harus mengadu? Apakah harus mengadu kepada relawan – relawan kebakaran yang bekerja dengan ikhlas, tanpa gaji, bertaruh nyawa meninggalkan anak istri. Haruskah demikiankah pak? Surat ini saya sampaikan, bila ada kata yang kurang berkenan tolong dimaafkan. (Kalbar, 13 September 2019). Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

Sebelumnya, keterangan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menyatakan bahwa mereka telah meliburkan sekolah SMA dan SMK sederajat dari tanggal 12 – 14 September 2019 akibat kuualitas udara yang buruk dan semakjn tebal. Hal itu ditunjukkan dengan surat edaran Gubernur Kalbar nomor 421/2809/Dikbud yang ditandatangani oleh Gubernur Kalbar, Sutarmidji.

 

Adapun isi surat edaran tersebut antara lain, berbunyi:

 

Memperhatikan semakin kurang baiknya kondisi udara akibat pencemaran kabut asap yang dialami oleh sebagian besar masyarakat di wilayah provinsi Kalbar, dengan kategori Sangat Tidak Sehat dan diprediksi dalam waktu tiga hari ke depan dalam menunjukkan kondisi udara yang baik, maka provinsi Kalbar mulai tanggal 12 sampai 14 September meliburkan kegiatan belajar mengajar disatuan pendidikan jenjang SMA/SMK dan SLB di lingkungan Dinas pendidikan dan Kebudayaan Kalbar yang terkena dampak dari kabut asap tersebut dan masuk kembali seperti biasa pada tanggal 16 September 2019.

 

Sehubungan dengan diliburkannya satuan pendidikan diatas, diharapkan kepada kepala SMA/SMK/SLB untuk menyampaikan kepada orang tua/masyarakat agar tidak dapat memaksimalkan putra/putrinya untuk belajar mandiri di rumah serta mengurangi aktivitas di luar rumah yang dikhawatirkan akan menganggu dan membahayakan kesehatan fisiknya.

 

Bagi SMA/SMK/SLB di kabupaten/kota yang kondisi udaranya dianggap baik agar tetap melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar seperti biasa.

 

Selanjutnya, telah ditelusuri bahwa penyebab dari adanya kebakaran hutan ini ialah para korporasi perusahaan berasal dari Malaysia dan Singapura yang terdiri dari 4 perusahaan berlokasi di Kalimantan Barat, sementara 1 perusahaan di Riau (keterangan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar di Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat).

 

Keempat perusahaan yang disegel tersebut diantaranya PT Hutan Ketapang Industri (Singapura) di Ketapang, PT Sime Indo Agro (Malaysia) di Sanggau, PT Sukses Karya Sawit (Malaysia) di ketapang, dan PT Rafi Kamajaya Abadi di Melawi.

 

Selain 4 perusahaan asing yang disegel oleh KLHK di Kalimatan Barat, satu perusahaan asal Malaysia juga disegel di Riau.

 

Maka dari itu, perlu adanya koordinasi yang sinergis antara pihak terkait seperti KLHK, BNPB, TNI – POLRI, Polisi Udara, Polisi Hutan, dan instansi lainnya dengan masyarakat untuk mencegah keberlanjutan peristiwa kebakaran hutan yang dapat menghambat dan merugikan aktivitas semua pihak.

 

Pontianak, Kalimantan Barat

LEAVE A REPLY