Menjaga Waduk Sepat Sebagai Identitas Surabaya

Surabaya – Warga sekitar Waduk Sepat Kelurahan Lidah Kulon Surabaya yang menggelar pemutaran film “Waduk Sepat” pada Sabtu 28 April 2018, sebagai aksi untuk mengkampanyekan aksi selamatkan Waduk Sepat. film dibuat dengan bekerjasama beberapa LSM lingkungan seperti WALHI Jatim, LPBP, dll. Namun film sengaja dibuat dengan bentuk semi dokumenter sehingga dapat menggambarkan secara nyata sejarah dan perjalanan Waduk Sepat hingga saat ini.

Film menceritakan tentang sejarah Waduk Sepat pada masa penjajahan Belanda yang dipakai untuk tempat berlindung para masyarakat dari para penjajah serta berfungsi sebagai sistem pengairan, seperti untuk mengairi persawahan dan mengatasi banjir. kedekatan dan keterikatan  Waduk Sepat yang sangat dekat ini terhadap masyarakat sekitar seolah dihancurkan dengan tindakan pembangunan di sekitar Waduk Sepat yang telah di pagari dengan tembok yang menjulang tinggi dengan klaim bahwa Waduk Sepat tersebut adalah hak milik PT. Ciputra Surya, Tbk. dengan dalih bahwa itu merupakan tanah pekarangan.

Konflik ini berawal dari surat Keputusan Walikota Surabaya No. 188.45/366/436.1.2/2008 yang melepaskan tanah tersebut kepada PT. Ciputra Surya, Tbk sebagai bagian dari obyek tukar guling antara Pemerintah Kota Surabaya dan PT. Ciputra Surya, Tbk berdasarkan perjanjian bersama nomor 593/2423/436.3.2/2009 dan nomor 031/SY/sm/LAND-CPS/VI-09, tertanggal 4 Juni 2009. Tukar guling ini sendiri merupakan bagian dari pembangunan Surabaya Sport Centre (SSC) di Pakal. Dalam sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) yang dikeluarkan pasca tukar guling tersebut, wilayah Waduk Sepat dinyatakan sebagai “tanah pekarangan” padahal hingga kini, kawasan tersebut masih berfungsi dan berbentuk sebagai waduk.

Dalam kegiatan pemutaran film Waduk Sepat, Dian Purnomo selaku panitia mengatakan, “Aneh rasanya mendengar program pemerintah kota Surabaya yang berjanji untuk membangun Waduk baru untuk mencegah banjir, namun disisi lain Waduk yang telah lama ada dan erat kaitan sejarahnya dengan masyarakat sekitar malah dihilangkan dan dikriminalisasi”

Ibu Mulyani warga sekitar Waduk Sepat juga mengatakan bahwa ” dengan adanya Waduk Sepat masih kerap terjadi banjir, bagaimana jadinya apabila Waduk Sepat tetap dihilangkan” tutupnya

 

 

TINGGALKAN BALASAN