Memaafkan Sukmawati Demi Kebaikan Umat

Sukmawati Soekarno Putri memohon maaf lahir dan batin atas kekeliruan puisi yang Ia baca beberapa waktu lalu [foto: Reuters]
Sukmawati Soekarno Putri memohon maaf lahir dan batin atas kekeliruan puisi yang Ia baca beberapa waktu lalu [foto: Reuters]

Oleh : Putra Nugraha

Sangat wajar bagi seorang yang beragam Islam untuk ‘illfeel’ dengan kata-kata yang di rangkai oleh Sukmawati Soekarno Putri. Apapun pembelaannya, penggunaan kata Adzan dan Cadar yang kemudian dibanding-bandingkan dengan Konde dan Kidung Ibu Indonesia adalah sebuah kekeliruan. Dengan tekanan luas dari masyarakat dan kesadaran pribadi, akhirnya putri kandung sang Bapak Bangsa tersebut menyampaikan permintaan maaf didepan umum pada 4 April 2018.

Rasanya kasus ini tidak perlu diperpanjang dan telah cukup menjadi pembelajaran bagi seluruh anak bangsa -apapun agamanya- untuk tidak bermain-main dengan isu sensitif semisal agama. Namun ironisnya sebagian masyarakat meminta kasus ini untuk tetap dilanjutkan secara hukum, bahkan berencana menggelar aksi unjuk rasa dengan tema ‘membela Islam’.

Menggelar aksi semacam itu akan kontraproduktif bagi umat. Tujuan apa yang hendak dicapai? Memenjarakan Sukmawati? atau memberi peringatan kepada seluruh masyarakat untuk tidak mempermainkan Islam?

Apabila alasan pertama yang menjadi tujuan, maka tidak ada manfaat positif bagi kehidupan umat. Sungguh super sekali seorang Sukmawati hingga menyebabkan orang-orang turun ke jalan untuk menuntutnya masuk penjara, bukan kah banyak kegiatan lain yang lebih penting dari sekedar hal tersebut?

Kecaman, hinaan, bully-an yang diterima Sukmawati di sosmed dan dunia nyata pun nampaknya sudah menjadi pelajaran bagi setiap orang yang hendak ‘menyinggung’ Islam untuk lebih berhati-hati.

Meneruskan kasus ini ke ranah hukum ketika yang bersangkutan telah meminta maaf ibarat membunuh musuh yang telah menyerah tidak berdaya. Terlebih, hal ini akan kembali menciptakan situasi perpecahan seperti beberapa tahun lalu, bahkan akan semakin memperburuk citra Islam. Umat Islam akan dianggap tidak pemaaf, keras, dan tidak memiliki belas asih.

Sebaliknya, memberi maaf dan menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan akan memperbaiki citra Islam. Marilah kita dengarkan seruan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti untuk memaafkan Sukmawati, karena mungkin Imannya sedang lemah dan perlu pendampingan agama. Sama halnya dengan ajakan Tokoh yang sekaligus Cendekiawan Muslim, Din Syamsudin, beliau berpendapat bahwa Sukmawati sudah menyampaikan permohonan maafnya ke publik dan terdapat kesan akan memperdalam kembali agama Islam, maka dari itu, akan sangat elok apabila laporan terhadap Sukmawati ditarik kembali.

Marilah kita tiru kebesaran hati Tuan Guru Bajang, ketika beliau dihina sedemikian kasarnya, beliau bahkan memberi maaf terlebih dahulu sebelum pelaku memintanya. Berkaca dari kejadian tersebut, tidak ada seorang pun yang berani menjelek-jelekan keindahan akhlak seorang TGB, baik orang Islam maupun non-Islam menghormati beliau. Umat Islam pun seharusnya demikian, dengan memaafkan dan membimibing Sukmawati ke ajaran yang benar maka InsyaAllah kebangkitan Islam akan semakin indah berkembang.

Penulis adalah pemerhati politik dan keamanan Indonesia

TINGGALKAN BALASAN