Jakarta, Semarak.news – Jika pada minggu-minggu sebelumnya, akhir pekan di Komunitas Salihara diisi oleh pertunjukan teater dari peserta kelas akting Salihara, akhir pekan kemarin (28/04/2018) Komunitas Salihara kembali lagi menyuguhkan pementasan teater yang memukau. Namun bukan lagi dari peseerta kelas akting Salihara melainkan dari alumninya angkatan 2015.

Pementasan dengan judul Melankolia ini dipentaskan oleh Teater Kedai yang dimulai pada pukul 8 malam. Teater Kedai yang terbentuk pada tahun 2016, merupakan sekelompok orang dari berbagai latar belakang profesi yang menemukan kecocokan dan semangat yang  sama dalam seni peran setelah mengikuti kelas akting Salihara bersama-sama pada tahun 2015.

Teater Kedai telah melakukan berbagai pementasan sebelumnya, beberapa diantaranya adalah Barabah karya Motingo Busye dan Penagih Utang karya Anton Chekov (Festival Teater Lampung, 2016), Kucing Hitam karya Edgar Allan Poe (Sala Monolog, 2016), dan Racun Tembakau  Karya Anton Chekov (Hari Teater Sedunia, Solo, 2017).

Teater Kedai memilih bentuk kelompok yang menempatkan semua anggota sebagai aktor, sutradara, penulis lakon, sekaligus penata dan pelaksana produksi secara bergantian. Masing-masing anggota Teater Kedai memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat pada setiap produksi.

Sebagaimana pada pementasan kali ini, sang sutradara, Anggiyandra pun menjalani peran sebagai Angel. Penata kostum, Angelina Enny pun bertindak sebagai Barbie. Fitria Sari, penulis naskah pun merangkap menjadi Sri.

Melankolia adalah sebuah lakon yang mengadaptasi tiga cerita pilihan dari kumpulan cerpen Nokturnal Melankolia (2017) karya Angelina Enny. Lakon ini mengisahkan tiga perempuan bernama Sri, Angel, dan Barbie yang memiliki kenangan pahit tentang kisah cinta. Pengalaman mereka yang sama-sama menjadi pilihan dalam suatu hubungan akhirnya berujung pada kecemasan tentang nilai mereka sebagai seorang perempuan.

Lakon Melankolia sejatinya merupakan tiga cerita pendek yang sebelumnya telah ditampilkan sebagai tiga monolog terpisah di Galeri Indonesia Kaya (GIK) dalam pertunjukan Melakoni Nokturnal Melankolia pada awal 2018. Tapi pada pertunjukan kemarin, ketiga cerita tersebut dijahit dan dilebur menjadi satu lakon dalam satu panggung, dimainkan secara kanonik dan menghadirkan konflik yang intens. [DK]

LEAVE A REPLY