Jember, Pemerintah Pusat Republik Indonesia melalui Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan Internasional mengadakan kegiatan Fokus Grup Diskusi dengan tema ‘ mengokohkan komitmen keberadaan dan kebangsaan menuju Indonesia emas 2045’ (22/3) di Hotel Lotus, Jember.

Kegiatan tersebut menghadirkan beberapa stakholder muda Muhammadiyah seperti Pradana Boy ZTF (Staf khusus Presiden Bidang Keagamaan), Ali Mutohirin (Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Bidang Hikmah dan Kebijakan Publik), Abdul Salam,  Khoirul Muttaqin dan Ulal Asmaul Husna. Kegiatan dihadiri sebanyak 25 kalangan muda dari Muhammadiyah.

Dalam konteks menuju Indonesia Emas, para pembicara secara umum menegaskan pentingnya gerakan literasi dalam bidang apapun. Khoirul Muttaqin yang membahas tentang pentingnya anak-anak muda untuk berperan aktif mengembangkan ekonomi berbasis Internet (e-commerce). Apalagi dengan perkembangan bisnis berbasis Internet sangat digemari oleh kalangan milenial saat ini. Ungkap Khoirul yang juga menjadi pengurus di Rumah Indonesia Berkemajuan.

Di sisi lain, Abdul Salam lebih menekankan bahwa anak-anak muda dalam menghadapi generasi emas 2045 harus memiliki budaya baca yang kuat. Kita tahu bahwa dengan perkembangan Internet membuat masyarakat kita tidak lagi aktif membaca, sehingga kepakaran dalam bidang sains berkurang setiap waktu. Generasi muda harus mendorong gerakan membaca ini, kita jadikan membaca sebagai budaya rute membangun bangsa.

Salam juga menekankan bahwa dengan berliterasi kita juga bisa menangkal persebaran ujarnya kebencian dan hoax yang banyak tersebar di medsos.

Senada dengan itu, Ali Mutohirin mengungkapkan bahwa medsos saat ini membangun peradaban baru. Peradaban yang melahirkan suatu kebiasaan menjelek-jelekkan orang lain dengan sangat mudah. Peradaban ini bagi Ali merupakan malapetaka bagi masyarakat, sehingga harus diatasi dengan kepandaian menggunakan teknologi.

Sebagai contoh, momentum pilpres yang terjadi saat ini membuat orang saling membenci. Apa jadinya jika urusan kebangsaan kita disamakan dengan cebong dan kampret seperti yang terjadi saat ini. Kita seolah-olah iri dengan kesuksesan orang lain, sehingga tidak mampu menjadi sukses dengan diri sendiri. Kata Ali yang juga Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Bidang Hikmah dan Kebijakan Publik.

(Alim)

LEAVE A REPLY