maraknya Hacker menuju pemilu 2019

Bogor, Semarak.news – menghadapi tahun politik kali ini, para Calon Legislatif(Caleg) menyiapkan berbagai strategi untuk bisa menarik suara sebanyak-banyaknya dari masyarakat. Mulai dari pendekatan yang bersifat persuasif sampai dengan pendekatan yang agresif.

Menurut Datakata “Pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau 56% dari total populasi.” berangkat dari fakta ini, banyak Caleg yang menggunakan media sosial sebagai media mereka untuk mendapatkan suara dari masyarakat. Belum lagi fakta bahwa untuk Pemilihan Umum(Pemilu) kali ini melibatkan generasi milenial yang sebagian besar merupakan pengguna medsos aktif.

selain itu, platform Medsos Twitter juga memfasilitasi para Caleg ini dengan cara melakukan verifikasi terhadap akun-akun Calon Legislatif

“Kami melakukan verifikasi akun untuk mendukung percakapan publik yang sehat dan memberikan kepastian kepada publik bahwa akun para figur publik benar-benar dimiliki oleh individu atau organisasi itu sendiri,”Twitter Indonesia.

maraknya kampanye melalui media sosial ini memancing niatan buruk para Peretas yang mulai dari ingin pamer skil sampai ingin menjatuhkan elektabilitas salah satu Caleg.

salah satu kasusnya adalah kasus peretasan akun Medsos politikus Ferdinand Hutahaean. peretas mengunggah foto-foto perempuan berpakaian seksi.

Peneliti Lembaga Riset Communication and Information System Security Research Center (Cissrec), Ibnu Dwi Cahyo mencium kuat dugaan peretasan akun twitter politikus Ferdinand Hutahaean bertujuan untuk menjegal secara politik.

Akun @Ferdinand_Haean yang diretas juga menyerang Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sugiono. Tampak foto lelaki berpelukan mesra perempuan berbusana minim.

Menurut Ferdinan yang saat ini Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, usai diretas, akun twitter Ferdinand dipakai memajang foto vulgar seorang perempuan. Foto vulgar di akun medsos Ferdinand tersebut bersanding dalam kolase dengan foto calon presiden Prabowo Subianto.

bukan hanya akun caleg yang di serang para peretas ini tapi juga sistem penghitungan data KPU juaga menjadi sasaran.

Sebagai penyelenggara, KPU juga mengatakan serangan peretasan pada sistem data pemilih sudah terjadi sejak Pemilu 2014 dan pihaknya memastikan serangan tidak akan mengganggu proses pemilu pada bulan April.

LEAVE A REPLY