Media Sosial Dan Arab Spring

0
54

Media sosial merupakan salah satu media yang mempunyai peranan besar dalam kehidupan masyarakat kini. Media sosial dari masa ke masa semakin dicintai oleh masyarakat global. Media sosial menjadi salah satu media yang mempunyai berbagai keunggulan berbanding dengan media lainnya. Media sosial seperti Facebook, WhatsApp, Twitter, Instagram dan Line merupakan media sosial yang popular digunakan dalam membentuk gerakan sosial. Isu-isu seperti akademik, politik, ekonomi, hukum, agama dan SARA merupakan isu-isu yang paling mempengaruhi masyarakat untuk membentuk gerakan sosial. Hal ini terbukti dengan adanya gerakan sosial yang mempengaruhi gerakan sosial di negara Mesir pada masa tragedi Arab Spring.

Setelah bertahun hidup dibelenggu pemerintahan diktator, penduduk dunia Arab bangkit untuk menuntut pemerintahan demokrasi. Kebangkitan yang bermula di Tunisia ini telah merebak ke Mesir dan dunia yang Arab yang berdekatan. Seluruh dunia tertumpu pada Asia Barat untuk mendapatkan laporan berita terkini yang sahih dan tepat. Konflik Asia Barat menjadi berita utama rangkaian radio dan televisi dan juga media baru. Kedaan ini menggalakkan kebergantungan orang ramai terhadap media massa sebagai sumber maklumat berkenaan, dan termasuklah media sosial. Berkaitan dengan rusuhan konflik Asia Barat, “digital media” seperti Facebook, twitter dan You Tube antara menjadi faktor pemangkin berlakunya kebangkitan rakyat Arab atau Arab Spring. Keterlibatan media sosial dalam revolusi Arab Spring ialah diperkatakan bahawa media sosial sebagai saluran alternatif untuk mengetahui keadaan Arab Spring. Dengan menggunakan peranan media sosial dan media massa lainnya melalui internet, membuat demokratisasi Tunisia menjadi berita besar dan membuat Negara-negara Arab lainnya melakukan hal yang serupa di Negara mereka masing-masing.

Sebagai contoh, semasa pergolakan di Mesir, rejim Mubarak telah mengambil tindakan menutup Internet untuk menyekat komunikasi pantas dalam kalangan aktivis dan rakyat biasa atas kesedaran rakyat bergantung pada rangkaian komunikasi untuk bergerak mendapatkan maklumat dan menyebarkan idea. Rejim Hosni Mubarak juga mengambil tindakan untuk menutup biro Al-Jazeera di Mesir kerana menyebarkan pelaporan berita yang meluas dan kritis tentang pergolakan di Mesir yang tidak disenangi rejim itu. Pentingnya peranan media sosial terutama Facebook dan twitter sebagai saluran peyebaran maklumat dan rancangan bantahan di Mesir dan membantu rakyat Mesir mendapatkan simpati dan sokongan antarabangsa.
Pemanfaatan media sosial dijadikan wadah menggalang massa untuk perlawanan politik terjadi pada 2010. Masyarakat Tunisia tergerak hatinya saat ada aksi bunuh diri dengan cara membakar diri seorang pemuda penjual sayur yang barang dagangannya dijarah aparat polisi. Masyarakat pro perubahan memanfaatkan Facebook dan Twitter untuk menggalang kekuatan melawan rezim Presiden Zine El Abidine Ben Ali, yang berbuah “Revolusi Tunisia”. Ini persis yang terjadi di Mesir sesudahnya, ribuan orang menyemut di Tahrir Square, Kairo, Mesir untuk menurunkan Presiden Hosni Mubarak yang telah berkuasa sejak lama. Salah satu pemicu aksi massa saat itu karena sebuah laman di Facebook yang bernama “Simple, Anonymous”. Laman Facebook itu dibuat oleh seorang aktivis sekaligus pekerja Google bernama Wael Ghonmin. Ghonmin memberikan keterangan dalam halaman Facebook “Kami semua adalah Khaled Said”. Khaled Said, merupakan sosok yang mirip dengan Mohamed Bouazizi, pemuda yang membakar diri dan memicu revolusi di Tunisia. Sedangkan Khaled Said merupakan seorang pemuda yang disiksa hingga mati oleh polisi Mesir. Kematiannya, menjadi salah satu pemicu kemarahan masyarakat yang sudah muak dengan pemerintahan rezim Hosni Mubarak.

Dalam aksi revolusi yang terjadi di Mesir enam tahun lalu, The Guardian menuliskan terjadi lonjakan Tweet yang sangat besar. Kicauan di Twitter dengan tagar #Jan25, yang semula hanya berjumlah 2.300 Tweet, melonjak menjadi 130.000 Tweet per hari selama seminggu sebelum pada akhirnya Presiden Hosni Mubarak mundur dari Jabatannya. Fawas Rashed, salah satu demonstran mengungkapkan, “kami menggunakan Facebook untuk penjadwalan aksi protes, (menggunakan) Twitter untuk (menentukan) koordinat (lokasi protes), dan (menggunakan) YouTube untuk mengabarkan pada dunia.”

Selain itu, Dalam Britain hid secret MI6 plan to break up Libya from US, Hillary Clinton told by confidant. Terjemahahan bebasnya: Inggris menyembunyikan rencana rahasia MI6 untuk memecah Libya dari AS, ini dikatakan orang kepercayaan Hillary Clinton. Media sosial bisa menjadi alat bagi kekuasaan dan kepentingan asing untuk menguasai sebuah negara. Mereka bisa berani dalam isu pemilu seperti sudah terjadi di Amerika Serikat. Bahkan, meletuskan perang ‘riil’ yakni perang senjata di dunia nyata.

Sosial media adalah adalah media manusia untuk melakukan sosialisasi dengan manusia lain. Proses sosialisasi yang berlangsung di dunia maya memiliki beberapa fase. Mayoritas pengguna sosial media berada di posisi pendengar atau pengikut (followers). Secara umum sosial media bekerja adalah mendengar terlebih dahulu, memahami konteks pembicaraaan, barulah mereka (pengguna) berbicara (bersikap) di akhir.
Fase mendengar, memahami, dan bersikap ini menjadi kunci dari setiap gerakan yang muncul di sosial media. Fase pertama adalah mendengar. Lantas siapa yang didengar masyarakat di sosial media? Biasanya sumber suara yang didengar adalah orang yang punya pengaruh, akademisi, artis, atau aktivis. Istilah kerennya disebut ‘selebritis’ sosial media.
Fase kedua adalah proses pemahaman. Dalam proses ini, masyarakat yang memperoleh setiap informasi di sosial media mulai melakukan verifikasi. Biasanya dengan membandingkan informasi di sosial media dengan berita di media konvensional. Bisa pula proses pemahaman ini datang lewat pengalaman empiris. Fase terakhir barulah rakyat memutuskan bersuara.

Dalam kasus Arab Spring, struktur gerakan politik via sosial media pun sama. Namun cara mereka membendung gerakan itu yang keliru, yakni dengan mengandalkan kekuatan senjata.
Padahal senjata militer kalah ampuh dengan senjata sosial media yang relatif murah dan punya impak yang lebih dahsyat. Sebab senjata militer hanya bisa meggoyahkan fisik. Tapi senjata sosial media bisa menggoyahkan hati atau kepercayaan diri.

Walhasil pengalaman di Arab 2011 itu membawa perubahan bagi gerakan politik di Indonesia. Solusi kini bukan lagi mengandalkan kekuatan militer bersenjata, melainkan militer di dunia maya. Sebab mereka sadar ancaman nyata bagi sebuah bangsa saat ini bukan lagi perang militer melainkan perang media sosial. Tak pelak, kebutuhan tentara sosial media kini mendesak bagi setiap bangsa. (S)

LEAVE A REPLY