Semarak.News Tugas seorang mahasiswa adalah merawat tradisi intelektual, ini sekaligus menjadi sebuah indentitas mahasiswa sebagai kelompok terpelajar. Selasa (28/5) di salah satu Warung Kopi di Malang, Focus Coffe, menjadi tempat uang dipilih oleh penerbit akar untuk merawat tradisi intelektual yang saat ini bisa dikatakan mulai pudar di kalangan mahasiswa.

Penerbit Akar yang dipimpin oleh Rino Hayyu Setyo mengundang salah satu Penulis Buku yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum DPD IMM Jawa Timur untuk membedah buku yang ditulis tahun lalu dengan judul ‘Dalam Bayang-Bayang Egosentris’. Buku yang diterbitkan pada akhir April kemarin langsung di bedah di Focus Coffe dengan pemateri Nur Alim sebagai penulis dan Rino Hayyu sebagai Direktur Penerbit Akar.
Salah satu fokus pembahasan dalam kegiatan bedah buku tersebut adalah tentang fenomena interaksi manusia yang akhir-akhir ini mengalami degradasi, khususnya dalam wilayah menghargai pendapat orang lain. Penulis membahasakan ini dengan fenomena dehumanisasi yang mana seseorang menghardik orang lain demi mewujudkan kepentingan pribadi.

Menurut Nur Alim, fenomena ini semakin berbahaya karena mulai terlembaga dan akhirnya merugikan banyak pihak. Kalau kita cermati relaitas sosial kita sedang menghadapi fenomena dehumanisasi di berbagai lini kehidupan, seperti politik, pendidikan, hingga agama.

Nur Alim menambahkan bahwa ketika seseorang sudah bersikap dehumanisasi terhadap orang lain, maka cepat atau lambat dia akan tidak mampu menerawang kepentingan orang lain yang seharusnya adalah kewajiban semua orang. Inilah yang saya sebut sebagai terjebak dalam bayang-bayang egosentris. Dimana semua orang terfokus untuk memperkuat kepentingan ego pribadi dan mengabaikan kepentingan orang lain. Dampaknya kita akan terus terjebak pada konflik yang tidak ada habisnya. Tegas Nur Alim.
Rino Hayyu selaku pembedah buku menambahkan bahwa apa yang kita saksikan saat ini adalah sebuah fenomena masyarakat yang memiliki keinginan untuk meneguhkan identitas dirinya masing-masing. Seolah-olah identitas kita, baik identitas agama, politik, maupun etnis adalah kepentingan yang mau tidak mau harus diwujudkan.

Ketika itu terjadi, maka jangan heran bila banyak orang yang begitu lantang menyuarakan kepentingan-kepentingan yang mereka miliki, meskipun dengan cara menghapuskan keberadaan orang lain yang ada di sekitarnya. Jelas Rino pemuda asal Kediri itu.
Diakhir sesi, kedua pembicara sama-sama menghimbau kepada peserta yang hadir untuk bersama-sama menyuarakan nilai kemanusiaan sebagai nilai bersama. Kita tidak perlu mendiskreditkan orang lain yang berbeda dengan kita. Agar harapan itu bisa diwujudkan, mari membangun suasana yang harmonis dengan membuka ruang-ruang dialog yang intensif. Tujuannya satu, yakni membangun tradisi litaarafu sebagai manusia yang datang dari latar belakang berbeda. (GKP)

LEAVE A REPLY