Limbah Skripsi Jadi Ladang Amal

Skripsi merupakan salah satu syarat bagi mahasiswa untuk menyelesaikan studi S-1. Namun, dalam mengerjakan skripsi merupakan suatu perjuangan yang tidak mudah. Mahasiswa tingkat akhir mungkin tahu, sering kali kita mendapat revisian dari dosen yang memaksa kita untuk menggunakan material baru. Hal tersebut hanya akan menjadikan berkas hasil revisi menjadi tumpukan sampah atau limbah kertas yang tidak terpakai.

Siapa sangka, limbah sampah yang tidak terpakai tersebut dapat menjadi salah satu ladang amal. Di Kota Pontianak sekarang sudah ada Komunitas Baju Kertasku yang dapat mengolah kertas bekas menjadi pundi-pundi amal. Tidak hanya limbah kertas skripsi tetapi juga berbagai jenis limbah kertas juga dapat digunakan. Limbah kertas tersebut akan diolah menjadi suatu kerajinan yang cantik dan memiliki nilai seni yang kemudian akan dijual. Hasil dari penjualan tersebutlah yang akan digunakan sebagai amal untuk orang yang membutuhkan.

Amal yang diberikan tidak berupa uang, melainkan berupa pakaian, seragam sekolah baru, buku yang masih layak pakai dan program pelatihan pengolahan limbah kertas menjadi produk kerajinan khusus anak muda lokal di Indonesia.

Dedi mahasiswa Pendidikan Fisika UNTAN dan Ihzal Mahasiswa Fakultas MIPA UNTAN ialah yang menjadi inisiator berdirinya Komunitas Baju Kertasku chapter Kota Pontianak. Hal tersebut diawali karena keresahan dari banyaknya sampah kertas yang berasal dari mahasiswa semester akhir, fotocopy dan tempat lain yang menghasilkan limbah kertas bekas.

“Baju Kertasku Pontianak berawal dari banyaknya sampah kertas yang terbuang dan tidak dimanfaatkan kembali. Banyaknya sampah kertas ini dapat berasal dari mahasiswa semester akhir, tempat fotocopy dan lain sebagainya yang berkaitan dengan sampah kertas”, Ujar mereka dalam wawancara dengan tim Semarak.news.

Ternyata Komunitas Baju Kertasku tidak hanya ada di kota Pontianak, tetapi juga ada dibeberapa kota lain seperti Buton, Jakarta, Pekanbaru, Serang, Semarang, Yogyakarta dan Palu. Komunitas Baju Kertasku pertama berdiri di Kota Palu, Sulawesi Tengah Pada 11 Maret 2016 oleh Reny Septiani mahasiswa Pendidikan Kimia di Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah.

Selama 2 tahun berdiri, Komunitas Baju kertasku telah mengumpulkan lebih dari 7 ton kertas bekas dan mendonasikan lebih dari 230 pasang pakaian serta seragam sekolah. Hal tersebut tidak terlepas dari keterlibatan lebih dari 80 Pemulung Cantik dan Pemulung Tampan yang menjadi sebutan untuk relawan serta lebih dari 190 donatur yang menyumbangkan limbah kertasnya.

Saat ini Komunitas Baju Kertasku masih mencari donator yang mau menyumbangkan limbah kertasnya baik dari pribadi maupun instansi sosial/lingkungan milik pemerintah untuk dijadikan ladang amal. Bagi calon donator dapat menghubungi nomor 082157637134 atau follow Instagram @bajukertasku.pontianak. Mari tingkatkan rasa sosial dengan beramal melalui kreatifitas demi menjaga lingkungan dan bumi kita. (FAR)

TINGGALKAN BALASAN