Hasil gambar untuk plta batang toru

Pembangunan PLTA Batang Toru masih terus menimbulkan polemik. Pro-kontra masih terjadi atas pembangunan PLTA tersebut. PLTA Batang Toru diharapkan akan menghasilkan listrik sebesar 510 mega watt. Namun masyarakat masih khawatir akan dampak negatif pembangunan PLTA tersebut.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatra Utara merupakan salah satu yang  menolak pembangunan PLTA Batang Toru. Pasalnya, PLTA tersebut dibangun di atas habitat utama orangutan Tapanuli. Dikhawatirkan pembangunan PLTA tersebut akan merusak lingkungan hidup dan populasi orangutan Tapanuli yang jumlahnya sudah tidak lebih dari 800 ekor. Selain itu, PLTA Batang Toru juga diindikasikan dibangun di atas zona patahan yang sangat rentan terjadi pergeseran. Berdasarkan fakta tersebut, Walhi Sumatra Utara mengajukan gugatan ke PTUN Sumatra Utara untuk memeriksa kembali amdal yang diajukan oleh PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE) sebagai pengelola PLTA Batang Toru. Namun gugatan tersebut ditolak oleh PTUN Sumatra Utara.

Hasil gambar untuk orangutan batang toru

Orangutan Tapanuli menjadi tambahan spesies baru di kelompok kera raksasa dalam kurun waktu satu abad terakhir. Orangutan baru dengan nama ilmiah Pongo tapanuliensis atau orangutan tapanuli dinobatkan sebagai spesies orangutan ketiga setelah Pongo pygmaeus (orangutan kalimantan) dan Pongo abelii (orangutan sumatera). Orangutan Tapanuli adalah spesies yang baru ditemukan pada awal November 2017 oleh peneliti. Walaupun baru ditemukan, namun statusnya sudah ditetapkan terancam punah keberadaannya. Sehingga habitat dan populasinya juga harus dijaga. Hutan seluas 133.841 hektar tersebut merupakan habitat utama dan satu-satunya yang tersisa secara alami sebagai tempat orangutan Tapanuli.

Dampak lain pembangunan PLTA Batang Toru di Harangan Tapanuli (Hutan Batang Toru) yaitu merusak ekosistem dan fungsi Sungai Batang Toru. Sebagai pemasok air untuk persawahan, sungai tersebut juga merupakan sumber penghidupan masyarakat Batang Toru. PLTA Batang Toru akan membendung sungai selama 18 jam sehari dan 6 jam mengalir. Hal itu dikhawatirkan masyarakat setempat akan merusak roda perekonomian masyarakat.

Masyarakat harus pro-aktif dalam mengawal pembangunan mega proyek PLTA Batang Toru. Sehingga pada akhirnya nanti, kerugian kepada satu pihak dapat diminimalisir.

LEAVE A REPLY