Jakarta, Semarak.News – Beberapa waktu lalu sempat beredar hastag #Indonesiaterserah di sosial media, merespons sikap semena-mena sebagian masyarakat yang melanggar aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), social distancing, dan physical distancing. Hastag itu tentu seharusnya menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak merasa ‘sok hebat’ melawan pandemi Covid-19.

Menurut informasi yang ditelusuri Medcom.id, Jumat, 22 Mei 2020, gerakan #Indonesiaterserah pertama kali muncul sejak penutupan gerai makanan cepat saji, McDonald’s di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Kala itu, sejumah orang rela berkumpul dan melanggar protokol kesehatan hanya untuk melihat restoran tersebut pamit.

Kemudian, gerakan ini semakin kencang setelah masyarakat memadati Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, jelang Lebaran 2020. Lagi-lagi, masyarakat tak mengindahkan jaga jarak seperti anjuran pemerintah. Akhirnya gerakan itu diramaikan warganet untuk mendukung para tenaga medis. Beberapa warga ikut kecewa dengan masyarakat yang tak tahu aturan.

Kekecewaan tidak dipungkiri menjadi hal wajar mengingat sebagian masyarakat lainnya telah dengan sangat patuh dan disiplin menaati aturan PSBB, social distancing, dan physical distancing. Bahkan, kekecewaan juga sulit dibendung mengingat jumlah kematian akibat Covid-19 di Tanah Air hingga Kamis, 21 Mei mencapai 1.278 orang meninggal dunia.

Bayangkan bagaimana perasaan sebagian masyarakat yang mematuhi protokol kesehatan terutama para keluarga korban jiwa covid-19 yang melihat sebagian masyarakat lainnya dengan bebas berseluncur secara fisik dan mengabaikan semua aturan dari pemerintah. Seharusnya, seluruh elemen masyarakat benar-benar patuh dan disiplin demi kepentingan bersama.

Jika dilihat dari sisi tenaga medis yang terpapar virus mematikan itu, setidaknya sebanyak 16 tenaga kesehatan yang bertugas di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan menangani pasien terpapar Covid-19 dinyatakan positif.

“Betul, dalam waktu tiga hari sebelumnya staf kami (dokter, perawat, dan naker lainnya) sudah terinfeksi positif,” kata Direktur Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Khalid Saleh, di Makassar, Jumat, 22 Mei 2020.

Hal ini tentu sangat menyedihkan karena para tenaga medis berjuang demi kemanusiaan dan demi Indonesia dengan mengorbankan nyawanya.

Meski sikap sebagian masyarakat yang melanggar protokol kesehatan sangat disayangkan, namun dukungan deras tetap mengalir kepada para tenaga medis yang tidak pernah berhenti berjuang memerangi covid-19. Kondisi ini tentu harus didukung peran masyarakat dengan memotong mata rantai penyebaran virus yang mematikan dengan tetap di rumah saja.

Kalau pun memang harus keluar, sebaiknya benar-benar untuk kepentingan yang sangat mendesak. Jika urusan sudah selesai di luar rumah maka sebaiknya segera bergegas kembali ke rumah yang tentunya segera melaksanakan beberapa protokol kesehatan sebelum berinteraksi dengan orang rumah. Protokol itu di antaranya mencuci tangan hingga mandi dan mengganti baju.

Sangat disayangkan ada masyarakat yang tidak mengindahkan PSBB. Tapi saya pikir kepolisian sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik,” kata Pemilik rumah produksi Multivision Plus Raam Punjabi menjawab pertanyaan Medcom.id, dalam webinar bertajuk ‘Peran Komunikasi di Masa Pandemi Covid-19‘.

Ia tidak menampik butuh kesadaran lebih dari masyarakat untuk ikut serta memutus mata rantai penularan covid-19 sehingga pandemi ini bisa cepat berlalu. Raam menilai salah satu langkah efektif guna memutus mata rantai itu yakni dengan melakukan aktivitas di rumah sementara waktu ini.

“Saya rasa umur masih panjang dan kita masih bisa menikmati ke mal. Tapi saya melihat masyarakat berkerumun, saya menyayangkan juga. Saya hanya mengimbau untuk menuruti dan mengikuti saran-saran yang disampaikan pemerintah yang berada di situasi kompleks juga. Tanggung jawab kita semua mendukung pemerintah untuk mewujudkan hal yang baik,” ucapnya.

Berharap

Sementara itu, Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo berharap, viralnya video atau hastag #Indonesiaterserah bukan sebagai bentuk kekecewaan dari tenaga medis Indonesia. Dalam konteks ini, pihaknya terus memberikan dukungan kepada tenaga medis di tengah upaya memerangi pandemi covid-19.

“Untuk video #Indonesiaterserah, kami jelaskan bahwa kami sangat tidak berharap kalangan dokter menjadi kecewa. Sejak awal kami mengedepankan ujung tombak kita,” kata Doni.

Merujuk pernyataan Doni seharusnya masyarakat memahami bila protokol kesehatan dilanggar akan sangat berbahaya. Hal itu bisa mengakibatkan jumlah pasien akan meningkat, sedangkan persediaan kasur di rumah sakit terbatas.

“Kalau dirawat di RS dengan jumlah banyak dan tempat perawatannya penuh maka yang sangat repot dokter, perawat. Dari awal ini bahasan yang kami kemukakan, jangan biarkan dokter kita kelelahan kehabisan waktu dan tenaga bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk keselamatan bangsa Indonesia, maka wajib kita lindungi,” tegasnya.

Di sisi lain, warganet ikut mengomentari adanya hastag #Indonesiaterserah. “Sia-sia rebahanku selama dua bulan lebih ini. Jika kalian semua masih keluyuran dan enggak menaati peraturan. Jangan salahkan jika herd imunity diterapkan, karena itu ulah kalian sendiri. Indonesia Terserah,” tulis pemilik akun @cepirul.

Jangan Terserah

Setelah hastag #Indonesiaterserah, kini warganet meramaikan hastag #Indonesiajanganterserah. Hastag ini pun menjadi viral di sosial media. Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, misalnya, memposting sebuah gambar dengan disematkan hastag #Indonesiajanganterserah. Gambar itu memperlihatkan seseorang yang mengenakan masker membantu seorang tenaga medis berdiri.

Adapun hastag #Indonesiajanganterserah dan postingan Wali Kota Bogor, serta mungkin warganet lainnya merupakan bentuk dukungan kepada tenaga medis agar jangan menyerah memerangi covid-19. Dukungan itu menjadi penting agar mata rantai penyebaran covid-19 bisa segera dihentikan secepat mungkin.
FOTO: Instagram/Bondanteguh

“Semua memang tidak mudah. Tapi belum saatnya menyerah. Bukan terserah, tapi kita tentukan arah. Saatnya saling bantu untuk terus melangkah,” kata Bima Arya, dalam caption Instagramnya dalam postingannya terkait Indonesia Jangan Menyerah.

Tidak hanya Bima Arya. Najwa Shihab turut merespons adanya video viral kerumuman orang di tempat umum yang tidak memerhatikan protokol kesehatan. Postingan di instagramnya yang berjudul ‘Kita Sudah Sejauh Ini. Kalah Bukan Pilihan’ berisikan ajakan kepada masyarakat agar sama-sama menaati aturan pemerintah untuk di rumah saja.

“Dengan kesadaran penuh kita melakukannya bukan demi diri sendiri saja, namun juga demi orang lain. Kita melakukan ini untuk para tenaga kesehatan yang sudah bertaruh nyawa, untuk para karyawan yang sudah dirumahkan berminggu-minggu, untuk para pengusaha yang terpaksa menutup usahanya, dan untuk bangsa-negara yang sudah merugi sangat banyak,” tuturnya.

“Dan yang terpenting, kita melakukan ini untuk orang-orang yang kita sayangi. Tidak ada yang sia-sia ketika kita masih bisa melihat dan memastikan keluarga dan orang-orang terdekat kita sehat dan terjaga. Setiap kali memandang atau menghubungi mereka, kamu bisa berkata dalam hati, “itu karena saya hari ini tidak melanggar apapun.” Kita sudah sejauh ini. Kalah bukan pilihan, kawan-kawan,” kata Najwa dalam postingannya.

Perjuangan Pemerintah

Sementara pemerintah terus mengambil beberapa langkah guna menggerakkan roda perekonomian, baik memberikan sejumlah stimulus, menggelontorkan bantuan sosial tunai, maupun memberikan relaksasi yang harapannya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tidak terus terjadi. Meski tidak ditampik, krisis covid-19 sekarang telah menekan signifikan perekonomian.

Dari sisi ekonomi, pemerintah telah melakukan kalkulasi terkait total dana Penanganan dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) akibat dampak wabah covid-19 mencapai Rp641,17 triliun. “Pemerintah akan melakukan dan mengakselerasi penanganan masalah ekonomi ini,” kata Menkeu Sri Mulyani Indrawati.

Jika dirinci, total dana PEN itu di antaranya dukungan konsumsi Rp172,1 triliun. Dana konsumsi terdiri dari Program Keluarga Harapan (PKH) Rp37,4 triliun, sembako Rp43,6 triliun, bantuan sosial di Jabodetabek Rp6,8 triliun, bansos di luar Jabodetabek Rp32,4 triliun, kartu Prakerja Rp20 triliun, diskon tarif listrik Rp6,9 triliun dan logistik/pangan dan sembako Rp25 triliun.

Kemudian PEN dalam bentuk subsidi bunga kepada UMKM, dunia usaha dan masyarakat sebesar Rp34,12 triliun dan insentif perpajakan kepada UMKM, dunia usaha dan masyarakat Rp123,01 triliun.

Selanjutnya, subsidi bahan bakar nabati untuk program B-30 sebesar Rp2,78 triliun, kemudian pembayaran kompensasi sesuai audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebesar Rp90,4 triliun masing-masing untuk Pertamina Rp45 triliun dan PLN Rp45,42 triliun.

Dana PEN lainnya yakni tambahan belanja kementerian/lembaga dan sektoral mencapai Rp65,10 triliun terdiri dari Pariwisata Rp3,8 triliun, Perumahan Rp1,3 triliun, dan cadangan stimulus fiskal lainnya Rp60 triliun.

Selain itu, dukungan untuk pemerintah daerah sebesar Rp15,1 triliun terdiri dari cadangan Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik sebesar Rp9,1 triliun, Dana Insentif Daerah (DID) pemulihan ekonomi Rp5 triliun, dan penyediaan fasilitas pinjaman ke daerah Rp1 triliun.

Penjaminan untuk kredit modal kerja baru bagi UMKM sebesar Rp6 triliun dan Penyertaan Modal Negara (PNM) kepada BUMN total Rp25,27 triliun yakni kepada PLN Rp5 triliun, Hutama Karya Rp11 triliun, Bahan Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) Rp6,27 triliun, Permodalan Nasional Madani (PNM) Rp2,5 triliun, dan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Rp500 miliar.

Pemerintah juga memberikan dana talangan (investasi) untuk modal kerja kepada BUMN di antaranya Garuda Indonesia sebesar Rp8,5 triliun, Perumnas Rp650 miliar, PT KAI Rp3,5 triliun, PTPN Rp4 triliun, dan Krakatau Steel Rp3 triliun sehingga total Rp19,65 triliun.

Tak hanya itu, pemerintah juga menempatkan dana di perbankan untuk restrukturisasi kredit UMKM sebesar Rp87,59 triliun tapi angka ini masih akan difinalkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Memulai Kembali

Dalam kesempatan baru-baru ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah meminta Menko Perekonomian Airlangga Hartarto untuk membuat strategi khusus agar bisa memulai kembali perekonomian. “Bapak presiden minta buat strategi khusus agar kita bisa restart perekonnomian,” kata Airlangga, di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Airlangga menuturkan strategi ini mencakup kriteria dari kesiapan masing-masing daerah dari unit terkecil atau kabupaten kota. Kemudian, pemerintah akan mengevaluasi kesiapannya. “Berdasarkan perhitungan kita ada yang namanya reproduction rate daripada penyakit atau infection dengan skala R0 dengan menghitung fungsi transmisi dan berdasarkan waktu,” kata dia.

Jika melihat data, di beberapa daerah sudah menggunakan formulasi ini dan disiapkan oleh Bappenas. Bila R0 lebih besar dari satu, maka infeksi masih relatif tinggi dan apabila R0 kurang dari satu itu bisa dibuka untuk normal baru.

Kriteria reproduction rate untuk melihat perkembangan pandemi virus korona tipe baru di sejumlah daerah. Kriteria lainnya yang akan digunakan adalah kesiapan daerah. Penilaian kesiapan daerah dilakukan berdasarkan aspek epidemiologi, maupun kesiapan pemerintah daerah dan kedisiplinan masyarakat.

Nantinya, pemerintah pusat akan memberikan salah satu dari lima skor yang merepresentasikan kesiapan daerah untuk memasuki fase kehidupan baru. Kelima skor itu adalah level krisis, level parah, level substansial, level moderat, dan level rendah.

“Level pertama krisis atau belum siap. Level kedua juga belum siap. Level moderat daerah bersiap untuk normal baru,” ujarnya.

Nikmat

Sekretaris PP Dewan Masjid Indonesia (DMI) Imam Addaruquthni menilai pandemi virus korona (covid-19) membuktikan kebenaran nikmat Allah SWT. Masyarakat semakin menyadari nikmat yang hilang saat pandemi.

“Maka kalau mengatakan (Alquran surat Ar-Rahman) fabiayyi ala irobbikuma tukadziban (yang artinya ‘maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?’) covid-19 ini membuktikan kebenaran nikmat Allah telah banyak dan tak terhitung,” kata Imam, dalam diskusi Masjid Nursiah Daud Paloh (NDP) TV bertajuk ‘Kemenangan Idulfitri Menuju Normal Baru di Masa Pandemi‘.

Sebagai seorang muslim, mestinya pandemi ini dijadikan sebagai penguat spritualitas. Mengingat situasi pandemi ini tak pernah dibayangkan sebelumnya. “Seorang muslim, seorang mukmin kiranya covid-19 ini menyegarkan antusiasme spiritualitasnya untuk kembali kepada yang kuasa,” ujar Imam.

Imam mengatakan spektrum dalam berkehidupan juga perlahan mengalami perubahan. Mulai dari cara bersosialisasi hingga melaksanakan ibadah. Semua orang harus beradaptasi dengan situasi saat ini, termasuk mengikuti kebijakan pemerintah untuk menghadapi new normal.

“Ini pola yang biasa sekarang membatasi jarak dan seterusnya tetapi juga spektrum soal peribadatan juga berubah,” pungkas Imam.

Sumber: https://www.medcom.id/ekonomi/analisis/zNPGlW7K-indonesia-jangan-terserah

LEAVE A REPLY