Laut Bercerita: Merawat Kembali Ingatan Sejarah Menuju 20 Tahun Reformasi

Leila S. Chudori (Penulis Novel) dan Gregorius Soeharsojo (Seniman) berfoto bersama (Sumber: Semarak.news)

Surabaya, Semarak.news — Bertempat di Café Rolag Prapanca, Surabaya siang tadi (14/3) berlangsung acara diskusi dan pemutaran film berjudul Laut Bercerita. Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karangan Leila S. Chudori ini sarat akan makna dan mengandung pesan yang sangat mendalam terhadap fenomena penghilangan paksa 13 aktivis pada periode 1997-1998.

Turut hadir dalam acara tersebut Leila S. Chudori (Penulis Novel & Skenario), Wisnu Darmawan (Produser), Wilson (Perwakilan Amnesty International Indonesia), Fatkhul Khoir (Koordinator KontraS Surabaya), Dandik Katjasungkana (IKOHI Jawa Timur), D. Utomo Rahardjo (Ayah Bimo Petrus, Aktivis korban penghilangan paksa/Mahasiswa UNAIR), dan Gregorius Soeharsojo (Seniman).

Film pendek berdurasi 30 menit ini diperankan beberapa aktor dan aktris ternama. Diantaranya adalah Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, Ayushita Nugraha, dan Lukman Sardi tersebut. Selama pemutaran film, penonton disuguhkan latar suasana kebathinan yang nyata. Suasana kegelisahan keluarga aktivis yang hilang secara misterius dan sampai detik ini pun masih belum ada kejelasan mengenai nasib mereka.

Animo masyarakat dinilai tinggi dalam mengapresiasi karya film ini. Terlihat dari ramai dan antusiasnya peserta yang didominasi oleh kalangan mahasiswa. Saat melantunkan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dilanjutkan dengan lagu Darah Juang, suasana yang terbangun semakin menunjukkan semangat seluruh peserta.

Pesan yang ingin disampaikan dari pemutaran film ini adalah agar masyarakat Indonesia di era reformasi yang sudah berjalan selama 20 tahun ini tetap terawat ingatannya akan fenomena-fenomena pelanggaran HAM berat yang terjadi di masa lalu.

Meskipun pada tahun 2009 DPR RI telah mengeluarkan 4 rekomendasi terkait kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di Indonesia. Namun, sampai saat ini Presiden RI, Joko Widodo dinilai masih belum mewujudkan langkah konkret dalam menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat tersebut, bahkan hingga hampir  mencapai  akhir kepemimpinan beliau.

Bahkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 juga tercantum langkah yang semestinya diwujudkan dalam menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu. Namun, sampai saat ini belum ada kemajuan sama sekali.

Pentingnya merawat ingatan terhadap fenomena-fenomena pelanggaran HAM di masa lalu juga disampaikan oleh Dimas Anggara (26).

“Sebagai kaum muda, yang paling penting adalah merawat ingatan terlebih dahulu . Bisa melalui sejarah yang dinarasikan secara sederhana baik dalam bentuk novel atau film pendek”, tutur Dimas, moderator acara diskusi film Laut Bercerita.

“Untuk mengolah aktivitas-aktivitas yang lebih maju, perlu adanya pengorganisiran di tingkat mahasiswa maupun massa rakyat. Serta perlunya penyampaian moral value yang menggambarkan bahwa pemuda adalah pionir perubahan”, sambungnya. [AG]

TINGGALKAN BALASAN