Kamp Pengasingan bagi Muslim Uighur di Tiongkok

0
94
Suku Uighur merupakan minoritas muslim yang berada di Xinjiang (aljazeera.com)
Suku Uighur merupakan minoritas muslim yang berada di Xinjiang, sebelum dianeksasi Cina pada pertengahan abad ke-20, Xinjiang dikenal dengan nama Turkestan Timur. (aljazeera.com)

Menurut PBB, saat ini satu juta muslim ditahan di kamp pengasingan Tiongkok. Bekas tawanan (kebanyakan dari suku Uighur) mengatakan bahwa selama proses indoktrinasi yang berlangsung berbulan-bulan, mereka dipaksa untuk meninggalkan dan mengkritik Islam, serta membaca lagu propaganda Partai Komunis beberapa jam dalam satu hari. Beberapa laporan dari media bahkan menyebut mereka dipaksa memakan daging babi dan meminum alkohol  yang diharamkan dalam Islam, beberapa laporan juga menyebut ada penyiksaan yang berujung kematian.

Menurut The Wall Street Journal, jumlah tawanan yang ditahan di wilayah Xinjiang meningkat dua kali lipat sejak tahun lalu. Komisi Eksekutif Kongres Amerika Serikat menyebut hal itu sebagai penahanan terbesar terhadap populasi minortitas di dunia saat ini. Tiongkok memulai program tersebut dengan menargetkan ekstrimis Uighur, namun saat ini pemerintah Tiongkok juga menahan orang-orang yang memperlihatkan identitas seorang muslim seperti memanjangkan janggut. Pada awal Agustus, saat panel PBB menanyakan pejabat senior Tiongkok tentang kamp pengasingan tersebut, mereka berdalih tidak ada hal semacam ‘pusat reedukasi atau kamp pengasingan’, yang ada hanya sekolah keahlian bagi pelaku kriminal.

Bagi penduduk Tiongkok, kamp pengasingan itu disebut sebagai rumah sakit, bukan sekolah seperti yang disebutkan sebelumnya. Berikut kutipan audio dari pejabat Partai Komunis Tiongkok yang ditransmisikan tahun lalu ke Uighur via WeChat yang kemudian di transkripsikan serta diterjemahkan oleh Radio Free Asia:

“Anggota masyarakat terpilih untuk reedukasi merupakan mereka yang terpengaruh oleh penyakit ideologi. Mereka terjangkit ektrimisme agama dan ideologi kekerasan teroris, maka mereka harus dipulihkan di rumah sakit sebagai pasien. Ideologi ekstrimis agama adalah racun yang menyebabkan kebingungan dalam pikiran seseorang. Apabila kami tidak memberantas ekstrimisme agama dari akarnya, maka aksi terorisme akan tumbuh dan menyebar seperti tumor ganas yang tidak bisa disembuhkan.”

James Millward, Professor sejarah Tiongkok di Universitas Georgetown menyebut bahwa kepercayaan agama dipandang seperti penyakit di Tiongkok, negara tersebut juga sering menyalahkan agama dalam kasus ekstrimisme dan separatisme. Sehingga saat ini Tiongkok menyebut kamp reedukasi sebagai rumah sakit untuk mengobati cara berfikir orang-orang yang terpengaruh kepercayaan agama. Tiongkok menerapkan sistem layaknya prosedur medis untuk membunuh virus ekstrimisme yang diterapkan kepada seluruh populasi muslim Uighur, bukan kepada individu.

Tiongkok sejak dulu khawatir Uighur akan mendirikan negara sendiri di Xinjiang, yang dahulu disebut Turkestan Timur sebelum dianeksasi oleh Tiongkok. Pada 2009, kerusuhan etnik di Xinjiang menyebabkan ratusan korban jiwa, di tahun-tahun berikutnya Tiongkok mengalami serangan teroris. Pejabat Tiongkok menyebut untuk mengurangi ancaman dari separatisme dan ekstrimisme suku Uighur, pemerintah perlu mengambil tindakan keras bukan hanya kepada pelaku, namun juga kepada sebagian besar populasi suku Uighur.

Analogi medis adalah salah satu cara pemerintah Tiongkok untuk membenarkan  kebijakan penahanan sebagian besar populasi Uighur. Sama halnya dengan menyebarnya flu di sebuah populasi, maka penanganan yang tepat diperlukan bukan hanya bagi yang terjangkit flu, namun perlu juga meningkatkan kekebalan populasi tersebut.

Petugas Kepolisian Tiongkok seperti yang dikonfirmasi Radio Free Asia menyebut mereka diperintahkan untuk menahan populasi tertentu ke kamp pengasingan, bahkan ada yang diperintah untuk mengirim 40% dari populasi lokal ke kamp tersebut.

Pemerintah Tiongkok juga menggunakan bahasa pathologis untuk membenarkan panjangnya masa tahanan. Timothy Grose, ahli Tiongkok dari Institut Teknologi Rose Hulman menyebut tahanan diperlakukan seperti orang yang sakit mental, sehingga tidak ada jaminan akan sembuh total, ada sesuatu yang salah secara mental yang perlu didiagnosa dan diobati dari individu yang ditahan di kamp tersebut. Berikut adalah penjelasan Partai Komunis Tiongkok tentang hal tersebut:

“Selalu ada risiko penyakit itu memanifestasikan dirinya kapan saja, yang mana akan membahayakan publik. Itulah mengapa mereka harus dirawat di rumah sakit reedukasi untuk mengobati dan membersihkan virus dari otak serta mengembalikan pikiran normal mereka. Terinfeksi ekstrimisme agama dan ideologi kekerasan teroris serta tidak mencari pengobatan layaknya terinfeksi penyakit namun tidak diobati.

Setelah menjalani reedukasi dan sembuh dari penyakit ideologis, bukan berarti seseorang sembuh permanen, sehingga mereka harus waspada, memperlajari ideologi dan pengetahuan yang benar, dan aktif dalam kegiatan di masyarakat untuk memperkuat sistem kekebalan mereka.”

Beberapa dokumen lain yang dikeluarkan pemerintah Tiongkok juga menggunakan bahasa medis tersebut. Iklan rekrutmen untuk pegawai di kamp pengasingan menyebut bahwa pengalaman di bidang psikologi adalah nilai tambah. Website Tiongkok menggambarkan sesi reedukasi dimana psikolog melakukan konsultasi dengan orang Uighur dan memperlakukan mereka seperti orang dengan penyakit mental. Sebuah dokumen pemerintah yang dipublikasikan tahun lalu di Prefektur Khotan menyebut indoktrinasi sebagai ‘rumah sakit gratis bagi masyarakat yang memiliki penyakit dalam berfikir’.

Ini bukan pertama kalinya Tiongkok menggunakan analogi medis untuk menekan agama minoritas, Adrian Zenz, peneliti Sekolah Eropa untuk Budaya dan Teologi di Jerman menyebut sebelumnya ada Falun Gong –sebuah praktik spiritual di Tiongkok- yang juga ditekan oleh pemerintah Tiongkok pada awal 2000an dan ‘disembuhkan’ di kamp pengasingan, namun menurutnya tekanan terhadap minoritas Uighur lebih parah dari yang dialami Falun Gong.

Tahir Imin, akademisi Uighur yang menetap di AS mengatakan bahwa beberapa anggota keluarganya ditahan di kamp pengasingan. Ia tidak terkejut agamanya (Islam) dianggap sebagai penyakit. Menurut pandangannya, hal ini merupakan bagian dari usaha Tiongkok untuk memberantas minoritas Muslim dan memaksa mereka berasimilasi dengan etnis mayoritas Han. Disamping Uighur, menurut The Washington Post terdapat pula etnis minoritas Kazakh dan Kyrgyz yang dikirim ke kamp pengasingan.

Ironisnya, dalam menangani Uighur yang dianggap memiliki penyakit psikologis, Tiongkok malah menyebabkan kerusakan psikologis yang sebenarnya. Salah seorang mantan tahanan memberitahu The Independent Ia memiliki pikiran untuk bunuh diri di kamp tersebut. Sama halnya dengan suku Uighur yang mengasingkan diri di negara lain yang mengetahui kondisi keluarganya di Xinjiang, mereka mengaku menderita insomnia, depresi, kegelisahan, dan paranoid.

Murat Harri Uyghur misalnya, dokter yang pada 2010 pindah ke Finlandia mendapat kabar dari keluarganya di Xinjiangbahwa kedua orangtuanya ditahan di kamp pengasingan. Ia kemudian membuat kampanye online ‘Free My Parents’ untuk menggalang dana bagi organisasi advokasi dalam upaya membebaskan orangtuanya. Ia mengalami masalah psikologis seperti sering panik, kemarahan, ketidakberdayaan, dan kelelahan secara bersamaan.

Dalam sebuah wawancara dengan The Globe and Mail, seorang wanita Uighur di Kanada yang mengaku saudara wanitanya ditahan di kamp pengasingan mengatakan dirinya tidak dapat berkonsentrasi dalam hal apapun, Ia tidak dapat tidur dan berat badannya berkurang karena tidak nafsu makan.

Beberapa orang Uighur di luar Tiongkok juga mengalami perasaan bersalah. Mereka paham bahwa Tiongkok mencurigai orang Uighur yang pergi ke luar negeri dan memperlakukan anggota keluarga mereka di Xinjiang dengan tidak baik. Seorang dari suku Uighur yang saat ini berada di Kentucky, mengaku lebih dari 200 hari sejak terkahir Ia bisa berhubungan dengan ayahnya di Xinjiang dan khawatir terhadap keselamatan ayahnya. Ia pun yakin ayahnya dikirim ke kamp pengasingan karena dirinya pergi ke luar negeri untuk bersekolah. Apabila Ia kembali ke Tiongkok, Ia pun akan ditahan seperti ayahnya. (PN)

LEAVE A REPLY