Semarak.news – Demo yang berakhir ricuh pecah di depan Kantor Bupati Deiyai Papua dengan menuntut Bupati Deiyai ikut menandatangani surat pernyataan keinginan referendum.

Langkah ini sebagai perpanjangan dari aksi-aksi sebelumnya di beberapa titik di Papua, akan insiden perilaku rasisme oleh oknum di Surabaya terhadap mahasiswa Papua.    

Kejadian ini sontak menarik perhatian publik, orang nomor satu di Jawa Timur dan Papua Khofifah Indarprawansa dan Lukas Enembe bertemu  secara langsung untuk mengurai agar nyala api ini tidak berkepanjangan. Namun Lukas Enembe mendapat penolakan saat hendak masuk ke asrama mahasiswa Papua di Surabaya.

Saat ini aparat keamanan TNI Polri mengambil langkah tegas, menangkap, dan menyeret oknum pelaku rasis ke meja hijau agar diadili sesuai  dengan undang-undang yang berlaku.
Disisi lain, 27 Agustus kemaren dengan kerendahan hati, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Tito Karnavian beserta rombongan, melakukan Safari ke Papua untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat melalui dialog dengan tokoh agama, adat, wanita, pemuda dan lain-lain di daerah Biak, Jayapura, Timika, Dan Wamena.

Akan tetapi Nyala api kembali membara di bumi terkasih Papua. Kejadian ini ditangani dengan pendekatan humanisme dan persuasif oleh aparat, serta tak satupun dari mereka melakukan pengamanan menggunakan senjata.

Menjadi sangat ironi melalui pendekatan arif tiba-tiba ribuan orang yang datang dari berbagai penjuru melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam dan panah terhadap aparat di Depan Kantor Bupati Deiya Papua.

Kejadian ini menjadi sorotan internasional dengan beredarnya hoax yang sengaja di desain oleh kelompok tertentu bahwa di Deiyai Papua aparat hambur tembakan 6 orang tewas dimuat oleh suarapapua.com dan Reuters London. Padahal faktanya tiga orang meninggal dunia, tediri dari satu anggota TNI dan dua dari warga sipil.

Konflik horizontal ini sudah mulai menjadi banjakan medi-media asing untuk mengeruk pundi-pundi keuntungan. Isu “referendum” akan terus digoreng sampai hasrat nya terlampiaskan oleh sekelompok yang mengatas namakan dirinya Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Papua akan tetap menjadi bagian dari NKRI, sudah final dan tidak ada tawaran lagi. Mari kita sama-sama perangi sikap rasisme yang menjadi penyulut amarah, serta bahu membahu tanamkan jika patriotic berasaskan nilai-nilai pancasila pada diri kita dan seluruh masyarakat di tanah air ibu pertiwi tercinta. CRZ

LEAVE A REPLY