Jokowi Si Putra Langit

Anisa Medina (Pengamat Sosial Politik di Jakarta)

Ada keyakinan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Siapapun yang terpilih menjadi pemimpin ialah dia yang diberi kepercayaan dari Tuhan untuk memimpin rakyatnya. Si tukang kayu kini telah terpilih menjadi orang nomor satu serta mampu memimpin 250 juta rakyat dengan tangan besinya untuk membawa ke zaman keemasan. Ada cita cita besar dalam benaknya untuk mengabdi kepada rakyatnya yaitu melalui kerja keras. Ia mampu membuktikan kepercayaan yang diemban dengan berbagai prestasi atas kepemimpinannya yang telah diakui dunia.

Jokowi memang punya latar belakang dari seorang tukang kayu. Kakek dan ayahnya adalah seorang tukang kayu ulung. Jokowi ingin meneruskan tradisi leluhurnya tersebut dan memilih kuliah dengan jurusan Fakultas Kehutanan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ia sadar, alam lah yang menghidupinya melalui kayu.

Jokowi lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961. Ayahnya Noto Mihardjo adalah seorang penjual kayu di sebuah pinggir jalan di kota Solo. Karir jokowi berawal dari kesuksesannya di bisnis mebel. Jokowi tak pernah melupakan rekan-rekannya sesama pengrajin kayu yang belum berhasil. Ia punya ide merangkul sejumlah Usaha Kecil dan Menengah di bidang perkayuan dan disatukan dalam satu wadah organisasi yaitu Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia Komda Solo. Secara mengejutkan Jokowi diberikan mandat untuk menjadi Ketua. Di organisasi inilah jiwa kepemimpinan Jokowi mulai terlihat. Ia pun mendapat kepercayaan sejumlah pengusaha agar maju dalam bursa pemilihan calon Wali Kota Surakarta periode 2005-2010. Meski tak pernah bersentuhan dengan politik, Jokowi akhirnya terpilih sebagai Wali Kota Surakarta. Dinilai berhasil, Jokowi terpilih kembali sebagai Wali Kota untuk periode 2010-2015. Dia menang mutlak dari lawannya dengan perolehan suara lebih dari 90,09 persen.

Dari Solo, kiprah kepemimpinan Jokowi terdengar hingga kancah nasional. Tahun 2012 dia pun diajukan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Gerindra sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Jokowi dipasangkan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan berhasil terpilih sebagai orang nomor di kota berpenduduk lebih dari 10 juta orang ini. Dua tahun memimpin Jakarta, Jokowi si ‘Tukang Kayu’ itu diberi kepercayaan maju menjadi calon Presiden berpasangan dengan Muhammad Jusuf Kalla. Dia pun terpilih sebagai Presiden Indonesia ketujuh.

Di masa pemerintahan Jokowi-JK, tentu sudah dapat terlihat dan merasakan bagaimana cara kerja dari jajaran kabinet Jokowi-JK ini. Salah satunya adalah kebijakan ekonominya mengenai 1 harga BBM. Seperti yang kita ketahui, harga BBM di macam-macam daerah nusantara pada tahun-tahun sebelumnya sangat bervariasi, bahkan bisa dikatakan terdapat perbedaan yang cukup signifikan untuk harga per daerahnya. Contohnya sendiri adalah di Papua, Premium dihargai sekitar Rp 25-40 ribu per liter sedangkan di pulau Jawa hanya sekitar Rp 5-7 ribu perliter. Tentunya perbedaan ini sangat menimbulkan rasa ketidak-adilan dalam masyarakat Indonesia yang tidak cocok dengan sila ke-5. Dengan tangan besinya, lagi lagi Jokowi membuktikan bahwa ia mampu memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Kini, seluruh rakyat Indonesia bahkan hingga pelosok negeri bisa menikmati BBM 1 harga dan merasakan kesejahteraan dari pemerintah yang dari dulu dimimpi mimpikan.

Di masa periode kedua Jokowi, banyak tantangan yang akan dihadapinya. Puncaknya pada April 2019 mendatang. Masing masing pasangan calon saling bersaing agar dapat dukungan dari rakyat. Perhatian, kasih sayang, dan mengembangkan kesejahteraan rakyat melalui pembangunan ekonomi stabil, infrastruktur menembus terisolisasinya rakyat terpencil, gaya bertutur tidak sombong semua syarat tersebut tampak di Jokowi. Tentu, rakyat sangat yakin Jokowi akan meneruskan perjuangan menjadi nomor satu di NKRI sebagai personifikasi Putra Langit, Putra Rakyat.

Kalau pada Pilpres 2014 lawan Jokowi hanya Prabowo, pada Pilpres 2019 nanti, Jokowi pun harus berhadapan dengan anak-anak Soeharto yang berada di belakang Prabowo. Jelas dukungan mereka akan all out untuk memenangkan Prabowo, dengan segenap harta, jiwa, dan raga mereka. Fitnah yang terus ditujukkan kepada Jokowi seperti anak PKI, hoax, radikalisme dari kelompok yang ingin merebut suara rakyat memanfaatkan klompok masyarakat dengan iming iming syorga untuk datang reuni 212. Haruslah sadar, Putra Langit masih dikehendaki rakyat melanjutkan memimpin Indonesia 2019-2024.

Menjadi presiden itu takdir, dan tidak semua orang ditakdirkan untuk menjadi presiden. Garis tangan seseorang menjadi presiden itu bagaimana rekam jejak dan prilakunya. Takdir Tuhan itu selalu ada dasarnya, bukan tanpa dasar. Jokowi berpikir bagaimana ia bisa berterima kasih pada bangsanya lalu ia mendapatkan jawabannya, bahwa contoh terbaik untuk berterima kasih adalah menjadi pemimpin rakyat yang bertanggung jawab. Ia tak pernah makan uang dari memeras atau pungli, ia makan dari keringatnya sendiri. Dengan begitu hidupnya berkah.

TINGGALKAN BALASAN