Jangan Mau Di Bodohi Oleh Berita Hoax

Sedih dan kecewa, perasaan inilah yang banyak menghampiri masyarakat penikmat berita. Bagaimana tidak sedih melihat media yang hanya mengutamakan popularitas tanpa memperhatikan keakuratan berita atau tulisan yang dipublikasikan. Seharusnya media dapat menjadi sumber informasi yang akurat, berimbang dan terpercaya bagi masyarakat. Salah satu studi kasusnya adalah banyaknya berita yang berisi tuduhan yang berusaha untuk menjatuhkan Presiden bangsa ini, Bapak Joko Widodo. Bahkan, tuduhan negatif tersebut juga dirasakan oleh hampir seluruh pejabat di Kabinet Kerja saat ini. Seakan-akan kerja keras mereka selama ini tidak mendapatkan dukungan dan pernghargaan dari media atau masyarakat Indonesia, namun hanya mendapatkan fitnah dan tuduhan negatif.

Satu persatu tuduhan memghampiri Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Masyarakat sibuk dengan asumsinya sendiri, sibuk dengan memperdebatkan informasi kebohongan yang mendeskriditkan Pemerintahan dengan mengkaitkan isu PKI. Pernyataan demi pernyataan telah dilakukan Jokowi untuk menjawab tuduhan miring yang ditujukan padanya. Tapi tuduhan miring masih tetap dihembuskan oleh pihaj yang menganggap Jokowi adalah seorang musuh politiknya, sehingga dengan tega melayangkan tuduhan serta fitnah keji kepada Jokowi hingga keluarganya semata untuk menjatuhkan Beliau.

Mendekati pilkada, isu PKI terus dihembuskan oleh kelompok ujaran kebencian serta dikaitkan dengan isu SARA melalui akun-akun anonim yang tidak mudah ditelusuri jejaknya. Isu PKI diangkat kembali untuk mendeskriditkan Pemerintah, salah satu isu yang saat ini beredar di dunia maya tertuju pada latar belakang Jokowi yang dikaitkan dengan keturunan PKI. Hal ini sudah mendapat pernyataan resmi dari Ibunda Jokowi yang membantah bahwa keluarganya pernah terlibat dalam gerakan komunisme di Indonesia.

Indonesia merupakan negara cerdas. Negara yang dapat bersaing dengan negara lain sudah dipastikan bahwa negara tersebut cerdas, sehingga pemimpinnya pun tidak sembarang dipilih. Indonesia memiliki instansi terbaik dalam melakukan tugasnya, salah satunya Badan Intelijen Negara (BIN) dimana pada masa Sutiyoso, BIN telah menyelidiki latar belakang Jokowi dan terbukti bahwa Jokowi bukan keturunan PKI. Terdapat fakta bahwa Presiden Jokowi pernah menyatakan, “Isu yang menyebut saya PKI adalah penghinaan. Berulang kali saya jelaskan bahwa Bapak dan Ibu saya itu haji. Keluarga saya jelas. Orangnya juga sudah kenal semua. Kakek saya lurah di Karanganyar, sedangkan kakek dari Ibu adalah pedagang kecil.”

Sebagai masyarakat harus percaya dengan pemimpin negaranya. Sejak tersebar isu Jokowi seorang PKI dari tahun 2014 hingga saat ini tidak ditemukan adanya kelompok, markas serta keributan yang dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan PKI. Berita yang tersebar hanya asumsi yang tidak mendasar dari oknum kepentingan yang menghalalkan segala cara dengan menyebarkan berita kebohongan dan mempermainkan masyarakat Indonesia untuk saling membenci.

Sungguh miris melihat beberapa masyarakat yang sibuk berlomba menghujat Presiden RI. Apabila kita berfikir menggunakan logika, untuk apa Jokowi membuat program kerja untuk merubah wilayah perbatasan menjadi halaman depan Indonesia, dengan membangun jalan tol di wilayah Papua dan wilayah lainnya? Berusaha memajukan insfrastruktur wilayah perbatasan?

Ya itu semua dilakukannya karena Jokowi memiliki rasa nasionalis yang berdasarkan pancasila, sehingga beliau ingin menyamaratakan seluruh wilayah di Indonesia agar tidak ada lagi kalimat “terbelakang”. Semua ini butuh proses dan proses inilah yang membutuhkan dukungan masyarakat itu sendiri. Mengapa minimnya pemberitaan terkait keberhasilan kinerja Jokowi yang saat ini sudah mulai terasa? Mengapa minimnya apresiasi masyarakat terhadap kinerja Jokowi yang telah berhasil membangun Indonesia dari pinggir?

Oleh karena itu, diharapkan masyarakat mampu dan teliti dalam menyikapi berita kebohongan serta dapat melihat indikasi seseoranf dapat dinyatakan PKI atau tidak. PKI dapat dijadikan senjata tajam karena PKI telah melekat dibenak masyarakat Indonesia sebagai organisasi terlarang yang membawa luka lama bangsa Indonesia. Untuk itu, sebagai masyarakat yang budiman alangkah lebih baiknya untuk tidak terprovokaai terhadap isu tersebut.

Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dialami di Indonesia, melihat keanekaragaman yang dimili Negara Republik Indonesia. Namun, perbedaan ini bukan alasan untuk melakukan upaya menyebarkan informasi berupa fitnah dan kebohongan apalagi menyangkut latar belakang seorang pemimpin bangsa dengan fakta yang tidak mendasar dan demi keuntungan diri sendiri akan mendapatkan sanksi yang besar.

TINGGALKAN BALASAN