Veronica Koman, Mahasiswa yang Diberikan Beasiswa oleh RI, lalu Ingkar Janji Menyerang...

Veronica Koman, Mahasiswa yang Diberikan Beasiswa oleh RI, lalu Ingkar Janji Menyerang RI

0
164
Veronica Koman tersangka rusuh Asrama Papua ternyata kuliah di Australia dibiayai Beasiswa Indonesia
Veronica Koman tersangka rusuh Asrama Papua ternyata kuliah di Australia dibiayai Beasiswa Indonesia

Sorong, Semarak.News – Masih ingat Veronica Koman? Polisi menetapkan Veronica Koman sebagai tersangka terkait huru-hara di Provinsi Papua. Veronica Koman saat ini berada di luar wilayah Indonesia. Fakta baru soal Veronica Koman disampaikan Menkopolhukam Mahfud MD. Ternyata Veronica Koman kuliah di luar negeri tepatnya di Australia atas biaya beasiswa dari Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menilai bahwa aktivis dan pengacara Veronica Koman sebagai warga negara Indonesia yang ingkar janji. Sebab, dia merupakan pelajar dan WNI yang mendapat beasiswa di Tanah Air, namun dianggap Mahfud, menolak untuk pulang.

“Veronica Koman itu warga negara Indonesia yang mendapat beasiswa untuk belajar ke Australia, dan mengingkari janji untuk kembali ke Indonesia sebagai penerima ikatan beasiswa,” kata Mahfud di Kantor Kemenkopolhukam, Selasa (19/11/2019).

Saat ini banyak desakan agar pemerintah mencabut kasus hukum yang menjerat Veronica Koman. Salah satu desakan juga datang dari Komisaris Tinggi PBB untuk HAM (OHCHR). Sebab, Veronica kini berstatus tersangka kasus dugaan penyebaran hoaks dan konten provokatif atas penyerangan asrama Mahasiswa Papua beberapa waktu lalu.

Menurut Mahfud MD, pihaknya telah menjelaskan perihal Veronica Koman kepada Pemerintah Australia. Saat ini, Veronica Koman memang masih melakukan studi S2-nya di Australia.

“Saya sudah katakan juga ke Pemerintah Australia. Kalau kami bicara Veronica Koman bukan karena dia berbicara lantang di negara Anda, tapi ini soal hukum kami, hak hukum kami. Dia harus bertanggung jawab,” kata dia.

Pada awal Oktober lalu, Veronica Koman diketahui muncul dalam sebuah tayangan televisi Australia bertajuk “The World” di ABC TV. Dalam program tersebut ia menyebut bahwa penetapan tersangka oleh Polda Jawa Timur kepada dirinya merupakan upaya Pemerintah RI untuk menghancurkan kredibilitasnya.

“Sebab mereka tidak bisa membantah data serta rekaman video dan foto yang saya punya sehingga mereka hanya bisa menyerang kredibilitas saya,” kata Veronica.

Sebelumnya, Veronica dituding tidak pernah membuat laporan pertanggungjawaban sebagaimana umumnya mahasiswa yang memperoleh beasiswa sejak tahun 2017. Akan tetapi, Veronica membantah tuduhan itu. Veronica mengakui ia terlambat memberi laporan studi kepada institusi pemberi beasiswa. Namun, ia menegaskan bahwa persoalan itu telah selesai pada 3 Juni 2019.

Muncul di TV Padahal Buronan Polisi Indonesia

Meski namanya ada dalam daftar merah pencarian polisi internasional dan DPO di Indonesia, Veronica Koman tak gentar. Terbukti dari kemunculannya di media asing komentari masalah di Papua menyatakan dirinya akan terus menyuarakan pelanggaran HAM dan ketidakadilan yang dialami rakyat Papua.

Dilansir ABC Australia, Veronica Koman berkata telah meminta kepada pihak keluarganya untuk bersabar karena persoalan yang dialami rakyat di Papua jauh lebih berat.

“Saya tidak akan berhenti,” kata Veronica Koman dalam wawancara khusus dengan program The World ABC TV yang ditayangkan, Kamis (3/10/2019) malam.

Veronica Koman saat ini sedang dicari oleh pihak Kepolisian RI setelah dijadikan tersangka, sehingga selama beberapa waktu dia memilih mengambil sikap low profile, khususnya terhadap media. Sebelum berbicara dengan presenter ABC Beverley O’Connor, Veronica Koman juga sudah melakukan wawancara dengan stasiun televisi Australia lainnya, SBS TV.

Ditanya mengenai keputusannya untuk akhirnya bersedia diwawancara, Veronica Koman menyatakan hal itu didorong oleh situasi di Papua yang semakin memburuk.

“Sebab saya kira saat ini kita menyaksikan periode paling suram di Papua dalam 20 tahun terakhir. Kini ada tindakan keras yang belum pernah terjadi sebelumnya di sana,” jelasnya mengatakan.

Apakah Veronica Koman tidak khawatir dengan keselamatan dirinya sendiri saat ini?

“Tentu saja saya khawatir dengan diri saya dan keluarga saya di Indonesia. Tapi hal itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang dialami rakyat Papua,” ujarnya.

Menanggapi status tersangka yang dikenakan terhadap dirinya dengan tuduhan sebagai provokator, Veronica Koman melihat hal itu tak lebih dari upaya pemerintah RI untuk menghancurkan kredibilitasnya.

“Sebab mereka tidak bisa membantah data serta rekaman video dan foto yang saya punya sehingga mereka hanya bisa menyerang kredibilitas saya,” kata Veronica Koman.

Mengenai upaya pihak berwenang dengan meminta bantuan Interpol dan Pemerintah Australia untuk memulangkannya ke Indonesia, Veronica Koman juga mengaku khawatir.

“Tapi saya berharap Pemerintah Australia tidak akan menuruti tuntutan bermotif politik ini. Sebab Pemerintah Indonesia kini membungkam siapa saja yang menyuarakan mengenai Papua,” tegasnya mengatakan.

Sejauh ini Pemerintah Australia belum pernah melakukan kontak kepada Veronica Koman. Veronica Koman berharap agar Pemerintah Australia dapat setidaknya meminta kepada Pemerintah RI untuk membuka akses bagi para jurnalis internasional dan Komisi HAM PBB ke Papua.

Akses untuk masuk ke Papua bagi Komisi HAM PBB sebenarnya telah dijanjikan Pemerintah RI sejak dua tahun lalu.

“Saya kira masalah HAM itu melampaui perjanjian bilateral kedua negara,” katanya.

Australia dan Indonesia saat ini terikat pada perjanjian “Lombok Treaty” yang disepakati pada tahun 2006 dan mulai berlaku sejak 7 Februari 2008. Perjanjian itu mengikat Australia untuk menghormati kedaulatan NKRI yang mencakup wilayah Papua di dalamnya.

Menanggapi tudingan banyak pihak yang menyebut upaya Veronica Koman dalam menyebarkan rekaman dan informasi kejadian di Papua melalui media sosial justru semakin memperkeruh situasi, dia mengaku bahwa dirinya telah menyaring segala informasi yang disebarkannya.

“Misalnya saat terjadi kerusuhan di Wamena, saya sangat berhati-hati untuk tidak menyebarkan rekaman yang melibatkan konflik horizontal antara penduduk asli dan pendatang. Saya sangat berhati-hati mengenai hal itu,” katanya.

Lalu, apa sebenarnya dampak yang bisa dicapai dengan segala aktivitas yang dilakukan Veronica Koman dan para aktivis lainnya terkait situasi di Papua?

“Kami ingin mengekspos situasi Papua ke dunia luar… apa yang saya laporkan melalui medsos paling tidak bisa memandu para jurnalis untuk mengabarkan apa yang terjadi,” jelasnya mengatakan.

Meski kini dia terpaksa meninggalkan tanah airnya, namun Veronica Koman dengan tegas menyatakan tidak akan berhenti.

“Keluarga saya diintimidasi, orangtua saya sudah dua kali menangis meminta saya berhenti. Tapi saya sampaikan ke mereka untuk bersabar karena masalah ini jauh lebih besar dari kita,” ujarnya.

Beberapa waktu terakhir nama Veronica Koman jadi trending topic dan menjadi pembicaraan dimana-mana. Setelah dirinya menjadi tersangka provokator dalam kerusuhan Papua dan Papua Barat, keberadaan Veronica Koman bahkan belum diketahui. Dirinya juga belum ditahan pihak kepolisian.

Sumber: https://makassar.tribunnews.com/2019/11/20/tiba-tiba-mahfud-md-bahas-veronica-koman-tersangka-rusuh-papua-ternyata-kuliah-australia-beasiswa-ri?page=all

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY