Kolombo, Semarak.news – Intelijen Sri Lanka mengakui kebobolannya pasca serangan bom pada Minggu Paskah yang menewaskan 359 orang dan melukai lebih dari 500 orang.

Peringatan dari intelijen India pada awal bulan sudah muncul tentang serangan tersebut. Namun informasi itu tidak disebarkan oleh pihak berwenang.

“Kami harus bertanggung jawab karena sayangnya jika berbagi informasi intelijen telah diberikan kepada orang yang tepat, saya pikir setidaknya ini bisa menghindari atau bahkan meminimalkan,” ujar Wakil Menteri Pertahanan Ruwan Wijewardene dalam pertemuan dengan Parlemen Sri Lanka dikutip dari BBC, Kamis (25/4).

Pemimpin Parlemen Sri Lanka, Lakshman Kiriella, mengatakan para pejabat tinggi intelijen sengaja menyembunyikan intelijen tentang kemungkinan serangan.

“Beberapa pejabat tinggi intelijen menyembunyikan informasi intelijen dengan sengaja,” katanya kepada ang

gota parlemen.

“Informasi ada di sana tetapi para pejabat tinggi keamanan tidak mengambil tindakan yang tepat,” tambahnya.

Kriella mengatakan tip-off India telah diterima pada 4 April, namun kantor berita Reuters mengatakan, Presiden dan PM Ranil Wickremesinghe dilaporkan tidak menerima laporan intelijennya.

Pasca serangan itu Presiden Sirisena mencopot Menteri Pertahanan Hemasiri Fernando dan mengambil alngkah untuk memecat Inspektur Jenderal Polisi, Pujith Jayasundara.

Dari hasil penyelidikan didapatkan bahwa delapan dari sembilan pelaku penyerangan diidentifikasi sebagai warga negara Sri Lanka.

Saat ini Pemerintah Sri Lanka sedang menyelidiki keterlibatan ISIS dalam serangan yang terjadi di beberapa gereja dan hotel kelas atas itu.

Kepolisian Sri Lanka masih mencari pemimpin kelompok Islam di sana, Zahran Hashim, yang masuk dalam sebuah foto yang dirilis oleh IS. Masih belum diketahui apakah ia termasuk di antara sembilan pelaku bom bunuh diri atau tidak.

Infromasi terbaru diketahui bahwa salah satu pelaku penyerangan pernah belajar di Inggris dan Australia sebelum kembali ke Sri Lanka (DC)

LEAVE A REPLY