Indonesia Gudang Teroris?

[sumber: tribun solo]

Jakarta, Semaraknews – Masa modern sekarang ini banyak hal yang menjadi perbincangan di kalangan publik. Salah satunya adalah radikalisme. Banyak sudut pandang dalam menganalisis hal yang satu ini. Segi psikologi, ideologi, sosiologi sampai politik pun menjadi sudut pandang yang sering digunakan dalam memberikan argumen sampai tanggapan mengenai beberapa fenomena yang terjadi terkait radikalisme sendiri. Ada yang berpendapat bahwa radikalisme muncul akibat kejenuhan ataupun ketidakpuasan terhadap suatu kebijakan/keadaan yang ada di suatu wilayah. Ada juga yang mengatakan bahwa radikalisme adalah akibat dari adanya penyelewengan suatu paham. Sidney Jones mengatakan, radikalisme sekarang ini memang lebih terbuka, anggapan bahwa kelompok merekalah yang paling benar adalah salah satu sebab munculnya gerakan radikal tersebut. Di Indonesia sendiri paham radikal selalu erat dihubungkan dengan terorisme. Kasus-kasus yang terjadi menjadi gambaran jelas akan eksistensi terorisme di Indonesia.

Perbincangan mengenai radikalisme seakan-akan selalu mengarah ke terorisme. Tidak hanya di Indonesia, permasalahan terorisme sudah menjadi topik hangat di dunia terlebih pasca tragedi World Trade Center (WTC) 11 September 2001 silam. Latar belakang, sasaran, organisasi, sampai kebijakan perang melawan teroris merupakan unsur-unsur yang mengikuti isu terorisme. Di Indonesia, ancaman terorisme yang ada tidak lepas dari tatanan politik global yang kini dikendalikan AS dan sekutunya. Sistem politik dalam negeri pun ikut memicu aksi terror yang ada. Kita akui bersama, gerakan teroris yang melakukan pengeboman terhadap gereja-gereja dan café-café di Tanah Air sejak thun 2000-an merupakan awal dari gerakan-gerakan terror atas nama Tuhan berikutnya. Bom Bali I dan II, bom Kuningan (JW Marriot dan Kedubes Australia) dan bom-bom lainnya sampai sekarang fenomena ISIS yang masih marak diperbincangkan adalah rentetan kejadian yang banyak menjadi sorotan dunia terhadap Indonesia. Hal-hal tersebut jika dilihat kembali merupakan salah satu efek dari demokratisasi politik yang jelas memberi ruang public untuk berekspresi sesuai keinginan mereka dengan mengatasnamakan HAM perihal kebebasan berpendapat. Mulai dari aksi terror bom 4 Oktober 1984 di BCA Pecenongan, Glodok, dan Gajah Mada yang menewaskan 2 orang, kejadian ini menjadi titik awal gerakan radikal terorisme di Indonesia, pelaku bernama Muhammad Jayadi, Chairul yunus, Tasril Tuasikal, Hasnul Arifin, dan Edi Ramli. Dan masih banyak terror bom dalam kurun waktu 10 tahun terakhir yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu ‘sarang teroris’ di dunia. Sampai pada sekarang ini yang masih menggebu dibicarakan yaitu Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Banyak analisis dari para penulis-penulis artikel mengenai fenomena tersebut. Ada yang beranggapan bahwa ISIS adalah buatan CIA dan Mossad untuk memecah belah Islam. Ada juga yang hanya memaparkan fakta-fakta tentang ISIS dan aksi-aksi yang dilakukannya. Berdasarkan informasi yang berkembang, pemimpin ISIS, Abu Bakr Al-Baghdadi adalah mantan agen Mossad. Anehnya informasi yang lain juga menyebutkan bahwa bisa saja Baghdadi hanyalah simbol yang dibuat ISIS karena selama ini ia hanya muncul dalam 2 foto. Yang mengejutkan ialah pernyataan dari mantan Menlu AS Hillary Clinton dalam bukunya ‘Hard Choice’ yang menuliskan bahwa gerakan di Suriah tersebut memang bentukan AS dan sekutunya untuk membuat Timur Tengah senantiasa bergejolak. Dikatakan juga, ISIS dibentuk pada 5 Juni 2013 AS bersama dan sekutunya demi memecah belah Timur Tengah melalui gerakan “Arab Springs“. Bahkan terdapat satu gambar yang me’meleset’kan singkatan ISIS menjadi Israeli Secret Intelligence Service’.

ISIS di Indonesia sendiri telah menunjukan eksistensinya sejak adanya gerakan-gerakan yang mengatasnamakan bendera hitan dengan tulisan tauhid tersebut di beberapa daerah. Belum lama ini tepatnya pada 23 Februari 2015 ledakan ringan terjadi di ITC Depok. Meskipun tidak mengakibatkan korban jiwa namun diduga kelompok yang melakukan aksi teror di Depok itu sama dengan yang melakukan peledakan di Cirebon dan sejumlah aksi teror di Poso, Sulawesi Tengah. Mengejutkan tatkala ledakan di Depok tersebut adalah jenis ledakan kimia. Hal ini dikarenakan kekhawatiran kemungkinan berkembangnya teknik teroris dalam hal pengeboman dengan sudah menginjak pada bom kimia masa depan. Peneliti di Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial UI, Solahudin mengatakan bom kimia ini memang ciri khas ISIS, namun masih terlalu terburu-buru untuk menyatakan bahwa kejadian tersebut sudah pasti dibawah komando ISIS.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan sekitar 2 juta orang telah berbaiat kepada ISIS di Indonesia. 56 orang telah berangkat ke Suriah, 2 diantaranya adalah pelaku bom bunuh diri dalam serangan ISIS di Irak beberapa waktu lalu. Hal ini telah menunjukan betapa berbahayanya pengaruh ISIS di Indonesia tatkala tidak ada pengawasan baik dari pemerintah maupun masyarakat itu sendiri. BNPT juga telah menghimbau pada para orang tua agar lebih menjaga anak mereka dari penculikan oleh ISIS yang bisa saja terjadi. Peran pemerintah dalam menangkal pengaruh ISIS di Indonesia melalui kebijakan-kebijakan yang ada harus diselaraskan dengan dukungan masyarakat. Kedua hal tersebut adalah jalan utama demi meminimalisir perkembangan paham ISIS dan paham-paham radikal lainnya di Indonesia.

TINGGALKAN BALASAN