Toleransi antar umat beragama sangatlah dibutuhkan di negeri ini. Mengingat negera Indonesia merupakan Negara yang kaya akan budaya, susku, ras dan agama. Toleransi, bukanlah sekadar semboyan ataupun imaji.  Ia hadir sejak mula negara ini berdiri, bahkan jika kamu percaya, ia adalah naluri. Tidak ada manusia diciptakan untuk saling membenci sejak lahir karena asal usul, warna kulit, agama, atau perbedaan lainnya.  Tuhan menciptakan perbedaan sejak turunnya manusia ke Bumi, dan bukan untuk saling bermusuhan atau menghancurkan. Lalu, apa alasan kita untuk menolak perbedaan?

Insiden penolakan ustad Abdul Somad di Bali oleh sejumlah massa yang tergabung dalam ormas sangat merusak nilai toleransi yang sudah dibangun selama ini di tanah air. Menurut Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, cara-cara yang dilakukan ormas tersebut ketika menyerang hotel tempat Ustad Abdul Somad berceramah pada Sabtu (9/12), sangat merusak toleransi yang dibangun di Indonesia.

Peristiwa tersebut menjadi pelajaran untuk mengingat kembali makna toleransi antar umat beragama di manapun berada. Menumbuhkan dan menciptakan toleransi antra umat beraga harus dimulai dari lingkungan terkecil masyarakat agar kerukunan antar masyarakat dapat tercipta sehingga dapat menjaga keharmonisan serta ketentraman.

Toleransi antar umat beragama harus tercermin pada tindakan-tindakan atau perbuatan yang menunjukkan umat saling menghargai, menghormati, menolong, mengasihi, dan lain-lain. Termasuk di dalamnya menghormati agama dan iman orang lain; menghormati ibadah yang dijalankan oleh orang lain; tidak merusak tempat ibadah; tidak menghina ajaran agama orang lain; serta memberi kesempatan kepada pemeluk agama menjalankan ibadahnya. Di samping itu, maka agama-agama akan mampu untuk melayani dan menjalankan misi keagamaan dengan baik sehingga terciptanya suasana rukun dalam hidup dan kehidupan masyarakat serta bangsa. Jika semua orang menjalankan agamanya masing-masing dengan sebenar-benarnya, maka sudah pasti akan melahirkan kedamaian, ketentraman hidup dan kerjasama sosial yang sehat.

Oleh : Eriska Rahmadani (Pegiat Media Sosial )

LEAVE A REPLY