IMPI Selenggarakan Seminar Nasional bertemakan Pembangunan Kota Berkelanjutan yang Inovatif

Aceh, Semarak.News – Perkembangan pembangunan kota berkelanjutan di Banda Aceh merupakan salah satu program yang menjadi perhatian pemerintah setempat setelah terjadinya bencana tsunami tahun 2004. Oleh karenanya untuk mengetahui progres perkembangan Kota Banda Aceh maka Ikatan Mahasiswa Perencanaan Lingkungan atau biasa disingkat IPMI koordinator wilayah satu yang mencangkup pulau Sumatera menyelenggarakan seminar nasional yang bertemakan pembangunan kota berkelanjutan yang inovatif pada 26 Februari 2018 dengan pembicara Kepala Bappeda Kota Banda Aceh (Ir. Gusmeri MT), Wakil Ketua II DPR Aceh (Teuku Irwan Johan, ST), dan Ketua Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia Aceh (Ir. Mirza Irwansyah, MLA, PH. D, IALI). Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan yang diawali dengan rapat koordinasi oleh masing-masing BEM FT beberapa universitas di Pulau Sumatera, dilanjutkan dengan Seminar Nasional, dan feel trip sebagai penutup dihari selanjutnya.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Jurusan Infrastruktur Fakultas Tehnik, Universitas Syiah Kuala di gedung ACC Sultan Selim tersebut dimulai pukul 09.00 dan dibuka dengan tari penyambutan. Tampak antusias mahasiswa dalam menyimak beberapa pemaparan yang disampakian oleh pembicara.

Pembicara pertama di awali oleh Wakil Ketua II DPR Aceh, bapak Irwan Johan. Beliau menyampaikan bahwa kontribusi legislatif dalam mendukung pembangunan kota yang berkelanjutan antaralain, pembuatan perda dalam hal ini biasa disebut dengan kanun contohnya perlindungan lahan pertanian berkelanjutan, perlindungan sapi betina Aceh, perlindungan satwa langka, hingga perlindungan situs bersejarah dan cagar budaya. Kemudian, sebagai legislatif beliau bertugas untuk menyusun anggaran dalam pembangunan kota yang berkelanjutan. Dan terakhir adalah menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah yang menjalankan tugas.

Kesempatan kedua diberikan kepada Kepala Bappeda Kota Banda Aceh, Ir. Gusmeri MT.  Dalam seminar tersebut beliau menyampaikan sejak terjadinya bencana tsunami tahun 2004 dapat dilihat progres percepatan pembangunan kota Aceh pada tahun 2016. Hal tersebut dapat dilihat dari segi pertumbuhan ekonomi dari 4,81% menjadi 6,31%, segi inflasi dari 6,97% menjadi 3,13%, pendapatan asli daerah dari 9,5 miliar menjadi 258 miliar, PDRB perkapita Rp. 7,6 juta menjadi Rp 62 juta, populasi jiwa 239.146 menjadi 254.904, persentase penduduk miskin dari 8,89 %menjadi 7,41%. Dari semua hal tersebut disayangkan bahwa tingkat pengangguran meningkat dari 10,10% menjadi 12,00%. Beliau menambahkan pembangunan infrastruktur kota yang ramah lingkungan dan berkelanjutan sudah menjadi komitmen pemerintahan pada periode ini, beberapa masalah yang ada akan menjadi bahan evaluasi dan beliau berkomitmen untuk tetap menjadikan Kota Banda Aceh sebagai Kota yang sustainable city dan  sustainable development melalui dibuatnya visi dilanjutkan target jelas dari segi ekonomi, sosial, dan lingkungan dilandasi dengan keyakinan yang kuat diakhiri dengan aksi nyata dari semua pihak.

Sebagai pembicara ketiga Ketua Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia Aceh (Ir. Mirza Irwansyah, MLA, PH. D, IALI) menyampaikan terkait kota rendah emisi karbon / Low-Karbon City dengan melakukan optimalisasi ruang terbuka hijau (RTH) melalui pembentukan low emissions development. Langkah awal adalah dengan merealisasikan konsep kota hijau di Kota Banda Aceh. Perencanaan yang sudah dibuat antaralain pembuatan RTH Hutan Kota Tibang Seluas 90 Ha, RTH Sungai Krueng Aceh, RTH Ulee Lheu, dan RTH Telaga/Sungai Mati Krueng Aceh, serta optimalisasi RTH Wilayah Perkotaan (URBAN).

Pembangunan kota berkelanjutan sangat membutuhkan integrasi antara masyarakat dan pemerintah, hal ini perlu segera direalisasikan sehingga manfaatnya dapat dirasakan 20-50 tahun ke depan. Konsep pembangunan kota berkelanjutan dan ramah lingkungan tidak dapat berjalan jika salah satu pihak tidak secara optimal merealisasikan program tesebut.(MH) 

TINGGALKAN BALASAN