Hijrah, Gaya Hidup Baru Pemuda Kota Bandung

Oleh: Putra N.*

Bandung, kota dengan julukan Paris van Java ini selalu menjadi pusat mode di Indonesia. Bukan hanya mode berpakaian, Bandung juga menjadi model dalam hal gaya hidup, terutama bagi kaula muda.

Ditengah hingar bingar daerah metropolitan, ada gaya hidup baru yang tengah berkembang di Bandung. Gaya hidup Islami yang kita kenal dengan nama ‘Hijrah’. Kata hijrah berasal dari Bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat.

Dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam. Namun dalam konteks kekinian, hijrah diartikan sebagai beranjak dari kehidupan yang penuh dengan dosa menuju kehidupan yang menjalankan kewajiban agama Islam dan sunnah Rasulullah SAW.

Gaya hidup ‘hijrah’ dikalangan pemuda sendiri tercermin dari pengajian agama yang kuantitas dan kualitasnya meningkat. Setiap hari, ada puluhan kajian agama yang dikemas dengan sosialisasi serta penyampaian materi yang kekinian, terlebih setiap kajian tersebut mampu menarik puluhan bahkan ratusan pemuda untuk hadir mendengarkan. Ustad muda nan gaul seperti Ust. Hanan Attaki misalnya. Setiap Ust. Hanan menyampaikan kajian, sedikitnya 1000 orang yang menghadiri, padahal kajian tersebut biasanya dilakukan pada mid-week dan jam pulang kerja.

Kebiasaan pada malam minggu ketika kaula muda biasanya menghabiskan waktu dengan hang-out bersama teman atau pasangan perlahan mulai berubah menjadi menghadiri kajian, bahkan di beberapa masjid ada yang mengadakan malam pembinaan iman dan takwa (Mabit).

Penulis sendiri baru beberapa minggu di Bandung dan hanya menghadiri beberapa kajian, saya mengira kajian yang akan saya hadiri paling hanya dihadiri oleh puluhan orang, namun saya salah. Di Masjid Al-Lathif, Cihapit, ketika itu merupakan malam minggu dan yang menyampaikan materi adalah Ust. Nur Ihsan Jundullah atau dikenal dengan Kang Abe. Dalam kajian itu, masjid sangat penuh bahkan harus ada jamaah yang berada di luar masjid, termasuk saya.

Kajian kedua yang saya hadiri adalah kajian Ust. Abdul Somad di Masjid Raya. Ketika itu saya hadir dua jam sebelum acara di mulai. Antusiasme masyarakat Bandung sangat tinggi sehingga saya tidak bisa masuk masjid karena sudah sangat penuh, di alun-alun pun sama, sangat penuh hingga ratusan orang harus berdiri untuk menyaksikan layar besar yang disediakan panitia, kepolisian mengestimasi jumlah jamaah yang hadir sekitar 30.000 orang.

Menurut pengamatan amatiran saya, ada beberapa faktor yang menyebabkan berkembangnya gaya hidup ‘hijrah’.

Faktor pertama, disadari atau tidak, disebabkan oleh Aksi Bela Islam pada pilkada DKI lalu. Terlepas dari unsur politik di dalamnya, Aksi Bela Islam yang dikampanyekan sangat massif di sosial media memunculkan kesadaran umat Islam untuk mengetahui agamanya lebih dalam. Itulah mengapa kajian-kajian Islam pasca Aksi Bela Islam mengalami peningkatan dalam kuantitas jamaah.

Faktor kedua merupakan sosial media. Smartphone dan sosial media saat ini telah menjadi kebutuhan primer kaula muda, hal ini dimanfaatkan oleh para pendakwah untuk menyebarkan ajaran Islam melalui foto, video, dan caption yang dapat menarik perhatian anak muda jaman now. Sosialisasi kajian-kajian Islam pun dapat dengan mudah dilakukan, sehingga baik orang yang ingin hijrah dan pendakwah dapat saling bertemu dengan lebih mudah.

Faktor ketiga adalah munculnya pendakwah muda dan gaul seperti Ust. Hanan Attaki dan Kang Abe serta pendakwah karismatik seperti Ust. Abdul Somad. Dengan memahami masalah yang dihadapi kaula muda seperti masalah jodoh, pekerjaan, kegalauan dsb, ustad-ustad tersebut berhasil merebut hati banyak pemuda yang kemudian ‘kepo’ dengan agamanya sendiri, sehingga yang awalnya hanya mendengar kajian tentang jodoh berangsur-angsur tertarik untuk mendengar kajian ‘serius’ semisal tauhid, bahkan dari ustad-ustad lain. Hal tersebut menyebabkan kaula muda bukan sekedar tertarik dengan sosok sang ustad, namun juga tertarik dengan kebenaran ajaran agamanya. Yang lebih menarik adalah ustad-ustad yang menjadi panutan kaula muda tersebut jarang sekali muncul di televisi nasional.

Faktor-faktor diatas saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain dan apabila ritmenya terus teratur, gaya hidup ‘hijrah’ dan menghadiri kajian Islam akan menjadi sebuah tren baru yang viral di Indonesia. Jangan heran apabila dalam beberapa bulan atau tahun muncul anggapan ‘tidak gaul jika belum pernah menghadiri kajian’.

 

*Penulis merupakan mahasiswa tingkat akhir jurusan Ilmu Politik di salah satu universitas di Palembang dan kontributor Semarak.News.

TINGGALKAN BALASAN