Hari ini dalam sejarah: Penyobekan bendera di Yamato!

Hotel yamato yang kini menjadi hotel majapahit. sumber: Kompas.com

Surabaya, Semarak.news – 19 september 2018 , tepat di atas hotel yamato yang kini menjadi hotel majapahit  menjadi tempat bersejarah yang tidak bakal bisa dilupakan. Tepat 74 tahun yang lalu, terjadi penyobekan bendera belanda sebagai bentuk perlawanan indonesia terhadap belanda.

Kronologis Sejarah

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan dikeluarkannya maklumat pemerintahan Soekarno tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya.

Di berbagai tempat strategis dan tempat-tempat lainnya bendera Indonesia dikibarkan. Antara lain di teras atas Gedung Kantor Karesidenan (kantor Syucokan, gedung Gubernuran sekarang, Jalan Pahlawan) yang terletak di muka gedung Kempeitai (sekarang Tugu Pahlawan), di atas Gedung Internatio, disusul barisan pemuda dari segala penjuru Surabaya yang membawa bendera Indonesia datang ke Tambaksari (lapangan Stadion Gelora 10 November) untuk menghadiri rapat raksasa yang diselenggarakan oleh Barisan Pemuda Surabaya.

Saat rapat tersebut lapangan Tambaksari penuh lambaian bendera merah putih disertai pekik ‘Merdeka’ yang diteriakkan massa. Pihak Kempeitai yang telah melarang diadakannya rapat tersebut tidak dapat menghentikan dan membubarkan massa rakyat Surabaya tersebut. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya kemudian terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato atau Oranje Hotel (sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

Teatrikal penyobekan bendera di Hotel Yamato yang kini menjadi majapahit. Sumber: Kompas.com

Peristiwa tersebut tak akan terlupakan

Peristiwa ini tidak akan terlupakan sepanjang masa, hal ini tetap saja akan dikenang. Hari ini 19 September 2018, pada pukul 06.00-10.00 WIB jalan Tunjungan surabaya ditutup semantara untuk mengingat peristiwa bersejarah masa lalu.

Hal positif seperti akan terus berlangsung dan dilestarikan. Selain menjadi sarana seni, juga menjadi pengetahuan bagi masyarakat Surabaya terhadap kejadian yang terjadi di kota. (AL)

TINGGALKAN BALASAN