Jakarta, Semarak.news – Harga minyak dunia sedang mengalami penurunan sebanyak 2 persen. Pemicu utama pelemahan harga minyak dunia akibat kekhawatiran pasar terhadap perlambatan permintaan global.

Harga minyak Brent yang menjadi patokan turun 2,2 persen dari US$1,35 menjadi US$61,34 per barel. Ada pula minyak mentah West Texas Intermediate(WTI) berjangka AS turun 3 persen dari US$1,65 menjadi US$52,38 per barel.

Penurunan harga minyak dunia akibat adanya perang dagang antara AS-China yang masih berlangsung hingga saat ini. Hal ini menghambat kenaikan harga minyak dunia sejak Desember 2018. Saat ini harga minyak dunia turun ke level yang lebih rendah dari sebelumnya dan belum adanya tanda-tanda akan adanya kenaikan.

Direktur Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian mengatakan akan adanya ketidakpastian terkait perang dagang antara AS dengan China, hal ini akan menekan pertumbuhan ekonomi dan permintaan global.

Pasar akan terbebani dengan permintaan yang terus berdatangan namun di lain sisi tidak mampu menyerap pertumbuhan produksi minyak. Namun beberapa pekan terakhir harga ditopang oleh fundamental pasukan meskipun tetap adanya kekhawatiran terhadap lemahnya fundamental makroekonomi.

Data ketenagakerjaan AS mencatat pertumbuhan ekonomi yang terjadi merupakan yang terendah semenjak 30 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi akan terus menurun apabila perang dagang antara AS dengan China tidak segera diakhiri.

Sementara itu, AS memberikan sanksi kepada industri perminyakan Venezuela sehingga penjualan ekspor minyak dari Venezuela akan tertahan. Hal ini membuat penurunan produksi minyak dan pasokan minyak dari Venezuela.

Penurunan harga minyak akan menstimulasi aktifitas ekonomi dan permintaan minyak, permintaan akan terus bertambah terkhusus di pasar negara berkembang berdasarkan teori supply and demand.

OPEC juga menyatakan resiko resesi global diakibatkan estimasi pasar keuangan yang berlebihan. Tercatat rata-rata harga minyak pada 2018 lebih tinggi 14-18 persen dibandingkan pada januari 2019. Hal ini akan terus berlangsung seiring dengan perang dagang yang semakin berdampak masif bagi perekonomian global. (MSL)

LEAVE A REPLY