Manado,Semarak.News – Mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Kolektif Perjuangan Rakyat Sulawesi Utara (Gerakan Kopra Sulut) menggelar aksinya di DPRD Sulut, Senin (26/11).

Masa aksi terdiri dari gabungan organisasi, diantaranya: LMND SULUT , HMI DIPO Cab. Minahasa, HMI DIPO Cab. Manado, HMI MPO Cab. Manado, GMKI Cab. Manado, PMII Cab. Manado FKMMU Minahasa, MAHKOTA MANADO, HPMS SULUT, PMHU SULUT, dan FIGMS.

Dalam aksinya, para orator melancarkan orasi-orasi politiknya dan tuntutan mereka. Serta, meminta untuk menyampaikan aspirasi di dalam gedung DPRD Sulut.

Aksi yang dimulai dari laangan Tikala hingga Kantor DPRD Sulut tersebut diwarnai sejumlah kericuhan. Kericuhan terjadi sebanyak 3 kali.

Sekitar pukul 12.50 WITA masa aksi yang tidak segera ditemui oleh perwakilan DPRD Sulut dan tidak diperbolehkan memasuki gedung, mulai geram. Masa aksi yang telah menunggu cukup lama, akhirnya melakukan pembakaran kopra di depan kantor DPRD Sulut.

Aksi tersebut membuat geram kepolisian dan pihak DPRD Sulut, yang akhirnya menimbulkan kericuhan antar kedua belah pihak.

Kericuhan kedua berlangsung ketika masa diperbolehkan masuk oleh salah satu anggota Dewan DPRD Sulut, Billy Lombok. Akan tetapi, saat masa berada di depan pintu gedung, masa aksi dihalangi oleh pihak kepolisian. Sekwan, Bartolomeus Manonto menolak masa aksi masuk ke gedung. Akhirnya terjadi aksi dorong antara pihak kepolisian dengan masa aksi.

Kekecewan terjadi di pihak masa aksi, yang berujung dengan pembakaran ban oleh masa aksi.

Saat suasan meredam dengan keluarnya Surat Keterangan Penerimaan Tuntutan dari DPRD Sulut, terjadi kericuhan kembali antara pihak kepolisian dengan masa aksi. Aksi dorong kembali terjadi antar kedua belah pihak.

Karena kericuhan semakin memanas, pihak kepolisian menembakan gas air mata. Membuat masa aksi berlarian kesana kemari. Ditengah aksi kejar-kejaran tersebut, terjadi pemukulan oleh oknum pegawai DPRD Sulut.

“Jadi saat barisan masa berlarian, saya berada dipaling belakang barisan. Saya kan yang dituakan, jadi saya coba menenangkan masa agar tidak berlarian. Tetapi, tiba-tiba saya dipukul pas diwajah saya oleh pegawai DPRD,” ucap salah satu korban pemukulan, Mesak.

Tambah korban lain, Riko mengatakan “waktu rusuh langsung ada yang mendatangi saya, kemudian menembakan peluru gas airmata dari jarak 15 m dan terkena kaki saya. Juga banyak teman-teman saya yang terkena pukul.”

Diketahui 5 orang masa aksi atas nama Mesak Habari, Riko, Pradit, Brayen, dan Erik, menjadi korban pemukulan oleh oknum polisi dan juga dari pegawai DPRD Sulut.

Aksi di akhiri dengan pembacaan pernyataan sikap dan tuntutan oleh Jendral Lapangan atas Nama Alvian Tempongbuka. Masa aksi membubarkan diri sekitar pukul 17.00 WITA.(SK)

https://www.google.co.id/amp/s/semarak.news/sulut-bergerak-demi-kopra-kembali-stabil/21583/amp/

LEAVE A REPLY