Manado, Semarak.news – GARDA NKRI Sulawesi Utara kembali mengadakan dialog publik menjalin silaturahmi satu dengan yang lain dengan semangat ‘Torang Samua Basudara’. Bertempat di kantor DPD RI, Kota Manado, Sulawesi Utara, Minggu (25/2) dipandu oleh moderator muda kader GARDA NKRI Sulawesi Utara Sumarlin Bachtiar dalam dialog publik yang mengusung tema “Wawasan Kebangsaan: Merajut Kebudayaan dari Timur Indonesia”. Menghadirkan sejumlah tokoh pemuda penggerak bangsa seperti ketua GP Ansor Kota Manado Rusli Umar, Aktivis Ketua Garda Tipikor Richard Sanger dan Akademisi Kebudayaan Denny Pinontoan.

Dialog publik yang dihadiri oleh berbagai organisasi kemahasiswaan di Manado dibuka oleh Rusli Umar (Ketua GP Ansor Kota Manado) sebagai pemateri yang pertama menyampaikan bahwa besarnya pengaruh media sosial di masyarakat. Menurutnya, hal itu sangat menyita waktu bagi masyarakat terutama anak muda untuk saling mengutuk satu sama lain dalam pergerakan anak muda.

“Sebagai generasi wasaton, kita harus berdiri di tengah sebagai pemimpin, dan sebagai umat yang berada ditengah untuk memperjuangkan semangat wasatoniyah, agar tidak langsung percaya terhadap informasi yang bersifat hoax”, ujarnya.

Lain halnya dengan Richard Sanger, yang menjelaskan wawasan kebangsaan dan bela negara sebagai wujud tuntutan dalam semangat perjuangan bangsa Indonesia namun terkadang generasi bangsa terjebak di dalam ruang nasionalisme yang sempit.

Selain itu, menurut bung icad dari pada membesarkan isu antara ketimpangan Jakarta, Manado dan Papua lebih baik kita semua bergerak dan menyatakan ke pergaulan yang ada di organisasi baik kampus maupun tempat ibadah terhadap masalah yang harus bisa dipecahkan sehingga timbul solusi yang dapat membuat NKRI lebih baik.

 “Ingatlah, ketika kita membicarakan wawasan kebangsaan itu tidak hanya mementingkan diri sendiri akan tetapi ada kepentigan orang lain yang bersinggungan dengan kepentingan kita” pungkasnya.

Di lain sisi, Akademisi Kebudayaan Denny Pinontoan menjelaskan bahwa negara bersifat abstrak dan yang bersifat konkrit itu adalah masyarakat, wilayah dan pemerintahannya. Jadi, negara adalah sebuah institusi besar yang ingin hidup damai sesuai dengan pembukaan UUD 45 dan di implementasikan dalam dasar negara Pancasila.

Maka dari itu, ciri kebudayaan Indonesia Timur ialah masyarakat yang terbuka, hidup beragam, kebersamaan, komunalitas, dan kebudayaan yang merayakan kehidupan bersama seperti Pancasila, tambahnya.

“Bahwa proses diskusi adalah pembelajaran bahwa sekecil mungkin masalah dapat didiskusikan bersama dan mendapatkan respon yang serius dari peserta diskusi. Serta proses terpenting dalam diskusi adalah wacana berfikir, jangan melihat organisasi apa yang memberikan pembelajaran dan jangan hadir dalam diskusi tanpa membawa ilmu, kita harus membekali diri dengan pengetahuan yang cukup agar lebih bermanfaat” tutup ketiga pemateri hebat.(IA)

TINGGALKAN BALASAN