Gadget Black Market, Bisnis Gelap Menggiurkan

Gadget [sumber: jambitribunnews]

Samarinda, Semarak.news – Nilai tukar dollar terhadap rupiah kian melejit ikut mendobrak harga barang-barang impor, terutama gadget. Gaya hidup masyarakat yang semakin lama semakin mengikuti perubahan globalisasi mendorong untuk memburu produk asli dengan harga miring, salah satunya melalui Black Market atau yang biasa disebut dengan BM.

Hanya berseluncur di dunia maya pencarian melalui search engine seperti membalikkan telapak tangan, dapat dengan mudah ditemukan beragam pilihan laman yang menjual gadget dengan harga yang cukup menggiurkan.

Salah satu situs yang menawarkan gadget black market, harga gadget impor selalu setiap hari, lebih hebat lagi, jaminan garansi yang diberikan cukup beragam antara 1 bulan hingga 1 tahun. Tidak hanya barang asli yang dijual dengan harga murah, toko online tersebut juga menjual barang replika atau kualitas premium.

Sementara situs yang lainnya, mengaku menjual barang tersebut adalah hasil sitaan dari bea cukai. Dengan dilengkapi alamat dari penjual, pembeli pun diharapkan tidak perlu ragu untuk membeli dengan harga yang cukup miring.

Beberapa smartphone dengan harga miring ditawarkan dengan harga antara lain, Iphone X 64gb seharga 13 juta rupiah, dan terdapat barang replika seharga 1,5 juta rupiah. Padahal harga baru asli dengan kondisi baru bisa mencapai 16 juta rupiah. Sementara untuk harga Samsung Galaxy S9 dijual dengan harga 12 juta rupiah, berbanding jauh dengan harga yang diberikan oleh outlet resmi berbanding yaitu 16 juta rupiah.

Penjual dari toko tersebut memberikan berupa garansi yang bermasam-macam, jika terdapat cacat fisik maka akan ditukarkan dengan barang baru dengan syarat tidak dibongkar dan masa waktu 3 hari setelah pembelian. Dan jika ada yang lebih murah, penjual minta diinfokan untuk memberikan harga yang lebih baik lagi.

Kualitas barang illegal tidak berbeda dengan barang legal yang dijual secara resmi. Perbedaannya hanya harga yang diberikan dan garansi dari penjual karena tak bersentuhan dengan pajak.

Pengamat perekonomian dari Universitas Mulawarman, Rachmat Budi Suharto mengatakan, daya beli masyarakat saat ini sedang turun, Nilai dollar belum bersahabat. Otomatis setiap barang terutama import selalu meningkat, akhirnya barang illegal atau tiruan menjadi pilihan masyarakat.

Saat ini jalur masuk barang illegal cukup banyak, selain bea cukai bisa melalui darat, air, udara, maupun ekspedisi abal-abal. Ingin ikut bersaing, di sosial media pun banyak menawarkan harga gila-gilaan untuk menarik pembelinya.

Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea dan Cukai Samarinda, Jannus Siahaan menerangkan, pihak instansi ini tidak diberikan kepercayaan menangani jalur impor barang elektronik. Adapun barang elektronik ditangani oleh Bea Cukai pusat di Jakarta. Di Samarinda, Bea Cukai hanya menangani masuknya barang di pelabuhan Samarinda, yang kebanyakan komoditas tambang dan pangan. (MA)

TINGGALKAN BALASAN