FDI Kembali Sukses Gelar Diskusi Publik

FDI gelar diskusi bertema "FDI Menggugat: Mengapa Pemimpin Umat Cenderung Korupsi?"

Makassar, Semarak.news – Forum Diskusi IMMIM (FDI) kembali mengadakan diskusi yang berlangsung sukses dan meriah di gedung Islamic Centre IMMIM Jl.Jendral Sudirman Makassar (24/3).

Hadir dalam diskusi tersebut Ketua Dewan Syura DPP IMMIM AGH.Drs.Muhammad Ahmad, Ketua Umum YASDIC IMMMIM Ir.H.M.Ridwan Abdullah, M.Sc, sejumlah pengurus DPP IMMIM, perwakilan Ormas Islam dan unsur Pemerintah.

Tema yang dibahas dalam diskusi yang diadakan 2 bulan sekali ini yaitu “FDI Menggugat: Mengapa Para Pemimpin Umat Cenderung Korupsi?”, dengan panelis Prof.Dr.H.Mansyur Ramly (Tinjauan Pendidikan), Dr.H.Abraham Samad (Tinjauan Penindakan Korupsi), Prof. Arifuddin Ahmad (Tinjauan Islam), dan Dr. Zainal Arifin Mokhtar (Tinjauan Hukum) dan Acara dipandu oleh Prof. Hamdan Juhannis.

Prof. Mansyur Ramly memyampaikan pada umumnya koruptor telah melewati pendidikan tinggi. Sejak kecil sekolah di Paud, SD sampai perguruan tinggi. Akan tetapi Pendidikan kita hanya melakukan transfer of knowledge saja. Namun aspek moralnya hilang. Menurut Ki Hajar Dewantoro, ada 3 aspek dalam pendidikan, intelektual, rasa dan fisik. Hilangnya aspek moral dalam pendidikan Indonesia inilah yang melahirkan koruptor-koruptor baru.

Selanjutnya Abraham Samad sebagai mantan ketua KPK mengatakan bahwa korupsi adalah extraordinary crime dan merupakan white color crime jadi tidak mungkin pelakunya berpendidikan rendah.

“Korupsi itu ekstra ordinary crime. Jika White Color Crime, tidak mungkin berpendidikan rendah. Karena jika ada yang korupsi, orangnya intelektual. Ia bisa menyuruh dokter untuk buat resep palsu atau Ia tabrak tiang listrik hehe”,

“Kemudian kalau ditanya Mengapa orang korupsi?, karena ia memiliki integritas akhlakul karimah yang rendah. Selanjutnya sistem, termasuk strutural politik, regulasi dan enforcement”. Lanjut Abraham Samad.

Diskusi berlangsung menarik dan antusias peserta sangat tinggi saat dibukanya sesi tanya jawab. Salah seorang peserta dari Mahasiswa UIN Alaudin Makassar bertanya mengapa hukuman bagi koruptor cenderung ringan di Indonesia dan apa hukuman yang paling tepat bagi koruptor?.

Para panelis sepakat bahwa sanksi moral adalah hukuman yang tepat bagi koruptor. Hal ini beranjak dari hukuman dalam agama islam yaitu potong tanga bagi pencuri, pencuri tidak langsung dihukum mati, tapi dipotong tangannya saja agar sang pencuri masih hidup dan menjadi pelajaran bagi orang lain yang melihatnya bahwa jika mencuri akan menjadi tersiksa sendiri.

Hal ini seharusnya di tanamkan dari mulai keluarga, karena pendidikan keluarga sangat penting. Jika kedua Orang tuanya kerja di luar, sementara pertemuan orang tua dengan anaknya kurang maka anak tersebut kurang mendapat pendidikan moral. Cara menyiasatinya adalah dengan pendidikan keluarga ke arah keteladanan, orang tua harus memberi contoh yang baik kepada anaknya.

Menjelang Sholat Dzuhur diskusi FDI ditutup oleh Host.

TINGGALKAN BALASAN