Jakarta, Semarak.News – Harga minyak mentah dunia jatuh dalam lima hari terakhir pada perdagangan Kamis (26/2). Merosotnya harga minyak mentah dikarenakan penyebaran virus corona yang semakin meluas di luar Tiongkok, seperti Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Para investor was-was dengan penyebaran wabah ini karena dikhawatirkan dapat memperlambat ekonomi global.

Untuk pengiriman bulan depan, harga minyak mentah berjangka Brent turun sekitar 1,25 – 2,3% menjadi US$52,18 per barel. Harga ini merupakan tingkat terendah sejak Desember 2018 yang mencapai US$50,97 per barel.

Sedangkan untuk minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), turun sekitar 1,64 – 3,4% menjadi US$47,09 per barel yang merupakan level terendah sejak Januari 2019. Pada waktu itu, WTI pernah diperdagangkan dengan harga US$45,88 per barel.

Selisih antara Brent dan WTI sejak Desember 2020 sampai Desember 2021 dalam perdagangan populer mengalami penurunan tajam ke arah negatif. Hal ini mencapai level terluas sejak Januari 2019 yang menandakan adanya erosi permintaan sehingga menyebabkan kelebihan pasokan sampai akhir 2020.

Awal pekan ini, jumlah infeksi virus corona yang melanda di luar China lebih besar daripada kasus di China sendiri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menghimbau kepada setiap negara agar tidak berasumsi akan terhindar dari wabah mematikan itu. Bahkan, beberapa negara mulai Iran hingga Australia berlomba-lomba untuk menahan virus itu.

“Minyak terjun bebas karena besarnya upaya karantina global akan menghancurkan permintaan minyak untuk beberapa kuartal berikutnya,” kata Analis OANDA New York, Edward Moya.

Investor memperkirakan adanya kelebihan pasokan berkepanjangan dengan penurunan permintaan akibat penyebaran virus corona ke ekonomi besar termasuk Korea Selatan, Jepang, dan Italia.

Sebenarnya, ada penawaran yang dilakukan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak, seperti Rusia dan OPEC­ yaitu dengan pemotongan produksi tambahan. Pertemuan tersebut direncanakan pada 5-6 Maret di Wina. Untuk saat ini, OPEC mengurangi jumlah pasokan kurang lebih sekitar 1,2 juta barel per hari.

Tidak hanya pasar minyak mentah, resiko tinggi juga mengancam aset lainnya. Indeks S&P 500 mengalami kerugian terbesar sejak Agustus 2011 karena banyak investor yang berpindah ke aset yang lebih menguntungkan seperti emas, dll.

LEAVE A REPLY