Dua Mega Proyek Bendungan di Sumbawa Akan Rampung Pada Tahun 2018

 

Mataram – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini sedang menggarap dan akan menyelesaikan 2 mega proyek bendungan di Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. 2 bendungan itu adalah Bendungan Rababaka Kompleks di Kabupaten Dompu dan Bendungan Bintang Bano di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). 2 Mega Proyek yang dirintis proses konstruksinya tahun lalu kabarnya akan mengalami tahap finishing dalam tahun ini.

“Pembangunan Bendungan Rababaka Kompleks meliputi 2 bendungan tambahan yang menyatukan 2 sungai dalam satu sistem, yakni Bendungan Tanju dan Bendungan Mila. Penambahan 2 bendungan baru ini bertujuan untuk menjaga tingkat ketahanan air di Sumbawa sehingga dapat melewati kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim penghujan.” Ujar Abdul Hanan, Humas, saat kemarin ditemui di Kantor Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara I, Mataram.

Bendungan Tanju dan Mila yang dibangun di dua Kecamatan, yakni Kecamatan Manggalewa dan Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, diharapkan akan membuahkan manfaat terhadap masyarakat. Manfaat yang diharapkan seperti terjadinya peningkatan intensitas tanam di Daerah Irigasi Rababaka yang luasnya mencapai 1.689 Hektar. Kemudian untuk mengembangkan Daerah Irigasi Rababaka Komplek sejauh 2.250 Hektar. Serta berfungsi sebagai penyedia air baku di Wilayah kabupaten Dompu yang penambahannya sebesar 0.154 m3/detik.

Kontrak konstruksi Bendungan Tanju dan Mila dipegang oleh PT Hutama Karya dan PT Nindya Karya menyambung dua bendungan ini menggunakan terowongan yang menembus gunung menuju Bendungan Rababaka. Dengan spesifikasi Terowongan I (Mila) berdiameter 3 meter dengan panjang 636 meter, sedangkan Terowongan II (Tanju) dengan diameter yang sama dengan panjang 1,7 km. Kedua terowongan menggunakan bahan Beton Bertulang dan tipe Persegi dan Setengah Lingkaran.

Bendungan Bintang Bano didirikan di Kecamatan Brang Rea, tepatnya menyusuri aliran sungai Brang Rea, yang terletak + 5 Km dari hulu Bendung Kalimantong II. Bendungan ini dibangun dengan desain tipe Rockfill Dam & Random dengan Inti Tegak. Memilik tinggi 72 meter dari dasar pondasi dengan lebar puncak 12 meter dan kemiringan hulu 1 : 2,25 dan hilir 1 : 1,8. Bendungan ini akan menampung air seluas 277,5 Hektar dengan daya tampungan efektif sekitar 5.700 m3.

“Progres Bendungan Rababaka Kompleks telah mencapai 99% sedangkan Bendungan Bintang Bano sudah 70%, kami menargetkan kedua bendungan ini akan selesai pada tahun ini, akan tetapi kami tidak dapat menentukan waktu tepatnya. Yang pasti tahun ini Rababaka Kompleks dan Bintang Bano selesai.” Ujarnya.

Ia menambahkan, “Untuk masalah bendungan Meninting yang akan dibangun di Lombok Barat, pihak kami masih menunggu konfirmasi Kabupaten Lombok Barat terkait lahan untuk wilayah konstruksi. Apabila lahan yang akan digunakan pembangunan bendungan siap, secepatnya kami akan melakukan proses konstruksi.”

Berdasarkan pernyataan tersebut, terkesan pembangunan Bendungan Meninting, yang harusnya menjadi satu proyek dengan dua bendungan sebelumnya, terlihat sedikit tertunda. “Keterlambatan ini bukanlah keinginan kami selaku pihak yang berwenang untuk melaksanakan konstruksi, kami belum berani melakukan pembangunan apabila lahan yang akan digunakan belum benar-benar siap untuk dibangun.” tambahnya. Pihak BWS NT I berharap Pemerintah Kabupaten Lombok Barat agar bergerak cepat menyelesaikan masalah lahan, sehingga satu Mega Proyek yang ‘tertunda’ ini dapat segera dimulai dan diselesaikan secepatnya.

Selain itu, Pihak BWS NT I juga tidak sembarangan dalam melakukan pembangunan proyek dengan skala besar seperti ini. Terdapat tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk membangun satu bendungan saja. Pertama dilakukan tahap Survei untuk melihat kebutuhan dan urgensi dari pembangunan sebuah bendungan terhadap masyarakat. Lalu Investigasi lapangan untuk melihat keadaan dan mencari wilayah-wilayah potensial bakal proyek. Setelah itu tahap Design untuk mempersiapkan model bendungan yang cocok dibangun. Lalu ada Feasibility Study yang mana berupa dialog antara BWS dengan masyarakat tentang proyek yang akan dibangun. Kemudian masuk ke tahap Lahan untuk mengetahui apakah lahan siap untuk dibangun. Lalu tahap pengurusan perizinan seperti AMDAL, LARAP agar proyek yang dibangun berlabel resmi bukan proyek ilegal. Sebelum memasuki tahapan Konstruksi perlu adanya Sertifikasi Desain untuk melihat kelayakan pembangunan bendungan. Dan apabila telah melewati semua tahap barulah pihak BWS siap untuk melakukan tahap Konstruksi.

“Kami tidak pernah melakukan penundaan dalam pekerjaan kami, semua itu kembali kepada masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Apabila telah melewati semua tahapan dan konstruksi sudah dimulai, tetapi ada warga yang melaporkan komplain, tentu akan kami proses dengan pihak pusat apakah proyek ini akan diteruskan atau tidak. Jadi tidak ada istilah proyek mangkrak atau tertunda, terdapat beberapa faktor yang harus dijelaskan kepada masyarkat.” ungkapnya.

“Dalam setiap proyek pembangunan yang kami lakukan, pasti kami melakukan sosialisasi dengan masyarakat secara langsung untuk membahas apa kendala dan permasalahan yang nantinya ditimbulkan dari proyek apabila jadi dibangun. Terlebih dalam tahap Feasibility Study dimana pihak BWS melakukan dialog langsung dengan masyarkat. Jadi harusnya masyarkat bisa lebih mengerti karena kami bekerja selain menyelesaikan Proyek Strategis Nasional, juga untuk kepentingan masyarkat juga. Kami memiliki motto ‘Tidak Ada Satu Pun Air yang Terbuang ke Laut’, dan itu yang selalu menjadi prioritas kami untuk menjaga ketahanan air, khususnya di NTB.” tambahnya.

Untuk itu masyarakat harus mulai memahami tentang proyek pembangunan strategis nasional. Pihak BWS NT I berharap dapat menyelesaikan setiap Proyek Strategis Nasional yang dicanangkan pemerintah pusat tepat waktu. Maka dibutuhkan partisipasi dan dukungan dari masyarakat agar pembangunan di Indonesia dapat lebih maju lagi.

TINGGALKAN BALASAN