Di Balik Jendela

Dapatkah kau melihatku? [Foto : semaraknews/syarifa88]

Pandanganku tak lepas memandangnya. Wanita yang mampu menyita seluruh hati dan pikiranku, Aya. Wanita cantik yang tinggal tepat di depan rumahku. Kalau biasanya lelaki usia sepertiku menghabiskan waktu dengan keluar bersama teman-temannya sampai larut malam, aku memilih untuk tetap tinggal di rumah dan melihatnya di balik kaca jendela.

Seperti sekarang, aku sedang memandang dirinya. Kalau sore seperti ini dia selalu duduk di jembatan rumah dan membaca buku, setelah aku tahu apa judul buku yang dia baca, aku sesegera mungkin mencari buku itu dan membacanya. Aku akan melakukan apa yang semua di lakukannya, apa yang dia suka akan ku sukai, apa yang dia benci akan ku benci juga.

Wanita itu entah bagaimana caranya, sejak pertama kali aku pindah di rumah ini, saat aku dan keluargaku mengunjungi rumahnya dan membawa bingkisan untuk sekedar adat sopan santun sebagai semestinya tetangga baru. Dia saat itu sedang menyiram bunga mawar yang ada di tamannya, seketika itu juga aku merasa ada sesuatu yang amat dahsyat di dalam diriku, entah apa, sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku percaya dia lah tulang rusukku. Aku percaya dia lah bidadari Tuhan yang dikirimkan untuk menemaniku di dunia dan di surga.

Sudah 7 tahun aku melakukan kegiatan seperti ini, sejak aku berumur 10 tahun, sejak pertama kali aku pindah di sini, melihatnya secara sembunyi-sembunyi di balik kaca jendela. Aku tak berani mengatakan padanya tentang rasaku,selama 7 tahun ini aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat.

Tak ada kegiatan yang menyenangkan selain ini. Aku juga tak suka keluar dan tak pandai bersosialisasi, aku keluar hanya untuk sekolah. Orang tua ku sudah bercerai sejak aku berumur 6 tahun, aku ikut Ayahku karena ibuku setelah cerai langsung menikah dengan lelaki lain. Ayah ku sangat keras dan dia memilih untuk menyendiri, sampai pada suatu hari ayahku ingin menikah. Tapi setelah menikahi wanita itu, wanita itu tak mau tinggal di rumah ini. Akhirnya Ayah pergi ke rumah wanita itu. Sedangkan aku di tinggalkan di sini bersama bibi. Katanya wajahku hanya mengingatkan tentang keburukan ibu, dan wanitanya itu tak mau menerimaku sebagai anaknya. Sungguh tragis, Ayahku lebih memilih wanita itu. Akhirnya aku di besarkan oleh bibi sejak Ayah pergi.

Memandang wajah wanita itu membuatku melupakan segala kesedihan di kehidupanku. Saat aku merasakan kesepian yang luar biasa atau aku merasa tak ada lagi yang meyayangiku di dunia ini, aku keluar rumah dan selalu mendapati dia di depan rumah, entah sedang membaca buku, melihat senja, ataupun menyirami bunga-bunga di taman.

Hari ini adalah hari pertama aku mengikuti UNAS, begitupun dia. Sekolah kita kebetulan sama dari dulu. Kebetulan lagi, kita selalu bersamaan keluar dari rumah untuk berangkat ke sekolah. Tunggu dulu, tentu saja tak pernah ada kebetulan di dunia ini, aku memang sengaja mengikutinya, sekolah yang sama dan berangkat tepat di mana dia juga berangkat, aku hafal seluruh kegiatannya. Dia menyapaku, menyebut namaku, tak ada yang lebih indah dari suaranya, “Pagi Rangga…” Dan seperti biasa aku hanya membalasnya dengan senyuman, tak mampu membalas sapaan atau sekedar melakukan perbincangan sedikit. Lihatlah, tanganku sudah gemetar. Dia matahariku.

Sudah kuputuskan, setelah UNAS berakhir dan aku lulus, aku akan mengutarakan semua rasa ini. Aku ingin segera tunangan dengannya. Sampai pada suatu hari aku sudah mempunyai pekerjaan, aku akan menikahinya. Dia lah penyemangatku selama ini, setelah semua kehidupanku hancur. Sudah lelah aku diam-diam mengaguminya seperti ini.

Hari yang kutunggu telah tiba, aku sudah membeli seikat bunga, dengan 13 bunga mawar di dalamnya, aku sudah membelikan buku yang sedang di carinya dan aku sudah merangkai kata-kataku. Segera aku langsung keluar rumah dan berjalan menuju rumahnya. Tapi langkahku terhenti, dia.. yang setahuku baru pertama kali ini, mebawa lelaki ke rumahnya.

Aku melihatnya tertawa begitu lepas baru kali ini, melihat matanya menyipit ketika tertawa, memperlihatkan deretan giginya yang putih, andai yang di sampingnya itu aku.

Tentu saja jika di banding laki-laki itu aku tak ada apa-apanya. Pemandangan ini begitu merusak otak dan hatiku, membuatnya mematikan saraf motorik yang membuatku tak mampu bergerak, tak mapu bergerak untuk segera pergi dari sana dan melupakannya. Aku terus memandanginya. Sampai ketika lelaki itu mengeluarkan cincin dan berlutut di depan dia. Lalu dia tersenyum dan mengangguk, lelaki itu langsung memakainya di tangannya.

Aku sakit, air mata akhirnya turun dari mataku. Sejak lahir aku tak pernah menangis dan tak tahu bagaimana cara kerja mata untuk mengeluarkan air. Aku juga tak menangis ketika orang tua ku meninggalkanku. Ku genggam buku dan bunga itu, akhirnya saraf motorikku mulai bekerja, kakkiku sudah bisa di gerakkan, langsung aku berlari ke rumah, masuk kamar dan kukunci pintu kamarku. Kali ini saja kumohon, biarkan aku melepaskan semua kepedihan yang aku tahan selama ini. Semuanya.. biarkan kali ini aku rapuh.

Keesokan harinya aku memilih untuk mengikuti dia, kemanapun. Itu sudah janjiku, meskipun dia sudah menikah nanti aku tak peduli, aku ingin setiap hari melihat wajahnya. Hari ini aku ingin memberikan makanan kesukaanya yang aku masak sendiri. Aku melihatnya masih di depan rumah, tapi dia terlihat sedang telepon menggunakan ponselnya, tak seperti biasanya. Pasti lelaki tadi malam yang menelpon. Aku tak peduli lagi, aku terus berjalan ke rumahnya meskipun pandangan mataku nanar. “BLAMMM” gelap

Aku lumpuh tertabrak mobil, kemarin aku berjalan ke rumahnya tanpa melihat jalan. Aku bingung, bukan karena lumpuh tapi tentang bagaimana aku tak bisa mengikutinya lagi, tak bisa melihatnya lagi. Apa lagi bibi baru meninggal tepat hari ini. Aku benar-benar kecewa, aku ingin bunuh diri.

Pisau untuk mengupas apel yang ada di dekat kasur rumah sakit ini, langsung ku ambil, bersiap untuk menggiris nadi di tanganku. Sudah berdarah, yah sedikit lagi pasti putus dan aku mati. Hahaha… Tapi aku menghentikannya, berfikir lagi dan membatalkannya. Darah itu terlanjur keluar deras, gelap.

Beginilah kehidupanku pada akhirnya, yang tetangga ketahui hanyalah aku pindah bersama Ayahku dan hidup bahagia. Karena Ayahku datang saat aku tertabrak, dia segera meminta maaf padaku dan ingin mengajakku ke rumahnya, tapi aku menolak. Aku akan selamanya disini, selamanya bersembunyi di rumah ini, melihat gadis itu entah berapa tahun sekali. Aku menghentikan pisau itu karena memikirkan dia, walaupun dia sudah menikah dan mempunyai anak lalu tak tinggal di rumah itu lagi, setidaknya dia akan berkunjung ke rumah itu, karena rumah itu adalah rumah orang tuanya. Aku tersenyum, sudah ku bilang kan dia matahariku dan aku tak akan mampu kehilangannya dan menggantinya dengan matahari lain. Aku akan terus melihatnya di balik kaca jendela, diam-diam seperti ini. Aku akan terus menyimpan 13 mawar dan buku ini. Kawan, aku hanya tak tahu bagaimana caranya melepaskan seseorang.

 

Penulis : Syarifa

Hanya sebuah fiksi yang sekelebat terlintas di pikiran, tak ada tujuan, tak memiliki arti.

TINGGALKAN BALASAN