Penulis: Muh. Nawawi*

Memasuki masa kampanye, berbagai kegiatan dilakukan oleh pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden. Mulai dari blusukan, sowan ke para sesepuh, para ulama, dan tokoh masyarakat, dan lain sebagainya. Ada Capres/Cawapres yang baru melakukan kegiatan blusukan ketika kampanye, ada juga yang memang sudah lama dan rutin melakukan kegiatan menyapa wong cilik di daerah-daerah. Ada Capres/Cawapres yang baru melakukan kegiatan sowan ke ulama, tokoh masyarakat, ziarah makam wali ketika kampanye, ada juga yang memang sudah lama dan rutin melakukan kegiatan silaturahmi.

Tentu kita sebagai masyarakat tahu, mana yang pencitraan, mana yang tenanan. Sandiaga Uno, pengusaha, insan bisnis, mana pernah kemarin-kemarin blusukan ke pasar tradisional. Sandi pernah berkata bahwa uang 50 ribu tidak dapat apa-apa, ya iya lha wong Sandi belanja ke swalayan. Mana pernah Sandi ke pasar tradisional. Prabowo Subianto, orang yang sangat tegas dengan wartawan, suka menolak wawancara. Sehari-hari tinggal di puncak bukit Bojong Koneng Jawa Barat, merawat kuda dan aset tanah hadiah miliknya. Mana pernah Prabowo sowan ke ulama. Baru-baru ini saja.

Umat Islam memang menjadi sasaran kampanye yang cukup empuk. Kubu Prabowo-Sandi yang tidak memiliki background Islam yang kuat, memaksakan diri untuk mencari dukungan dari tokoh-tokoh Islam dengan harapan memperoleh banyak suara dalam Pilpres 2019. Berkat lobi-lobi politiknya, Sandi akhirnya secara instan mendapat gelar ulama dari temannya sendiri sesama pemain politik. Padahal menyandang gelar ulama merupakan sebuah tanggung jawab moral yang besar. Bahkan Prof. Quraisy Syihab tidak mau disebut dirinya ulama karena sebutan ulama terlalu mulia baginya. Tak tahu malu Sandi.

Mau tak mau Sandi mulai manuver politik dengan mendekati ulama-ulama radikal. Kenapa ulama radikal? Karena Sandi tahu bahwa ulama garis lurus akan mendukung Kyai Ma’ruf di kubu Jokowi pada Pilpres mendatang. Ulama garis lurus pasti akan memilih orang yang benar-benar memiliki iman dan ilmu agama tinggi seperti Kyai Ma’ruf, bukan ulama instan Sandiaga Uno. Terlebih Sandi merupakan lulusan sekolah non muslim. Tanpa menyudutkan agama lain, tingkat keislaman dan keimanan Sandi patut dipertanyakan.

Ulama radikal yang kelompoknya mendapat penolakan dari sebagian umat Islam mulai mencari perlindungan dengan mengabdi pada pasangan Prabowo-Sandi. Salah satu caranya adalah nurut dan menjanjikan dukungan terhadap Sandi pada Pilpres 2019. Karena kelompok radikal tahu bahwa Sandi kurang dalam hal pendirian dan ilmu agama dan politik. Bahkan Sandi memberi hormat pada Ismail Yusanto pentolan HTI. Kelompok radikal seperti HTI sudah merapat ke kubu Sandi guna mencari perlindungan karena telah dilarang oleh Pemerintah, dengan harapan jika nanti Sandi terpilih maka kelompok tersebut akan menjadi dilegalkan.

Manuver politik Sandi ini mendapat kritik dari sebagian besar masyarakat. Di mana pun, kelompok radikal tidak boleh berkembang bahkan ikut dalam urusan politik negara. Kelompok radikal yang tidak toleran akan menebarkan kebencian terhadap sesama umat. Hal ini sangat berlawanan dengan prinsip hidup Bangsa Indonesia yang mengedepankan toleransi dan menghargai perbedaan. Para pemimpin negara muslim dunia setelah berkunjung ke Indonesia selalu berpesan “Jaga keberagaman ini”. Mereka tidak ingin Indonesia hancur seperti negara-negara Arab karena radikalisme dan intoleransi.

Masyarakat saat ini sudah lebih cerdas. Analisa-analisa ringan dari bapak-bapak di warung kopi dan di arisan ibu-ibu sudah dapat menyimpulkan bahwa Sandi dalam kampanyenya mencoba menggandeng kelompok Islam radikal. Mencoba memecah belah Bangsa Indonesia untuk kepentingan politik semata. Mata dan hati rakyat sudah terbuka, jangan mau dibodohi.

*) Mahasiswa UB, alumni Ponpes Sidogiri

LEAVE A REPLY