Batam, Semarak.News – Menindaklanjuti pengumuman Kementerian Kesehatan Singapura, tekait adanya temuan penderita penyakit cacar monyet atau monkeypox di Singapura, Pemerintah Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau melakukan pencegahan penularan penyakit tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Didi Kusumatjadi, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, menyatakan sebagai langkah pencegahan untuk antisipasi penyebaran penyakit ke Indonesia akan di siapkan sebuah alat.

“Saya sudah berbincang dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), untuk menyiagakan alat pendeteksi panas tubuh, sebagai langkah antisipasi,” kata Didi dalam kutipani Antara, Minggu (12/5).

Didi menjelaskan, dengan adanya alat itu, akan dilakukan pemindaian suhu tubuh setiap warga negara Indonesia dan asing yang baru tiba di batam.

Jika terdeteksi memiliki suhu tubuh melebihi batas normal bahkan bersuhu tinggi, akan dilakukan penganganan lebih lanjut.

Apabila yang bersangkutan diduga positif terjangkit cacar monyet, selanjutnya akan dibawa langsung ke RS Badan Pengusahaan Batam atau RS Umum Daerah Embung Fatimah menempati ruang isolasi.

“Untuk kewaspadaan umum setiap RS yang curiga ada gejala cacar, ambil darah. Di BPLTKS bisa,” tambah Didi.

Selain itu, jika dicurigai seseorang penumpang kapal terinfeksi cacar Singapura, makan keseluruhan penumpang kapal harus di karantina.

“Karena penularannya melalui kontak langsung. Masa inkubasi 5-7 hari baru terlihat gejalanya,” imbuhnya.

Demam dan gangguan pernafasan adalah gejala yang dirasakan penyakit ini. Umumnya gejala cacar monyet mirip dengan gejala cacar. Namun radang pernafasan yang dikhawatirkan paling berbahaya.

“Cacarnya sama, virusnya sama,” pernyataan Didi.

Didi juga mengingatkan kepada seluruh warga Batam, untuk menghindari penularan virus tersebut, agar tidak ada yang bepergian ke Singapura.
Sebenarnya cacar monyet ini adalah penyakit yang tidak mudah penyebarannya terhadap manusia.

Cacar monyet merupakan virus yang berkembang di Afrika Tengah dan Barat pertama kali.

Adapun kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, bahkan kulit hewan yang terinfeksi menjadi medium utama penularan virus cacar tersebut. Selain itu penularan dapat terjadi lewat makanan berupa daging yang berasal dari hewan yang sudah terinfeksi dan tidak di masak dengan baik.

Penularan sekunder antara sesama manusia dapat terjadi lewat kontak tatap muka dengan orang yang sudah terifeksi dalam waktu yang reltif lama.

Sementara, penularan sekunder dari manusia ke manusia dapat terjadi melalui kontak tatap muka, lesi kulit atau benda cairan pasien yang terkontaminasi dalam waktu yang lama dengan orang yang terinfeksi.

Jika sudah terinfeksi, masa inkubasi selama 5 sampai 21 hari akan dialami oleh penderita cacar monyet hingga gejala muncul.

Gejala yang muncul ditandai dengan muncul demam, sakit kepala hebat, pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri punggung, nyeri otot, dan kurang bertenaga yang berlangsung pada periode 0-5 hari

meskipun lebih ringan virus ini mirip dengan cacar (variola atau smallpox, bukan cacar air).

Untuk menangkal cacar monyet tidak ada pengobatan khusus atau vaksin yang tersedia. WHO menyatakan vaksin cacar 85 persen efektif mencegah cacar monyet. (LIA)

LEAVE A REPLY