Bonek, Perlukah Menghapus Tradisi Estafet?

Gambar: Jawa Pos

B-
Berbagai musibah seakan tidak pernah berhenti menimpa keluarga besar Bonek, suporter yang karena militansinya pernah disejajarkan dengan kelompok hooligan di Inggris oleh CNN. Terakhir, Micko Pratama, pemuda asal Sidoarjo, harus kehilangan nyawa 2 hari sebelum ulang tahunnya yang ke 17. Micko meninggal di Solo dalam perjalanan pulang setelah menyaksikan laga tandang PS Tira melawan Persebaya di Stadion Sultan Agung Bantul.

Kegembiraan Bonek karena tim kebanggaannya mampu mengalahkan tuan rumah dengan skor 2-0 harus berubah menjadi kesedihan yang mendalam karena rombongan Bonek dihadang oleh sekelompok warga di Solo dalam perjalanan pulang menuju Surabaya. Belasan luka-luka dan Micko dinyatakan meninggal dunia setelah mendapat lemparan batu dan pengeroyokan dari sekelompok warga.

Menurut berbagai sumber dari video dan tulisan di media sosial, warga yang melakukan penyerangan terhadap rombongan Bonek mengaku kesal karena ulah Bonek yang melakukan aksi pencurian dan pemalakan saat perjalanan menuju ke Bantul, sehingga warga berniat “memberi pelajaran” atas kelakuan oknum Bonek yang meresahkan masyarakat.

-O-
On tour Bonek. Micko bukan satu-satunya Bonek yang meninggal dalam estafet. Sebelumnya juga masih terkenang tragedi Lamongan 10 Maret 2012 saat Bonek melakukan perjalanan ke Bojonegoro dengan kereta api. Mereka dihadang oleh warga Lamongan dan lima nyawa harus menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

Meski banyak memakan korban, Bonek tetap tidak mau berhenti melakukan estafet, karena estafet bagi mereka adalah sebuah tradisi yang harus dijaga. Estafet adalah merujuk pada away days atau dalam istilah arek-arek Bonek dikenal dengan Tret Tet Tet, yaitu mendukung Persebaya berlaga di kota lain.

Bonek merupakan kelompok suporter yang pertama kali melakukan away days di Indonesia. Dengan nekatnya, mereka melakukan apapun demi sampai di stadion tempat Persebaya berlaga. Umumnya estafet dilakukan dengan numpang truk atau kereta api. Namun saat ini estafet menggunakan kereta api sudah mulai ditertibkan sejak dilakukan penataan sistem penumpang oleh PT KAI.

Menurut saya istilah estafet lebih tepat mengarah pada kendaraan truk Dengan numpang truk, Bonek sering berganti-ganti truk secara berkesinambungan untuk sampai di lokasi, apalagi jika lokasinya jauh dari Surabaya.

Menurut saya lagi, istilah estafet tidak selalu mengacu pada away days, karena meskipun laga kandang di Surabaya, banyak Bonek yang numpang truk. Terlebih dengan Bonek dari luar kota seperti Sidoarjo, Pasuruan, Gresik, Jombang, Mojokerto, Bangkalan dan kota-kota lain di sekitar Surabaya. Karena bagi beberapa orang, sepak bola Jawa Timur adalah Persebaya.

-N-
Nekat! Meskipun bahaya karena resiko kecelakaan yang cukup tinggi, namun masih banyak Bonek yang tetap melakukan estafet. Alasannya pertama, Bonek menganggap estafet adalah tradisi yang harus dijaga. Iya memang estafet adalah identitas yang sudah melekat dengan Bonek. Di kota mana pun Persebaya bertanding, di sepanjang jalur Surabaya menuju kota tersebut pasti dipenuhi warna hijau dari kaos yang dikenakan Bonek maupun spanduk dan bendera.

Alasan kedua yang cukup masuk akal adalah keterbatasan biaya. Ya, sebagian besar Bonek adalah para buruh dan pekerja yang berpenghasilan di bawah rata-rata sehingga untuk bisa menonton Persebaya di kota lain, uang mereka tidak cukup untuk biaya transportasi. Karena itulah Bonek melakukan estafet.

Alasan selanjutnya yang tidak bisa dibantahkan adalah Bonek melakukan estafet karena senang. Sudahlah, kalau sudah senang mau diapakan lagi. Disuruh naik bis meskipun gratis mungkin mereka akan sedih. Antusiasme dan kekompakan Bonek begitu terasa saat mereka bersama-sama di atas truk. Salut!

-E-
Estafet memang sebuah tradisi yang masih pro kontra. Sebagian pihak menyarankan untuk menghentikan tradisi itu, namun pihak lain tetap berpegang pada pendirian. Tak bisa dipungkiri memang, estafet sering diikuti dengan aksi anarkis yang dilakukan Bonek di kota lain. Hal tersebutlah yang menyebabkan Bonek dimusuhi oleh masyarakat kota lain, meskipun akhir-akhir ini Bonek telah menunjukkan perubahan drastis menjadi suporter yang ramah dan kreatif.

Sebuah pemikiran akhirnya lahir dari kesadaran terhadap beberapa kasus yang menimpa Bonek dalam beberapa kali estafet, yaitu adanya oknum Bonek atau pihak lain yang berusaha memanfaatkan situasi mencari keuntungan pribadi. Misal, saat estafet ada orang yang memakai kaos Bonek lalu melakukan pencurian, pemalakan, dan perusakan sehingga yang mendapat citra negatif adalah Bonek. Padahal kejadian tersebut hanya dilakukan oleh satu dua orang yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Ya, estafet telah disusupi maling. Bahkan ada beberapa postingan di media sosial yang dengan sengaja menciptakan chaos. Melakukan penyerangan kepada masyarakat dengan memakai identitas Bonek, dengan harapan masyarakat balik menyerang Bonek dan akhirnya jatuh korban. Strategi licik devide et impera, membenturkan kelompok dengan kelompok.

-K
Kompak, tetap kompak, meskipun pro kontra tradisi estafet harus dirundingkan. Duduk bersama, minum kopi, dengan hati yang bersih mungkin akan membuahkan solusi. Hal itulah yang dilakukan Bonek. Pada Minggu malam, tanggal 15 April 2018 Bonek mencoba mencari solusi permasalahan sekaligus menyalakan lilin untuk memperingati ulang tahun Micko Pratama.

Sebuah ide yang menurut saya cukup inovatif lahir. Pihak manajemen perlu membentuk suatu badan atau divisi yang membidangi masalah away days. Badan atau divisi tersebut bekerja khusus untuk menangani away days, yaitu mengawal Bonek yang akan estafet ke kota lain demi mendukung Persebaya. Nantinya badan tersebut berkoordinasi dengan korwil-korwil Bonek di setiap kota, juga dengan aparat kepolisian untuk menjaga keamanan Bonek selama perjalanan pergi dan kembali.

Solusi tersebut perlu segera direalisasikan karena cukup masuk akal. Untuk sekelas manajemen klub besar, hal tersebut tidaklah susah. Kalau manajemen tidak mau, mereka harus bertanggung jawab menyediakan truk untuk perjalanan Bonek demi menjaga keamanan karena bagaimanapun Bonek adalah bagian yang tak terpisah dari Persebaya.

BONEK

Jujur, terlepas dari apapun, saya kagum dengan militansi Bonek. Mungkin seperti Bonek mendukung Persebaya, perjuangan arek-arek Suroboyo dalam peristiwa 10 November 1945, sebuah perang terdahsyat sekaligus perang paling berat yang pernah dialami Inggris.

Bonek saat ini telah berubah menjadi suporter yang kreatif dan mulai mengkampanyekan “no rasis” dalam setiap pertandingan. Di era persepakbolaan modern ini, Bonek mengikuti tuntutan zaman bahwa nama suporter bisa terangkat dari kreativitas yang ditunjukkan. Bukan dari rasisme atau anarkisme. Terdapat pepatah yang berbunyi “Perihal anarkis, Bonek telah mendapat sertifikat”.

Ya, Bonek sudah berubah menjadi suporter yang dewasa. Bahkan mulai banyak tercipta perdamaian antara Bonek dengan kelompok suporter lain yang dulu memusuhinya.

Namun perlu dipahami bahwa masih ada pihak-pihak yang ingin menghancurkan Persebaya, lebih jauh lagi meniadakan Bonek, lebih jauh lagi membunuh semangat arek-arek Suroboyo. Untuk itu saya berharap kepada Bonek, tetaplah menjaga tradisi dan semangat ke-bonek-an. Nekat!

Penulis: Sugeng Yulianto

TINGGALKAN BALASAN