Kondisi gereja katolik di Pulau Jolo, Filipina

Manila – Otoritas keamanan Filipina menyebut warga negara Indonesia bernama Abu Huda merupakan satu dari dua terduga pelaku bom bunuh diri di gereja Katolik di Pulau Jolo, Sulu. Nama Abu Huda disebut Menteri Dalam Negeri Filipina, Eduardo Ano, kepada CNN Philippines. Ia berkata, Abu Huda bekerja sama dengan kelompok milisi Abu Sayyaf untuk meledakkan dua bom di Gereja Katolik Maria Gunung Karmel.

Serangan bom bunuh diri di Jolo terjadi beberapa hari setelah referendum yang diikuti 2,8 juta orang menyepakati pembentukan Wilayah Otonomi Bangsamoro di wilayah Filipina selatan, daerah berpenduduk Muslim terbesar di negara tersebut.
Mayoritas pemilih menyetujui pembentukan itu, tetapi para pemilih di Provinsi Sulu yang mencakup Jolo, berbeda. Penduduk daerah itu menolak otonomi khusus tersebut.

Menurut Kepala Kepolisian Filipina, Jenderal Oscar Albayalde, Kamah dan empat rekannya terpaksa menyerahkan diri agar tidak tewas dalam operasi gabungan militer-polisi setelah pengeboman.
Bom bunuh diri yang terjadi saat ibadah mingguan berlangsung itu menewaskan setidaknya 22 orang dan melukai 100 orang lainnya.

Gereja Katolik di Filipina selatan dibom, pelaku disebut sebagai ‘penjahat tak bertuhan’
‘Pasangan suami istri Indonesia’ disebut sebagai pelaku bom bunuh diri serangan gereja di Jolo, Filipina
Kaum minoritas Muslim Moro di Filipina tentukan nasib melalui referendum
Ano menduga Abu Huda telah cukup lama berada di Provinsi Sulu. Satu WNI lain yang juga diduga pelaku bom bunuh diri diyakini merupakan istri Abu Huda, namun namanya belum diungkap.

Menurut Albayelde, Kamah membantah terlibat dalam bom ganda tersebut. Namun, lanjut Albayelde, keterangan sejumlah saksi mata menyebutkan Kamah mendampingi pasangan suami istri asal Indonesia ke gereja tersebut.

Aparat keamanan menemukan perangkat peledak rakitan dan sebuah kendaraan roda empat yang diduga dipakai mengangkut pasutri asal Indonesia di rumah Kamah, kata Albayelde.

Empat rekan Kamah yang menyerahkan diri, sambung Albayelde, juga mengakui “berpartisipasi” dalam serangan terhadap gereja.

Keempat orang itu bernama Albaji Kisae Gadjali, alias Awag; Rajan Bakil Gadjali, alias Rajan; Kaisar Bakil Gadjali, alias Isal, dan Salit Alih, alias Papong.

Ano menyebut dua WNI itu mendapat sokongan dari pelaku teror lokal bernama Alias Kamah. Alias merupakan anggota Ajang Ajang, kelompok kecil yang berjejaring dengan Abu Sayyaf.

Tak cuma Alias, Abu Huda juga dituduh berkomplot dengan Hatib Hajan Sawadjaan, salah seorang pimpinan Abu Sayyaf.

Lebih dari itu, Ano menduga, melalui serangan ke gereja di Sulu tersebut, kedua WNI hendak memberi contoh aksi bom bunuh diri yang jarang dilakukan kelompok teror setempat.

Pasukan tentara dikerahkan untuk mengamankan lokasi bom

Sementara itu pasukan tentara dikerahkan ke kawasan Jolo sesaat setelah bom bunuh diri terjadi. Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengklaim akan membasmi kelompok teror di negaranya.
Labra mengatakan sampai Jumat (01/02), dua pasang kaki yang penuh luka, tak ada yang mengklaim dan ini menunjukkan kemungkinan milik pengebom bunuh diri.

Hasil dari uji DNA potongan-potongan tubuh akan diumumkan dalam beberapa hari ini, kata Labra, seperti dikutip ABS CBN News, Filipina.

Direktur Deradikalisasi Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris, tak menampik masih adanya warga Indonesia yang bergabung dengan kelompok terorisme di Mindanao, Filipina.

Meski upaya pencegahan seperti pemberian pemahaman agar tak berbaur dengan kelompok radikal sudah dijalankan, tapi hal itu tidak mudah.

“Kalau kami selalu beri pemahaman supaya jangan mudah berbaur dengan mereka meskipun itu lewat online, ajakan-ajaknnya,” ujar Irfan. (S)

LEAVE A REPLY