Jakarta, Semarak.News- Bitcoin merupakan mata uang virtual yang dapat digunakan untuk melakukan transaksi online. Bitcoin sendiri sempat viral di tahun 2017 dan 2018 karena memiliki nilai tukar yang sangat besar,namun saat ini nilai tukar mata uang virtual tersebut bahkan lebih rendah daripada biaya penambangannya.

lembaga riset JPMorgan Chase & Co  mengatakan bahwa harga bitcoin saat ini mencapai titik terendah selama 2 tahun terakhir dimana harga bitcoin jatuh 25 persen dalam seminggu. Jika diukur sejak titik terendahnya Desember tahun lalu hingga sekarang, harga Bitcoin turun 75 persen.

untuk menambang satu Bitcoin, biaya yang harus dikeluarkan investor berkisar sekitar 4.060 dollar AS atau sekitar Rp 57 juta. Angka tersebut merupakan hasil riset pada kuartal keempat tahun lalu.

Untuk menambang satu Bitcoin, seorang Investor harus mengeluarkan biaya sebesar 4.600 dollar AS atau sekitar Rp. 57 juta sedangkan apabila ingin menjual kembali hanya sekitar kurang dari 3.500 dollar AS atau sekitar Rp. 48 juta.

Perbedaan harga tersebut tentu sangat merugikan bagi para investor karena biaya yang mereka keluarkan tidak sebanding dengan hasil yang mereka dapatkan. Karena hal inilah banyak investor yang menarik uang mereka dan tidak lagi menggunakan Bitcoin.

Meskipun demikian, masih banyak investor yang tetap menggunakan bitcoin karena adanya perbedaan harga yang ada. Di China, para investor bisa membeli Bitcoin dengan harga yang murah sekitar 2.400 dollar AS. Kesepakatan yang terjadi antara investor dengan perusahaan listrik membuat harga Bitcoin relatif lebih murah.

JP Morgan menganalisis apabila hal ini terus berlanjut maka hanya para investor dari China yang akan bertahan untuk terus melakukan transaksi namun untuk para investor yang lain tidak akan bertahan lama karena biaya yang dikeluarkan dan diprediksi biaya marjinal untuk menambang Bitcoin akan terus menurun hingga kurang dari 1,260 dollar. (MSL)

 

LEAVE A REPLY