Berkah Perayaan Natal Bagi Rakyat Indonesia

Oleh. Muh.Suyanto

 

Google

Tidak terasa sebentar lagi hari natal dan tahun baru 2018 segera hadir.  Natal adalah waktu yang paling dinantikan oleh Kristiani bahkan orang non-Kristen sekalipun. Dikarenakan ketika datangnya Natal memberikan berkah kepada seluruh umat seperti berkah dalam menjual pernak pernik Natal, dan berkah untuk menjalin silaturahmi antar umat beragama. Bisa di bayangkan bagaimana indahnya penjual mukenah dan peci juga dibarengi dengan menjual topi dan pernak pernik berbau sinterklas.  Natal, peristiwa yang satu ini pastilah kaya makna, terutama bagi umat Kristiani. Karena itu, gereja memperingati dan merayakannya setiap tahun, supaya kekayaan maknanya terus-menerus memaknai kehidupan kita. Sebenarnya, kapan pertama kali umat Kristiani memperingati dan merayakan Natal? Jawabannya, tergantung umat Kristiani yang mana. Umat Kristiani di Mesir, misalnya, konon mulai merayakan Natal pada abad ke-3, tanggalnya 6 Januari, bertepatan dengan suatu hari raya umum. Namun, Gereja Roma Katolik sendiri mulai memperingati Natal pada akhir abad ke-4, tanggalnya 25 Desember. Selanjutnya, tanggal itu pun diikuti oleh gereja-gereja di tempat-tempat di Indonesia sampai dengan sekarang. Jadi, dihitung-hitung, tradisi memperingati dan merayakan Natal di Indonesia sudah cukup tua usianya. Sudah lebih dari enam belas abad, yang menjadi pertanyaan, setelah lebih dari enam belas abad diperingati dan dirayakan, apakah masih terjalinnya kerukunan dan berkah Natal bagi masyarakat Indonesia ?

Pertanyaan ini perlu dibedah satu per satu, Ternyata, setiap suku dan daerah punya caranya sendiri untuk merayakan Natal  Walaupun acara Natal biasanya Identik dengan oarang kristiani akan tetapi di beberapa daerah ternyata Natal dijadikan ajang keberagaman seluruh umat beragama. Seperti terlihat

Bali – “Ngejot” dan “Penjor”

Bali memang menjadi provinsi dengan penganut Hindu terbesar di Indonesia, tapi keberagaman juga terasa di sana. Beberapa warga yang Kristiani merayakan Natal dengan tradisi “Ngejot”, yang merupakan perayaan berupa membagikan bingkisan atau makanan pada tetangga. Perayaan ini membagikan ke siapa saja dengan menu khas Bali . Selain itu, umat kristiani juga akan memasang “Penjor” di rumah dan gereja. Hal tersebut serupa dengan umat Hindu yang merayakan Galungan.

Yogyakarta – Wayang Kulit “Kelahiran Kristus”

Sebuah pentas Wayang Kulit disaksikan warga Kristiani di Yogyakarta. Bukan Wayang Kulit biasa, tapi ini berkisah tentang lahirnya Yesus Kristus. Selain itu perayaan juga dilaksanakan di Gereja dengan berdoa bersama untuk Yesus. Sama seperti perayaan Idul Fitri, masyarakat Batak juga menyembelih kerbau atau hewan kurban lainnya. Uniknya, hewan-hewan kurban ini merupakan hasil menabung dan patungan warga selama beberapa bulan. Dengan tujuan meningkatkan rasa kebersamaan antar warga, tradisi ini ditutup dengan bagi-bagi daging sembelih dan makan bersama.

Papua – Bakar Batu

Sering disebut juga sebagai tradisi Barapen, perayaan ini berupa memasak bersama warga sekitar. Berbagai lauk dan dagingpun dimasuk. Lalu dari mana sebutan “Bakar Batu”? Batu dibakar dengan hasil kayu yang digesek terus menerus hingga memercikkan api.  Tradisi ini menunjukkan bahwa setiap orang mengucap rasa syukur atas kebersamaan, kemampuan mereka dan dapat saling berbagi serta mengasihi sesama.

Bukannya sangat indah bukan.?? , Hal tersebut memberikan gambaran untuk kita bagaimana perlunya kita saling menjaga keberagaman antar umat beragama. Indonesia bisa menjadi satu karena sifat toleransi, saling peduli dan saling menolong, hal tersebut perlu kita perlihatkan ketika moment Natal kali ini. Bagaimana tidak.?? Paham paham yang intoleran mulai masuk ke Indonesia dengan mengkikis jiwa Pancasila kita.   Lain hal seperti masalah Genosida Rwanda Akibat Media Penyebar Kebencian. Dimana Suku Hutu benar-benar ingin menghabisi seluruh Suku Tutsi dan untuk itu, mereka membuat gerakan propaganda agar seluruh suku Hutu terlibat dalam pembantaian suku Tutsi. Hal tersebut terjadi karena propaganda yang di buat oleh musuhnya. Jika benar terjadi di Indonesia tidak dapat dibayangkan beberapa agama saling menyerang dan mengelompok menjadi satu sehingga seluruh masyarakat menjadi antek antek propaganda. Yang mana perlu kita lanjutkan Apakah Indonesia dengan keberagaman Suku, Agama, dan Ras yang menjadi satu untuk menjaga Pancasila atau kita menjadi jongos jongos propaganda asing yang ingin memecah belah kita??. Itu menjadi tanggung jawab kita bersama. Jika kita ingin menjadi satu Indonesia kita cukup menjaga warisan leluhur yang diberikan kepada kita. Saling membangun komunikasi agar terjalinya sinergritas di atas perbedaan. Dengan momentum Natal ini kita jadikan berkah faktor perekat bagi seluruh rakyat Indonesia. Saling mengawasi saling menjaga dan Saling menghormati, itulah jati diri rakyat Indonesia dan Jati diri Bangsa.

TINGGALKAN BALASAN