Belajar Merawat NKRI Dari Kesultanan Tidore

Rakyat Maluku Utara sudah banyak mati untuk NKRI.

Dari kiri, Asisten II Wali Kota Tidore Kepulauan Asrul Sani, Sultan Tidore, H. Husain Sjah Alting, Wakil Sekretaris Jenderal GP Ansor Pusat Muhammad A. Idris, dan Ketua GP Ansor Maluku Utara Salim Thaib bersama [Foto: Muh. A. Idris]

Ternate,Semarak.news—Penyeberangan Tim Kirab Satu Negeri dari GP Ansor menggunakan kapal kayu dari Pelabuhan Bastiong, Kota Ternate menuju Pulau Tidore, Selasa kemarin (2/10/2018), terbayar lunas. Dari Kesultanan Tidore, GP Ansor banyak belajar bagaimana cara merawat NKRI.

“NKRI harga mati rasanya tidak cocok dipakai di Maluku Utara” ucap Sultan Tidore H. Husain Sjah Alting dengan penuh kharisma di balai pertemuan sebelah utara kedaton, “rakyat kami sudah sering mati untuk NKRI.” Itulah kearifan lokal yang selalu dijaga semenjak Sultan Nuku melawan Belanda hingga ia wafat, saat ini, dan nanti.

Pernyataan tersebut membuat sebagian besar rombongan Kirab Satu Negeri terpaku. Bagaimana tidak, gaung “NKRI harga mati” sudah sering terdengar bagi rakyat-rakyat Indonesia yang berada di pusat. Tetapi Maluku Kie Raha memiliki kekhasannya.

Itulah cara merawat NKRI a la Kesultanan Tidore, ujar Sultan, harus disesuiakan dengan kearifan lokal. Setiap daerah memiliki karakteristik masing-masing dan tidak bisa diimplementasikan di daerah lainnya. Arek-arek Jawa Timur “punya cara tersendiri dalam merawat NKRI, begitu pula dengan lainnya,” tambah Sultan.

Banyak benteng-benteng menjadi saksi sejarah perjuangan rakyat Jazirah Maluku dalam mengusir penjajah. Lalu di sisi selatan Kedaton Kesultanan Ternate, tak sampai 500 meter terdapat Benteng Tahula buatan Spanyol yang pernah dipakai untuk mempertahankan diri dari Belanda.Lalu banteng itu dijadikan hak milik Kesultanan Tidore pada masa Sultan

Hamzah Fahroedin. Sebagai bentuk simbolis mengenang heroiknya perjuangan masyarakat Maluku Utara, tim Kirab Satu Negeri dari GP Ansor Maluku Utara melaksanakan pengibaran 17 Bendera Merah Putih di atas banteng yang dibangun pada 1610 itu.

Jojou (Perdana Menteri) Kesultanan Tidore, M. Amin Faarouq juga menegaskan bahwa filosofi Bendera Merah Putih itu berasal dari Kesultanan Tidore. “Merah darah membasahi tanah, putih kain membalut diri,” ucap jojou. Ia beranggapan saat Soerkarno diasingkan, ia pernah dipenjara bersama seorang petinggi dari Keslutanan Tidore, lalu dari petinggi itulah ia belajar bagaimana merawat bangsa ini.

Di lain sisi Sultan juga berharap agar Maluku Utara mendapat hak otonomi khusus. Tidak hanya Yogyakarta yang pernah menjadi ibu kota pemerintahan darurat saat Agresi Militer Belanda I sehingga layak mendapat otonomi khusus. Saat kemerdekaan, Kesultanan Tidore juga pernah memberikan sepertiga wilayahnya kepada NKRI.

“Semoga GP Ansor dapat menyampaikan hal ini kepada pemerintah pusat. Hadirnya otsus di Maluku utara akan menjadi semangat lebih untuk merawat NKRI.” pesan Sultan Tidore kepada rombongan Kirab Sat Negeri sebelum meninggalkan balai pertemuan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Agama Tidak Berbenturan dengan Nasionalisme

Sementara itu, seorang ibu yang duduk di baris dua ruas sebelah kiri sudah siap untuk bertanya. “Sebetulnya apa yang diributkan di pusat?” tanya ibu berkerudung itu Kepada Muhammad A. Idris saat sesi tanya jawab, “di Maluku Utara kami hidup damai dan tidak pernah terdegar isu tersebut.”

Kelompok minoritas di Indonesia, jawab Idris, telah mampu memanfaatkan teknologi dan berusaha untuk mengganti ideologi bangsa. Dia menjelaskan bahwa Pancasila mau diganti dengan nilai-nilai radikalisme yang bibit-bibitnya mulai muncul dari sekolah dasar hingga tingkat perguruan tinggi. Kelompok seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tidak bisa memahami antara agama dan nasionalisme sehingga menimbulkan permasalahan.

Maluku Utara khususnya Kesultanan Tidore telah memberi bukti bahwa nasionalisme selaras dengan agama. Saat penyerahan Bendera Merah Putih di Kedaton Ternate, Sultan menerima dengan baik. “Dengan nama Allah dan Rasulullah, semoga merah-putih ini menjadi rahmat,” ucap Wakil Sekretaris Jendral GP Ansor Pusat, Muhammad A. Idris saat menceritakan bagaimana Sultan Ternate menerima Bendera Merah Putih.

Lelaki asal Kudus ini berpesan agar anak-anak Tidore tidak putus sekolah. Pendidikan merupakan cara terbaik untuk meneruskan perjuangan bangsa. Organisasi seperti GP Ansor, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) harus mampu turun untuk melakukan pengkaderan agar putra-putri terbaik Maluku Utara dapat akses pendidikan yang layak.

“Harus dilakukan pengkaderan agar mereka juga bisa dikirim ke perguruan tinggi Jawa. Harapannya mereka mampu mewujudkan nasionalisme, membangun daerah tempat mereka tinggal, serta mampu menghindari radikalisme.” Katanya. (MDZ)

TINGGALKAN BALASAN