Apakah Konflik Suriah akan Terus Bereskalasi?

Suriah menjadi arena adu kekuatan antara AS dan Rusia [Tribunnews.com]

Pada awal Februari, media barat memberitakan bahwa Amerika Serikat (AS) memimpin serangan terhadap Wanger PMC, tentara bayaran Rusia. Jumlah korban berbeda yang dirilis tiap pihak, Bloomberg melaporkan ratusan, dan Kemenlu Rusia menyatakan jumlah yang lebih kecil dan menggarisbawahi bahwa warga negara Rusia banyak yang terluka.

Serangan tersebut bermotif perebutan sumber gas dan minyak bumi di Deir-ez Zor, daerah yang seharusnya tidak jatuh ke tangan pihak oposisi, terutama pihak Kurdi. Hal ini muncul dari pemikiran untuk merestorasi Suriah dibawah kekuasaan Presiden Bashar Al-Assad. Iran dan Rusia memegang teguh pandangan ini. Alasan tersebut dapat dipahami, karena kepemimpinan siapapun yang menguasai sumber daya tersebut akan mengatur jalanannya negosiasi.

Setelah kekalahan ISIS, AS membuat kesepakatan dengan Kurdi, walaupun menimbulkan risiko dalam hubungannya dengan Turki. Kurdi harus menjadi oposisi utama Assad, kecuali jika memburuknya perang melawan Kurdi lebih berbahaya dari pada dengan ISIS. Kurdi merupakan salah satu pasukan besar yang melawan ISIS. Bagaimana bisa Damaskus saat ini melawan mereka?

Kurdi dianggap oleh beberapa pihak sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari oposisi Suriah. Dalam waktu yang bersamaan, Assad tidak berniat dan tidak bisa meninggalkan post Presiden. Dia merupakan penjamin keberadaan pasukan Rusia di wilayah Arab, Ia juga penjamin axis Syiah, sebuh proyek yang secara de facto diketuai Iran. Sebagai tambahan, perginya Ia sebagai victorious president akan menurunkan moral tentara dan memunculkan gelombang eskalasi baru sehingga semakin memecah Suriah. Tentara Suriah percaya jika peran mereka selama ini jauh lebih penting dari pada peran Rusia dan Iran.

Alasan lainnya, yakni Rusia kemungkinan ingin mendirikan markas militer di Deir-ez Zor untuk memonitor aktivitas AS di sekitar Irak dan secara bersamaan menjaga proyek-proyek Iran.

Rencana taktis Suriah, Rusia, dan Iran sejalan dengan posisi Turki. Melawan pasukan Kurdi, Recep Tayyip Erdogan siap mengembangkan hubungan dengan Iran dan Rusia. Dan pilihan apa yang Ia punya? Terlanjur terlibat dalam konflik ini, Erdogan tidak bisa keluar tanpa menanggung konsekuensi. Maka dalam tahap ini, Ia butuh sekutu yang apabila tidak memberi dukungan, setidaknya tidak mengintervensi dan mengutuk keputusannya. Bagaimanapun, harus dipahami bahwa saat isu sensitif ini tertutup, jalan menuju persekutuan ad-hoc tersebut akan terbelah.

Apa saat ini?

Saat ini ada informasi baru tentang transfer generasi terbaru pesawat tempur Rusia SU-57 ke pangkalan udara Hemeimeem, setidaknya Intelijen Israel mengindikasikan hal ini. Saat waktu yang bersamaan, Rex News melaporkan bahwa pesawat tempur Rusia telah melakukan serangan di Ghouta Timur, Suriah, yang mana menimbulkan korban jiwa sekitar dua ribu tentara AS yang beroperasi sebagai kontraktor militer swasta. Ada pula laporan yang belum terkonfirmasi bahwa pasukan Arab Saudi juga terkena serangan itu.

Informasi itu belum terkonfirmasi. Media Suriah bisa saja secara sengaja melebih-lebihkan. Namun bagaimanapun, transfer pesawat tempur bisa menghasilkan konsekuensi yang serius.

Rusia dan AS Menggandakan

AS menetapkan misi utama untuk tidak memperbolehkan Iran mendapat tempat di kawasan dengan bantuan Suriah. Ketakutan jelas. Hubungan antara AS dan Iran jauh dari membaik. Semakin kuatnya Iran dapat menyebabkan reaksi berantai di kawasan, memprovokasi Arab Saudi dan Israel. Tapi hal paling utama, menguatnya Iran dapat merugikan geoekonomi AS.

Uni Eropa (UE) sangat terbuka untuk membeli minyak dan gas dari Iran. AS sebagai gantinya menyarankan UE untuk menahan keinginan mereka dan tetap memilih gas cair dari AS. Dalam kasus kemenangan Iran di Suriah, UE akan dengan cepat merestart hubungan dengan Iran.

Itulah mengapa pandangan UE terhadap hal yang terjadi di Suriah cenderung ambigu. Pemimpin UE bergeser dari retorika ‘Assad harus pergi’ menjadi lebih menahan diri.

AS tidak bisa menghindar dari kegelisahan tentang kekuatan Rusia bila krisis Suriah terselesaikan dalam keuntungan Rusia dan Iran, yang kepentingannya adalah menjaga Assad sebagai Presiden. Meningkatnya pengaruh Rusia secara umum di Timur Tengah bisa secara serius mengubah rule of the game yang ada.

Rusia dan AS punya kepentingan yang dipertaruhkan. Dalam kasus ini konfrontasi langsung antara militer AS dan Rusia sangat tidak mungkin. Sebagai gantinya, mereka akan memanfaatkan kekuatan pasukan lokal. Hal ini tidak berarti perang dunia ke-3, namun konflik antara banyak negara dan pasukan dapat menjadi pendahulunya.

Siapa melawan siapa?

Saat ini, negara yang dapat menciptakan koalisi regional paling stabil bisa muncul sebagai juara. Nampaknya AS saat ini sedang bekerja dengan Turki. Namun tidak berarti akan membangun hubungan yang lebih baik, karena AS belum siap meninggalkan Kurdi.

Arab Saudi juga memainkan peran vital. Itulah mengapa perjuangan diplomatik Saudi sedang berlangsung. Iran menawarkan kerjasama dalam hubungan dengan Irak. Presiden Rusia berdiskusi dengan Raja Salman tentang situasi di Suriah. Bagaimanapun, jika informasi dari media Suriah tentang serangan Rusia adalah benar, maka pasukan pro-Saudi terkena dampaknya pula. Hal ini akan secara signifikan merubah kesepakatan yang telah dicapai dengan Saudi.

Israel telah mencapai red line, pada 10 Februari, pasukan udara Israel menyerang 12 instalasi (termasuk militer) Iran dan Suriah di Suriah. Juru bicara Pentagon, Adrian Rankine-Galloway mengatakan bahwa AS sepenuhnya mendukung aksi itu namun menambahkan jika AS tidak terlibat dalam operasi tersebut.

Sebagai tambahan, gelombang baru dari krisis Suriah membawa kepada pemikiran bahwa sangat mungkin jika masalah Korea Utara yang tiba-tiba memburuk dapat menarik perhatian Cina dan Rusia. Sehingga pada akhirnya, krisis Suriah tetap tidak stabil dan menyebabkan perlombaan senjata dan konflik baru di dunia. Bahkan jika tidak ada konflik langsung antara Rusia dan AS, kejadian semacam itu bisa jadi tidak dapat diprediksi. Apakah kita siap untuk era tersebut? Mungkinkah pemimpin atau negara yang telah bersiap melangkah mundur hari ini di Suriah bukan menunjukan kelemahan, namun kebijaksanaan?

Tulisan ini merupakan karya Nadana Fridrikhson yang dimuat di laman Nationalinterest.org pada 27 Februari 2018, diterjemahkan oleh Noviandy Putra Nugraha.

TINGGALKAN BALASAN