Antisipasi Ancaman Proxy War

Ilustrasi proxy war (sumber: indonesia.tempo.co)

Jakarta, Semaraknews.com – Konflik antar masyarakat suatu negara sudah biasa terdengar di telinga kita. Seperti yang terjadi di Suriah, Libya, dan negara lain di timur tengah. Hal itu bukan semata-mata keinginan masyarakat negara tersebut, melainkan banyaknya kepentingan negara-negara lain yang mempunyai tujuan untuk menguasai negara-negara tersebut. Konflik tersebut biasa disebut dengan istilah proxy war. Menurut KASAD Jenderal TNI Gatot Nurmantyo: “Proxy war adalah sebuah konfrontasi antara dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan untuk mengurangi risiko konflik yang berisiko kehancuran fatal.”

Proxy war merupakan bagian dari modus perang asimetrik, sehingga berbeda jenis dengan perang konvensional. Perang asimetrik bersifat irregular dan tak dibatasi oleh besaran kekuatan tempur atau luasan daerah pertempuran. Menurut Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, ancaman Perang Proksi itu sangat membahayakan Indonesia karena negara lain yang memiliki kepentingan tidak langsung berhadapan. Selain itu perang ini cukup menakutkan lantaran musuh tidak diketahui. Kalau melawan militer negara lain, musuh mudah dideteksi dan bisa dilawan.

Proxy war biasanya dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Yang bertindak sebagai pemain pengganti adalah negara kecil, namun kadang pemain itu bisa pula berupa non-state actors, seperti LSM, Ormas, kelompok masyarakat atau perorangan. Inilah yang dialami Indonesia saat ini, sangat banyak permasalahan internal yang menghambat kemajuan bangsa ini.

Sebenarnya proxy war telah terjadi sejak lama di Indonesia. Menurut Gatot contoh yang paling jelas dari proxy war adalah lepasnya Timor Timur dari Indonesia (tahun 1999). Ada apa di balik upaya melepaskan Timor Timur dari Indonesia? Ternyata ada yang menginginkan ladang minyak Greater Sunrise di Celah Timur. Sebuah buku tentang isu itu ditulis oleh orang Australia yang menjadi penasihat (mantan Presiden Timor Leste dan mantan pemimpin pemberontak Fretilin) Xanana Gusmao.

Untuk diketahui, kini ladang minyak Greater Sunrise dikuasai oleh perusahaan migas asal Australia, Woodside Petroleum. Jadi sudah jelas siapa yang melakukan proxy war terhadap bangsa ini pada waktu itu. Bahkan sekarang lebih banyak lagi negara yang mengancam Indonesia, karena dengan alasan banyaknya sumber daya alam sehingga memancing negara lain terutama negara besar untuk menguasai negara ini.

Dengan banyaknya ancaman proxy war terhadap negara ini, maka harus ada langkah antisipasinya. Salah satunya yaitu dengan cara berfikir kritis terhadap sebuah permasalahan, sehingga ketika ada permasalahan di negara ini seharusnya didalami terlebih dahulu supaya masyarakat tidak mudah terprovokasi dan dapat diperoleh solusi dari permasalahan tersebut. (IFB)

TINGGALKAN BALASAN