GEREJA YANG DIGERAKAN OLEH ROH KUDUS

GEREJA YANG DIGERAKAN OLEH ROH KUDUS

0
23

(Sebuah kajian reflektif Diakonia Transformatif)

Oleh : Mando Kolimon

“Gereja bukanlah gedungnya melainkan gereja adalah orangnya” ini adalah sebuah penggalan kalimat yang selalu kita dengar dalam setiap kita mendengar ataupun membaca renungan dari para pendeta maupun rohaniawan lainya. Penggalan kalimat ini menunjukan kepada kita bahwa orang atau manusia adalah gereja itu sendiri.

Ketika kita berbicara tentang gereja yang dipimpin oleh roh kudus maka ada banyak hal yang dapat kita angkat dan kita pelajari. Dalam tulisan ini saya fokus pada salah satu hal yakni gereja yang digerakan oleh roh kudus adalah gereja yang berbagi dengan orang lain. (Ban. Kisrah para rasul 2:44-47).

Berbagi dengan orang lain artinya gereja harus selalu hadir dan berbagi dengan semua manusia yang berada dalam keadaan susah. Gereja harus mampu memberi dari kekurangan, gereja tidak boleh takut rugi dalam memberi kepada jemaat ataupun umat lainnya.

Dalam kita bergereja kita kenal dengan namanya pelayanan Diakonia. Pelayanan daikonia biasanya dilakukan oleh gereja sebagai wujud gerja berbagi kasih atau memberi kepada jemaat ataupun umat yang berada dalam keadaan rentan ataupun susah.

Ketika kita berbicara tentang pelayanan diakonia maka ada berbagai macam bentuk pelayanan daikonia yang harus kita ketahui bersama.

1. Diakonia Karitatif adalah salah satu bentuk pelayanan tua (tradisional) yang dilakukan dengan memberi bantuan secara langsung kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti memberi makan, menghibur orang sakit, memberi pakaian dll. Bentuk diakonia ini masih dilakukan oleh gereja dari dulu sampai dengan sekarang.

2. Diakonia Reformatif adalah bentuk pelayanan yang dilakukan dengan cara memberikan fasilitas dan keterampilan-keterampilan tertentu bagi kelompok-kelompok yang dibantu. Diakonia reformatif ini lebih menekankan pada aspek pembangunan, pendekatan yang dilakukan adalah dengan community development, seperti pembangunan pusat kesehatan, penyuluhan, bimas, dan koperasi. biasa juga ini disebut Diakonia Pembangunan (era tahun 60-70) an.

3. Diakonia Transformatif adalah bentuk pelayanan yang  gereja lakukan dengan mengembangkan bentuk diakonia karitatif dan diakonia reformatif.

Diakonia Transformatif dikenal juga dengan istilah Diakonia Pembebasan yang bersumber pada kelompok masyarakat bukan individu. Dalam diakonia transformatif, upaya pemberdayaan, penyadaran, penglibatan dan pengorganisasian oleh jemaat juga masyarakat menjadi kata kunci. Hingga masyarakat tersebut memiliki rasa percaya diri. Menolong masyarakat hingga mampu dan mandiri dalam mengelola dirinya. Dengan demikian masyarakat sendiri dapat dan mampu serta menghadapi dan melawan ketidakadilan melalui kemampuannya sendiri.

Diakonia Transformatif bertujuan untuk mewujudkan perubahan total dalam fungsi dan penampilan kehidupan bermasyarakat, yakni perubahan yang terjadi dalam seluruh aspek kehidupan manusia (aspek politik, sosial, dan ekonomi), dan juga membebaskan rakyat kecil dari belenggu ketertindasan struktural yang tidak adil. Selain itu, tujuan jangka panjang dari bentuk diakonia seperti ini ialah perubahan sosial budaya (socio-culture transformation) dan politik jangka panjang. Bentuk diakonia seperti ini ditujukan bagi masyarakat yang terdiskriminasi, tersingkirkan, dan terbuang dari tatanan sosial-masyarakat.

Diakonia Transformatif  lebih bersifat preventif (pencegahan), menjunjung tinggi keadilan, mewadahi partisipasi jemaat/masyarakat, menganalisis persoalan kemiskinan dengan kacamata sosial, melakukan penyadaran dan mengorganisasi masyarakat atau jemaat. Manfaat dari adanya partisipasi jemaat/masyarakat ialah jemaat/masyarakat dengan sukarela memberikan dirinya, tenaga bahkan dana untuk kegiatan tersebut. Mereka menjadi “pemilik bersama”, bertanggungjawab bersama dalam memeliharanya.

Diakonia transformatif merupakan sebuah sikap di mana seseorang itu mengubah keegoisan manusia menjadi lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Seperti yang diungkap oleh Pdt. Em.Josef Purnawa Widyatmadja,M.Th dalam seminar yang bertemakan “ Diakonia Transformatif: Tantangan dan Panggilan Gereja di Era Globalisasi”.

Diakonia transformatif bukan berarti sekadar memberi makan, minum, pakaian, pembangunan, dan seterusnya, namun bagaimana bersama masyarakat atau jemaat memperjuangkan hak-hak hidup seperti hak makan, minum, pakaian, nafas, kerja, lingkungan yang sehat, yang telah hilang karena dirampas oleh pihak lain atau yang menindas.

Dalam melakukan diakonia itu harus dibingkai dengan Kasih Kristus. Dalam pelaksanaan diakonia transformatif bisa dimulai dari diri sendiri.

Menurut Pdt. Em.Josef Purnawa Widyatmadja,M.Th bahwa diakonia transformatif bukan hanya dilakukan di gereja-gereja tetapi bisa dilakukan di lingkungan masyarakat.

“Diakonia itu sebuah sikap di mana kita tidak memikirkan untung dan rugi tetapi lebih kepada gerakan yang didasari ketulusan”

Diakonia bukan hanya sekadar memberi ikan (karitatif/ sementara) atau sekadar memberi pancing, memberikan modal (Reformatif) tetapi memberdayakan sumber daya manusianya (transformatif).

Dalam hal ini dibutuhkan peran gereja dalam melaksanakan gerakan diakonia transformatif tersebut. Pada hakikatnya gereja bukan sekadar gedung tetapi di sana ada gerakan pelayanan (diakonia). Gereja ada untuk orang lain, maksudnya berakar dalam Kristus dan berbuah di tengah dunia. Gereja bertumbuh bukan buat diri sendiri tetapi ada buat orang lain.

Peranan gereja harus ada peran diakonianya di sana. “Gereja bisa hidup tanpa gedung tetapi gereja tidak bisa hidup tanpa diakonia,” (Pdt. Em.Josef Purnawa Widyatmadja,M.Th)

Untuk itu maka “Orang yang mau berdiakonia atau melayani sesama adalah orang yang mau dipimpin oleh Roh kudus”

“Gereja yang mau digerkan oleh Roh Kudus adalah Gereja yang mau memberi atau berbagi (berdiakonia)” bandingkan Kisah Para Rasul 2:44-47)

Kiranya dengan momentum hari pentakosta ini, kita semuanya dapat digerakan oleh Roh Kudus untuk menjadi gereja yang mau berdiakonia untuk memberdayakan ekonomi jemaat hingga jemaat yang bersangkutan mandiri dan bermanfaat untuk orang lain.

Kiranya sedikit tulisan yang belum terlalu sempurnah ini menjadi berkat bagi kita semua. Selamat hari Pentakosta, Tuhan Yesus memberkati kita sekalian. (*)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY